Rabu, 16 September 2015

Tema: Goresan Cinta untuk Bunda

LESUNG PIPI SANG BIDADARI
Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia

                Sepotong lirik lagu yang dahulu acap kali aku senandungkan di taman kanak-kanak. Lirik lagu yang pertama kali diajarkan oleh Ibu guru kepada anak didik Beliau. Sekarang Aku menyadari bahwa sepenggal lirik lagu tersebut syarat akan makna yang mendalam. Aku dapat merasakan betapa dalamnya kasih sayang seseorang yang melahirkanku di dunia 22 tahun yang lalu. Beliau yang mengandungku selama 9 bulan, berlinang air mata dan ribuan tetes peluh hanya demi merawat, menjaga, dan menjadikan aku manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Sungguh aku merasa beruntung terlahir dari rahim Beliau. Bagiku kelahiranku di dunia ini sudah menjadi anugrah yang terindah dan dari sinilah aku belajar untuk mengarungi manis pahit kehidupan demi membanggakan Beliau kelak.
            Tiba-tiba Aku teringat pengalaman di masa kecil yang masih jelas dalam memoriku. Di saat aku masih sangat membutuhkan Beliau, ternyata Allah telah mengirimkan adik kecil nan mungil untuk menjadi teman dalam keseharianku. Sayangnya, di saat itu aku merasa bahwa kehadirannya di dunia ini kelak akan mengurangi jatah kasih sayang dan perhatian Ibuku terhadapku. Aku akan sulit mendapatkan kasih sayang dari Beliau, tidak selalu dimanja, dan bahkan akan diduakan dengan dia. Pada saat itu aku ingat jelas bahwa ketika ibu menggendong adikku, aku merasa iri dan benci. Bagiku hal itu amat sangat manusiawi bahwa seorang anak merasa takut jika tidak mendapat kasih sayang dari seseorang yang setiap saat kita butuhkan. Namun, tanpa aku sadari ternyata Ibuku adalah sosok bidadari yang luar biasa. Di sela-sela kesibukan bersama adik kecilku, Beliau tetap bisa membagi waktu untukku. Seperti memandikan aku di sore hari, mengajak aku jalan-jalan, bahkan menjadi pendongeng menjelang tidur. Sedikit potret yang bisa aku ingat dari jasa Beliau yang tak pernah pamrih itu.
            Menjadi seorang anak kecil itu adalah masa dimana kita bisa mengekspresikan segalanya dengan apapun yang ada didekat kita. Misalnya, ketika seorang anak kecil memegang alat tulis, aku yakin tembok putih yang tak berdosa itu kerap kali menjadi korban ke-anarkisan dia. Tak hanya tembok, namun segala hal yang ada didekatnya akan menjadi umpan lezat bagi dia mengekspresikan diri. Sering kali aku juga melakukan hal yang sama. Dulu, aku ingat betul, ketika aku bermain-main, tak sengaja aku melihat di depanku ada snowman marker warna merah milik ayahku. Snowman marker yang tergeletak tak berdaya tersebut seperti melambai-lambai kepadaku seraya memintaku untuk membangkitkannya dari posisi awal. Tanpa pikir panjang, aku pun segera menghampiri si merah penuh gairah tersebut. Setelah si merah ada di tangan, mataku seketika berbinar-binar melihat tumpukan kertas yang ada di sebelah selatan meja kerja ayahku. Secepat kilat aku mengambil beberapa tumpukan kertas itu. Dengan sedikit ber-jinjit, akhirnya aku pun bisa meraih beberapa lembar kertas. Ahh….. aku langsung saja mengajak snowman marker menari-nari di atas kertas yang semuanya adalah milik ayah. Sayang, tak lama kemudian ayah pulang dari kantor dan menyadari akan perbuatanku. Seketika ayah menarik tangan mungil ini dan memarahiku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku takut dengan nada keras ayah yang penuh dengan ledakan emosi. Tak lama kemudian, Ibu pun datang menghampiri dan mendinginkan suasana. Ibu menjelaskan duduk permasalahan, bahkan ibu mengatakan bahwa ibu yang ceroboh karena tak menyadari bahwa aku bermain-main di area kerja ayah. Ibu rela membelaku agar ayah memaklumi kekhilafan ini. Oh…. Ibu. Ku lihat senyum teduh tergambar jelas dari dua lekukan di pipi Ibu. Sorot mata penuh dengan rasa ingin melindungi diwarnai dengan tutur kata yang menyejukkan hati mampu menenangkan hatiku. Perlahan aku terdiam dari tangis dan ku dekap Ibu selalu. Itulah lesung pipi sang bidadari yang tak pernah hilang di kala badai menerpa. Lesung pipi yang menjadi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja, serta lesung pipi ibu yang senantiasa kunanti sebagai tanda ini bukanlah kesalahan yang fatal.

Kini aku sadar, bahwa inilah cara ibu untuk memberikan kasih sayang kepadaku. Kasih sayang yang jauh lebih besar dari seorang Ibu. Bahkan sampai usiaku yang sudah menginjak kepala dua ini, aku yakin aku tak akan mungkin bisa membalas semua jasa dan pengorbanan tulusmu. Ibu….. sungguh kau bidadariku hatiku. Selamanya…..!


                                                                  SEKIAN