LESUNG PIPI SANG
BIDADARI
Kasih Ibu kepada
beta
Tak terhingga
sepanjang masa
Hanya memberi
tak harap kembali
Bagai Sang Surya
menyinari dunia
Sepotong
lirik lagu yang dahulu acap kali aku senandungkan di taman kanak-kanak. Lirik
lagu yang pertama kali diajarkan oleh Ibu guru kepada anak didik Beliau.
Sekarang Aku menyadari bahwa sepenggal lirik lagu tersebut syarat akan makna
yang mendalam. Aku dapat merasakan betapa dalamnya kasih sayang seseorang yang
melahirkanku di dunia 22 tahun yang lalu. Beliau yang mengandungku selama 9
bulan, berlinang air mata dan ribuan tetes peluh hanya demi merawat, menjaga,
dan menjadikan aku manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Sungguh aku
merasa beruntung terlahir dari rahim Beliau. Bagiku kelahiranku di dunia ini sudah
menjadi anugrah yang terindah dan dari sinilah aku belajar untuk mengarungi
manis pahit kehidupan demi membanggakan Beliau kelak.
Tiba-tiba Aku teringat pengalaman di
masa kecil yang masih jelas dalam memoriku. Di saat aku masih sangat
membutuhkan Beliau, ternyata Allah telah mengirimkan adik kecil nan mungil
untuk menjadi teman dalam keseharianku. Sayangnya, di saat itu aku merasa bahwa
kehadirannya di dunia ini kelak akan mengurangi jatah kasih sayang dan perhatian
Ibuku terhadapku. Aku akan sulit mendapatkan kasih sayang dari Beliau, tidak
selalu dimanja, dan bahkan akan diduakan dengan dia. Pada saat itu aku ingat
jelas bahwa ketika ibu menggendong adikku, aku merasa iri dan benci. Bagiku hal
itu amat sangat manusiawi bahwa seorang anak merasa takut jika tidak mendapat
kasih sayang dari seseorang yang setiap saat kita butuhkan. Namun, tanpa aku
sadari ternyata Ibuku adalah sosok bidadari yang luar biasa. Di sela-sela
kesibukan bersama adik kecilku, Beliau tetap bisa membagi waktu untukku.
Seperti memandikan aku di sore hari, mengajak aku jalan-jalan, bahkan menjadi
pendongeng menjelang tidur. Sedikit potret yang bisa aku ingat dari jasa Beliau
yang tak pernah pamrih itu.
Menjadi seorang anak kecil itu
adalah masa dimana kita bisa mengekspresikan segalanya dengan apapun yang ada
didekat kita. Misalnya, ketika seorang anak kecil memegang alat tulis, aku
yakin tembok putih yang tak berdosa itu kerap kali menjadi korban ke-anarkisan
dia. Tak hanya tembok, namun segala hal yang ada didekatnya akan menjadi umpan
lezat bagi dia mengekspresikan diri. Sering kali aku juga melakukan hal yang
sama. Dulu, aku ingat betul, ketika aku bermain-main, tak sengaja aku melihat di
depanku ada snowman marker warna
merah milik ayahku. Snowman marker yang
tergeletak tak berdaya tersebut seperti melambai-lambai kepadaku seraya
memintaku untuk membangkitkannya dari posisi awal. Tanpa pikir panjang, aku pun
segera menghampiri si merah penuh gairah tersebut. Setelah si merah ada di
tangan, mataku seketika berbinar-binar melihat tumpukan kertas yang ada di
sebelah selatan meja kerja ayahku. Secepat kilat aku mengambil beberapa
tumpukan kertas itu. Dengan sedikit ber-jinjit,
akhirnya aku pun bisa meraih beberapa lembar kertas. Ahh….. aku langsung saja
mengajak snowman marker menari-nari
di atas kertas yang semuanya adalah milik ayah. Sayang, tak lama kemudian ayah
pulang dari kantor dan menyadari akan perbuatanku. Seketika ayah menarik tangan
mungil ini dan memarahiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku takut dengan nada
keras ayah yang penuh dengan ledakan emosi. Tak lama kemudian, Ibu pun datang
menghampiri dan mendinginkan suasana. Ibu menjelaskan duduk permasalahan,
bahkan ibu mengatakan bahwa ibu yang ceroboh karena tak menyadari bahwa aku
bermain-main di area kerja ayah. Ibu rela membelaku agar ayah memaklumi
kekhilafan ini. Oh…. Ibu. Ku lihat senyum teduh tergambar jelas dari dua
lekukan di pipi Ibu. Sorot mata penuh dengan rasa ingin melindungi diwarnai
dengan tutur kata yang menyejukkan hati mampu menenangkan hatiku. Perlahan aku
terdiam dari tangis dan ku dekap Ibu selalu. Itulah lesung pipi sang bidadari
yang tak pernah hilang di kala badai menerpa. Lesung pipi yang menjadi isyarat
bahwa semuanya akan baik-baik saja, serta lesung pipi ibu yang senantiasa kunanti
sebagai tanda ini bukanlah kesalahan yang fatal.
Kini aku sadar, bahwa inilah cara ibu untuk
memberikan kasih sayang kepadaku. Kasih sayang yang jauh lebih besar dari
seorang Ibu. Bahkan sampai usiaku yang sudah menginjak kepala dua ini, aku
yakin aku tak akan mungkin bisa membalas semua jasa dan pengorbanan tulusmu. Ibu…..
sungguh kau bidadariku hatiku. Selamanya…..!