PACARKU SALES,
PINTER NGELES
Well.
Namaku Olivia Pradana. Aku dua bersaudara dari pasangan Tn.Tanto Pradana dan
Ny. Sari Pradana. Biasa nih Bapak, Ibu, Adik, Eyang, Om, Tante, semua
teman-teman, dan siapapun aja manggil Aku dengan nama depanku yang disingkat
menjadi “Ovi”. Semula…tidak ada yang spesial dari perjalanan cintaku. Namun,
ternyata Allah mengajakku berselancar didalam kehidupan asmara ini. Haha. Kalau
inget kaya gini sih, rasanya kaya bernostalgia. Seperti membuka files yang
sudah berumur ratusan tahun, usang bahkan rayapan. Tapi, okelah nggak apa-apa.
Semoga curhatan ini sedikit banyak bisa menginspirasi untuk semua pihak baik
laki-laki ataupun perempuan. Insyallah ya readers. Amin.
Awal kejadian ini ketika Aku masih duduk di kelas 3
SMP. Memang masih bau kencur sih. Hehehe. Jadi, ceritanya tuh Aku sudah selesai
mengikuti UAN SMP dan hari itu Aku memang sengaja untuk bergegas pulang ke
rumah. Tujuannya tak lain dan tak bukan yaitu menyiapkan berkas-berkas yang
nantinya akan Aku gunakan untuk mendaftar di salah satu SMA di wilayah tempat
tinggalku. Singkat cerita, ketika Aku selesai menyiapkan berkas-berkasku dan
berencana untuk membeli map di sebuah kedai dekat rumah, tiba-tiba ada seorang
laki-laki dengan mengendarai sebuah motor, berhenti mendadak dan hampir
menabrak sepedaku. Aku pun terkejut dan menatapnya dengan tajam. Namun, tak
lama kemudian dia turun dari sepeda motornya seraya menghampiriku mungkin untuk
meminta maaf atas kesalahannya. Tapi, kenyataannya malah tidak sama sekali.
Justru dia bertanya,”Ibuknya ada Dik? Nambah orderan nggak?. Hah…semula Aku
fikir dia akan meminta maaf lalu berkenalan seperti di ftv-ftv yang pernah Aku
tonton. Hehe. Karena masih tercengang atas pertanyaan yang meluncur dari
mulutnya, Aku pun sedikit lama menjawabnya. Dia pun bertanya lagi,”Nambah nggak
Dik?”. Dengan sedikit terkejut, Aku pun
menjawab,”Tunggu sebentar ya. Ibuku ada di belakang. Tunggu dulu. Ok fix”.
Lalu, Aku pun berlari ke belakang dan memanggil ibuku.
Perlu diketahui bahwa Ibuku mempunyai pekerjaan
sambilan. Beliau itu wonder woman menurutku. Selain menjadi ibu rumah
tangga yang bekerja melebihi direktur perusahaan khususnya di PRT alias
perusahaan rumah tangga, tapi Beliau juga memiliki kesibukan yaitu berniaga.
Ibuku mempunyai usaha kecil-kecilan yang menjual berbagai kebutuhan rumah
tangga, bensin, bahkan rokok. Kebetulan, lelaki tersebut adalah seorang sales
rokok keliling. Seumur-umur membantu Ibu berjualan, baru pertama kali Aku
berjumpa dengan lelaki itu. Pertama, ada hal yang berkesan ketika berjumpa
dengan dia. Haha. Ceilee…kayaknya ada yang lagi kasmaran nih. Haha. Nggak juga
sih sebenarnya, Cuma ketika bertemu dan sempat menatapnya, ada impression yang
beda aja. Dia itu bak Menara Eiffel, kaya yogurt rasa plain dalam
kemasan, nggak beda jauh dengan tampang cowok cover boy, dan senyumnya itu
semanis coklat. Haha. Itu sepintas dari kaca mataku ketika berjumpa di pertemuan
ketidak sengajaan tersebut. Setelah itu, Aku pun pergi menyelesaikan urusanku
tanpa memikirkan dia lagi.
