Senin, 27 Oktober 2014

Sepotong Kata Sederhana

S _  _  _ R

Kata yang menjadi highlight tulisan ini hanya terdiri dari 5 kata. Diawali huruf S dan diakhiri dengan huruf R. Mungkin siapapun kalian yang membaca tulisan ini akan menebaknya dengan kata, "SUBUR, SABAR, SOBAR, SAHUR, SIGAR, SADAR, dan S - - - R yang lainnya". It is okay. Tulisan ini bukan mengajak untuk bertebak-tebakan sih, namun semata-mata agar sama-sama memaknai sendiri apa maksud dari tulisan ini. Jadi, semua ini terlepas dari unsur mumetisasi (Viki's bolary lagi. Hehehe). 

Well, setiap manusia pastinya tidak akan terlepas dari sebuah problematika hidup. Ntah itu berhubungan dengan karir, asmara, rumah tangga, bahkan utang piutang sekalipun. Malah, tidak sedikit orang awam berkata,"Kalau tidak ingin dapat masalah, ya jangan hidup". Kalimat tersebut sederhana, akan tetapi syarat akan makna. Memang, setiap orang yang bernafas pasti menginginkan segala hal yang indah, nikmat, mewah, dan pastinya tidak merepotkan diri mereka sendiri. Akan tetapi, kehidupan seperti itu bak peribahasa "Cebol nggayuh lintang". Bahkan jikalau ada, mungkin apa yang ada di muka bumi ini hanya sederhana dan biasa-biasa saja. I can not imagine. 

Seperti yang Saya alami hari ini, cukup membuat Saya merasa sangat bersyukur dan menginstropeksi diri. Bersyukur kepada Illahi Rabbi karena telah mengizinkan Saya untuk menikmati lika-liku kehidupan ini. Hari ini benar-benar luar biasa untuk Saya. Ya... memang, apa yang kita fikirkan terkadang  tidak sesuai dengan pemikiran orang lain. Menurut mereka yang terbaik itu A, namun menurut Saya yang lebih baik itu F. Everything is going to happen. It is normal. Hmm...kejadian yang pertama ini bukan untuk yang pertama kainya dalam petualangan hidup Saya. Bahkan sudah biasa sebenarnya. Namun, untuk yang kedua ini cukup menegangkan bagi Saya. Ketika kita berniat baik untuk membantu dan menjalankan amanah sebaik mungkin, tapi niat itu ditolak secara kasar dan acuh. Sakitnya tuh di sini (sambil gigit kaki (permen kaki) maksudnya. hehe). Tapi, mau bagaimana pun juga ya...kita juga harus sadar, bahwa mereka itu masih golden age. Itulah salah satu sisi yang mungkin bisa membuat Saya sedikit berfikir, "Oh..begini rasanya menjadi seorang pengajar. Tidak bisa disalahkan kalau guru-guru Saya dulu sempat bla-bla-bla. Jadi guru itu kuncinya juga belajar S_ _ _ R". Dan itu juga Saya rasakan. 

Semoga saja setiap perjalanan hidup ini, bisa mengajari Saya untuk menjadi insan yang lebih baik. Saya percaya bahwa setiap perjalanan hidup ini, pasti akan bermuara di muara yang paling indah. Allah akan menunjukkan mutiara itu jika sudah tiba waktunya. Insyallah...

Tulungagung, 27 Oktober 2014
20.42 

Kamis, 23 Oktober 2014

Bukan Sebuah Kebetulan

BUKAN SEBUAH KEBETULAN

Apa yang Saya alami ini seyogyanya bukan lah sebuah kebetulan semata. Skenario hidup ini memang benar-benar pas. Tidak akan ada siapapun orang yang bisa membuat skenario sesempurna ini. Ya.. hanya Allah-lah yang Maha Segalanya dan sekarang pun Saya benar-benar bisa merasakan akan kuasa-Nya yang begitu luar biasa. Subhanallah . 

Tulisan ini muncul tatkala Saya mendapatkan kabar gembira mengenai studi S1 Saya. Sangat sederhana. Semua mengalir tanpa Saya sadari. Cerita ini memang alurnya flashback. Jadi, tak aneh lagi bila Saya sedikit membuka-buka file masa lampau di mesin tanpa batas (otak) ini. Hehehe.

Baik, cerita pertama diawali ketika Saya hendak mengikuti tes pmdk (awal sebelum masuk perkuliahan) di kampus IAIN Tulungagung (dulunya tahun 2011 masih STAIN Tulungagung). Pada saat itu, dosen penguji sekaligus penjaga ketika test berlangsung yaitu Mr.Susanto. Untuk pertama kalinya Saya bertemu dengan seorang pendidik yang memiliki nama dengan grade yang lebih tinggi. D.O.S.E.N. Nama yang mampu menyihir orang yang semula biasa menjadi luar biasa. Ya... untuk pertama kalinya Saya bertemu dengan Bapak DOSEN. Kesan pertama Saya saat itu, yaitu berharap nantinya Saya bisa mengais ilmu di kampus ini apalagi diajar oleh Beliau. Cerita berhenti sampai di sini dan ditutup dengan harapan sederhana. 