Dari pertemuan yang Aku rasa adalah pertemuan pertama
dan terakhir kali dengannya, ternyata itu malah berbalik 180’. Hal itu
melainkan awal kita saling mengenal satu dengan yang lain. Secara tidak sengaja
ketika Aku sudah resmi menjadi pelajar putih abu-abu, tepatnya di hari raya
ke-enam Idul Fitri, pertemuan kedua pun sempat singgah dalam perjalanan
hidupku. Tak disangka, semula Aku fikir dia menganggap biasa-biasa saja, tapi
ternyata dia merindukan pertemuan kita dulu. Pertemuan pertama itu bisa
dikatakan ketidak sengajaan, tapi biasanya untuk yang kedua dan selanjutnya itu
adalah takdir. Haha. Seneng banget rasanya bisa bertemu dengannya kembali. Tak
disangka bisa menatap tatapan lembut tersebut. Ciiie…Ovi hampir kena cupid nih.
Setelah itu, kita pun mulai menjalin sebuah kedekatan
melalui telepon dan pesan singkat (sms). Hampir setiap hari, kami tidak lupa
saling mengingatkan, bercanda, dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Tak
lebih dari dua bulan setelah pertemuan yang kedua, dia pun mengutarakan isi
hatinya kepadaku. Doooorr…..si cupid cuwitz datang deh. Hehe. Karena
kelembutan, kebaikan, dan keindahan rangkaian kata-katanya, Aku pun mulai
menaruh hati padanya. Lalu, kami pun resmi menjadi sepasang kekasih yang
dihujani cinta dan kasih sayang. Duh….bahagianya kami saat itu. Dunia ini
serasa milik berdua. Haha.
Selama menjalin hubungan cinta dengannya, setiap Sabtu
malam kita selalu menghabiskan waktu berdua di taman kota. Kita saling
bercanda, tertawa, dan menikmati keindahan malam bersama-sama. Setiap harinya,
hampir tidak pernah telat bunga mawar dan sedap malam selalu singgah di
rumahku. Makanan kesukaan, minuman favorit, bahkan pernak-pernik kesukaanku
selalu berjejalan di kamar tidurku. Semua itu adalah bukti kesungguhan hatinya
menjalin hubungan denganku. Bersama dia, Aku laksana seorang putri yang di atas
awan. Apapun yang Aku sukai, dia berusaha menurutinya. Bersyukur sekali saat
itu bisa menjalin hubungan dengan dia meski memang pekerjaannya hanya seorang
sales rokok keliling.
Sayangnya selama kami menjalani hubungan, Bapakku
tidak tahu menahu hubungan kami. Dia pun juga tidak pernah main ke rumahku.
Jadi, kalau misalkan kita hendak ketemuan, dia hanya mampir di toko depan rumah
atau main ke rumah nenekku yang sudah berbeda wilayah. Saat itu, menurutku hal
seperti itu bukanlah masalah pelik. Yang terpenting, kami saling mencintai dan
selalu berusaha membahagiakan satu sama lain. Yaa..namanya pacaran ala putih
abu-abu. Tahunya ya cuma gitu doang. Haha. Tapi, Aku sama sekali tidak merasa curiga
kepada dia kenapa setiap Aku ajak main ke rumah, dia selalu ngeles. Ntah dia
tergesa-gesa, sakit perut, bahkan sempat beralasan mamanya sakit.
Sempat ketika suatu malam kita pergi hang out,
Aku memulai percakapan dengannya. Topik malam itu tentang seorang cowo yang
selingkuh dengan cewe lain dan cewe itu adalah sahabat pacarnya sendiri. Saat
itu Aku berkata,”Sayang, tahu nggak sih? Kasian banget temenku. Dia
diselingkuhin pacarnya dengan sahabat cewenya sendiri. Tuh, lelaki nggak ngerti
perasaan cewe apa! Seenak jidat mainin hati orang. Kalau belum kena karma, tuh
cowo belum tahu rasa!. Menurut kamu kalau ada cowo kaya gitu, enaknya diapain
ya Sayang?”. Setelah Aku ngomong panjang kali lebar, si dia sama sekali tidak
merespon. Hening dan sunyi. Selang beberapa detik, Aku memulai percakapan
dengan meluncurkan sebuah pertanyaan konyol,”Maaf..Sayang, kamu juga cowo yang
suka selingkuh ya?”. Seketika dia menjawab,”Ya Ampun…nggak lah Sayang. Aku cowo
baik-baik. Ceweku cuma kamu dan nantinya kalau kamu sudah lulus SMA, Aku pengen
ngajak kamu married”. Aku pun
terkejut dan menimpalinya,”Yang bener Sayang? Serius… hahaha. Aku seneng banget
deh dengernya. Thanks ya Sayang. Aku sayang kamu bingo. I love you”. “I love
you too”, jawabnya sambil mengendarai sepeda motor bebek miliknya. Sebelum
sampai di tempat makan, Aku pun sempet ngomong sama dia,”Sayang, jangan
selingkuhin Aku ya”. Dan dia hanya menoleh kepadaku dan tersenyum simpul.
Leganya hatiku. Kami pun menghabiskan malam itu dengan penuh suka cita.
Tak terasa hubungan kami sudah berjalan 1 bulan.
Ketika hendak masuk bulan kedua, tak disangka pohon asmara kita mulai tumbang.
Benih-benih perselisihan, perbedaan komitmen pun mulai bertaburan dalam asmara kita.
Hampir setiap hari kita ribut masalah sepele. Dan yang lebih parah lagi, setiap
problematika dalam hubungan kita selalu dipicu olehnya. Seperti ketika Aku
pergi ke sekolah, tiba-tiba di tengah perjalanan dia menelponku. Namun, Aku
tidak bisa mengangkat teleponnya karena Aku masih harus mengikuti kegiatan
belajar di kelas. Kemudian ketika jam istirahat, Aku menghubunginya kembali.
Tahukah kalian? Belum sempat Aku mengucap salam, dia tiba-tiba membobardirku
dengan pertanyaan-pertanyaan tuduhan yang memojokkanku. Aku pun tidak terima
karena Aku merasa bahwa Aku tidak bersalah. Dia menuduhku bahwa Aku
melupakannya, Aku sudah tidak peduli dengan dia, bahkan dia mengatakan kalau
Aku tidak bisa mengangkat teleponnya karena ada cowo lain di dekatku. Sungguh
Aku tidak menyangka mengapa dia tega menuduhku. Setelah Aku mengalah, menerima
umpatan dan makiannya, pertengkaran pun selesai.
Suatu hari saat Aku bertemu dan jalan dengan dia, Aku
menanyakan mengapa dia tega berkata kasar di hari itu. Dia pun menjawab,”Sorry
Sayang. Kemarin Aku lepas kontrol. Aku mau curhat sama kamu kalau Aku tiba-tiba
dipecat sama bosku. Aku nggak punya pekerjaan lagi. Aku nggak tahu Aku salah
apa, tapi katanya Aku difitnah sama rekan sejawatku sendiri. SAKITNYA TUH DI
SINI!” Sambil nunjuk hatinya dan merebahkan kepalanya di pundakku, dia
mengungkapkan segala kepenatan hatinya. Aku pun berusaha
menguatkannya,”Sayang…istighfar ya. Yang sabar…insyallah Allah akan memberikan
pekerjaan yang lebih baik dari pada ini. Insyallah ya Sayang. Lagi pula, mama
kamu kan masih di luar negeri. Kalau kamu butuh pekerjaan, kamu bisa ikut bantu
mama di perusahaannya”. Namun, dengan sontak dia berdiri tegap dihadapanku dan
menjawab,”Aku nggak mau!. Kenapa kamu paksa Aku kerja bareng sama Mama? Mama
itu lebih percaya asistennya, bukan sama Aku. Lagi pula Aku mau ngebuktiin ke
Mama kalau Aku bisa sukses tanpa harus kerja bareng di perusahaan Mama!. Udah,
Aku pulang aja dari pada bad-mood kaya gini. Kamu nggak ngertiin Aku!.
Aku pun menahannya dan meminta maaf atas kesalahan kata-kataku. Ohh…ternyata
cowo ku sensitif banget. Ok fix, Aku harus lebih sabar lagi.
Setelah kejadian tersebut, Aku nggak bisa menghubungi
dia lagi. Tepat satu hari sebelum tahun baru, Aku pusing tujuh keliling mencari
dia. Hampir setiap hari Aku mencoba menghubungi nomor hapenya, ternyata nggak
aktif. Nomor hape temannya juga nggak aktif, bahkan Aku coba dateng ke rumahnya
juga nggak ada orang. Aku pun mulai mempunyai fikiran negatif. Dalam hati Aku
bertanya-tanya,”Sayang, kamu dimana sih? Kenapa AKu digantungin gini? Apa
salahku? Apa karena saranku waktu itu? Tapi kenapa selama hampir dua minggu
kamu nggak ngehubungin Aku? Ya Allah…lindungilah Sayang. Amin”.
Tak disangka, ketika Mama, kakak, dan Tanteku pergi ke
rumah dia, mereka melihat dia sedang menggendong anak kecil. Mereka mencoba
menguping pembicaraan dia dan anak kecil tersebut. Sempat terdengar anak kecil
itu memanggil dia dengan panggilan,”Papa”. Tak lama, anak kecil itu berkata, “Papa…Papa…Ayo
Pa, pergi sekarang. Panggil Mama”. Karena saking penasarannya, keluargaku
datang menghampiri dia. Mamaku langsung bertanya,”Siapa dia? Kenapa dia panggil
kamu “Papa”?. Dia pun mencoba menjelaskan, tapi ternyata dia sudah tak berdaya.
Dia kaget atas kedatangan keluargaku. Tak lama kemudian, seorang perempuan
kira-kira berusia 21 tahun keluar dari dalam kamar. Dia berkata,”Papa…sudah
ambil kontak mobilnya? Adik sama Papa? Ayo berangkat”. Tanteku yang sudah
tersulut emosi, langsung datang dan melabrak perempuan tersebut. Pertikaian pun
tidak dapat terhindarkan.
Ternyata selama ini, orang yang Aku cinta, puja, dan
Aku fikir dia adalah lelaki terakhir dalam hidupku ternyata adalah seorang
pembual kelas kakap. Selama 2 bulan, Aku berhasil jatuh dalam tipu dayanya.
Yang lebih parah lagi, Aku hanya dijadikan sebagai bahan taruhan dia dengan
teman-temannya. Pantes pekerjaannya adalah seorang sales. Dia pun sosok lelaki
yang pinter ngeles. Hampir 3 tahun Aku belum bisa move-on dari dia. Aku
terpuruk, nilai sekolahku jatuh, Aku jarang masuk sekolah, males makan dan Aku
males dengan lelaki. Luka yang ditorehkannya terlalu dalam di hatiku. Ketika
masuk di tahun keempat, tepatnya ketika Aku mulai menjadi seorang mahasiswa,
Aku pun mulai mengubah jalan fikiranku. Tidak sepantasnya Aku harus terpuruk
dalam kesedihan yang tidak menguntungkan ini. Aku pun mulai menata hidupku
kembali. Aku mengikuti berbagai perlombaan sesuai hobiku, Aku hampir tidak
pernah bolos kuliah, Aku welcome dengan lelaki, ibadah semakin Aku tingkatkan,
Aku tidak menyiksa diriku sendiri, tidak cengeng dan yang pasti Aku harus lebih
selektif lagi jika ingin mencari pasangan hidup nantinya. Ya… zaman sekarang
bukan saatnya untuk stuck. Lebih cepat move-on, itu lebih baik.
Yang paling penting juga, jangan pernah memusuhi dia yang sudah menyakiti perasaanmu
melainkan jadikan perjalanan cinta dengan dia itu adalah lilin yang menerangi
mata dan fikiran kita. Lebih baik tersesat sebelum menikah, dari pada menyesal
setelah sah menjadi istrinya. Serta, yakinlah Allah akan memberikan sosok
lelaki yang lebih baik dari dia. Ingat, perempuan baik hanya untuk lelaki yang
baik. So, let’s move on and keep fight!. Cinta….sorry, gue nggak takut
tuh jatuh cinta! Kau kan tetap Aku cari dan akan Aku dekap jika waktunya sudah
tiba. Tapi, sekarang PRESTASI AKU HARUS NOMOR SATU!
YEAH…MOVE ON OVI. THANKS GOD!
THE END