Kedua, pada saat perkuliahan sedang berlangsung, tak disangka bahwa Beliau yang dulunya menjadi penguji Saya, ternyata juga menjadi salah satu dosen yang mengajar di kelas Saya. Pada saat itu, di awal semester 1. Beliau mengajar mata kuliah speaking. Sontak, Saya terkejut karena tidak menyangka bahwa Saya akhirnya diajar langsung oleh dosen yang Saya temui pertama kali itu. Saat itu, Saya merasa bahwa Beliau adalah dosen yang unik. Cara mengajar Beliau yang penuh dengan kekonyolan dan kekocakan, selalu saja mampu menggelitik dan mengundang gelak tawa. Setiap pertemuan, Beliau selalu berusaha menjadikan suasana belajar menjaar yang tegangi menjadi santai tapi tetap serius. Menurut kaca mata Saya, Beliau itu benar-benar dosen yang anti ketegangan. Belum lagi sisipan-sisipan perjalanan hidup Beliau yang unik dan kocak selalu menjadi menu renyah di tengah-tengah pembelajaran berlangsung.

Yang ketiga, pada saat Saya duduk di semester 5, Saya iseng mencoba mengajukan proposal penelitian kepada Mr.Susanto juga. Tidak tahu kenapa, nama Beliau merupakan satu-satunya nama yang terlintas di benak Saya setelah Saya menyelesaikan proposal penelitian Saya. Awalnya, proposal penelitian ini Saya gunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah di semester 5. Akan tetapi, Saya berfikir tidak ada salahnya Saya konsultasikan kepada Mr.Susanto. Akhirnya, Saya pun mengkonsultasikannya kepada Beliau.

Kelima, bertemu Beliau lagi pada saat Saya hendak test PPL-KKN ke Thailand. Beliau adalah salah satu dosen penguji pada saat microteaching. Amazing...untuk sekian kalinya perjalanan studi Saya, Beliau selalu hadir meramaikannya. Terimakasih ya Allah.  

Keenam, inilah salah satu dari sekian potret pengalaman Saya. Jadi, ketika Saya mengikuti program PPL-KKN ke Thailand 5 bulan yang lalu, Beliau adalah salah satu dosen yang menanyakan tentang kondisi dan kegiatan di sana. Satu hal yang membuat Saya sempat terkejut sekaligus penasaran, bahwa yang Saya tahu dari penuturan dosen-dosen yang lain, Mr.Susanto itu adalah dosen yang tidak gandrung dengan kemajuan sosial media di zaman sekarang. Beliau merupakan dosen yang tidak seperti dosen lain, yang memanfatkan sosial media sebagai life style. Nah, ketika Beliau muncul di salah satu sosial media (facebook), Saya sempat terkejut. tapi, hal itu juga memberi dampak positif yakni mempermudah kami berkomunikasi dalam jarak jauh. Yang masih membuat Saya penasaran sampai sekarang, "Apa yang membuat Beliau akhirnya bertekuk lutut pada sosial media?(hehehe Maaf, Sir. Tapi Saya benar-benar penasaran). But, everything is gonna be alright, Sir. 

The last, kemarin Saya tidak menyangka bahwa Beliau, Mr.Susanto yang akan menjadi dosen pembimbing skripsi Saya. Nah, dari sini lah akhirnya muncul pemikiran bahwa semua ini adalah skenario-Nya. Allah memberikan segala yang terbaik untuk hamba-Nya. Semoga ini menjadi puncak dari perjalanan studi S1 Saya yang berkesan. Di awal semester disambut oleh Mr.Susanto, di akhir studi pun juga ditutup dengan dibimbing oleh Mr. Susanto. Alhamdulilah.. terimakasih Tuhan. Memang ini bukan sebuah kebetulan, melainkan cerita perjalanan hidup Saya yang Engkau kemas secara special. Terimakasih Tuhan.... 

(Sebuah opini yang tidak bermaksud untuk menyakiti hati). 
Maaf, Mr.Susanto apabila ada salah kata. Hehehe.

kampus IAIN Tulungagung, Belakang BAK 
10.19 a.m. , Oktober 24th 2014


Sabtu, 11 Oktober 2014

Tulisan lama, terkendala karena tak ada akses internet.

GARA-GARA SEPATU, TAK BISA MENJADI GURU
            Malam ini, Selasa 01 April 2014 di rumah nenekku tercinta, Aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Nyaris, berbeda 360’ dengan kehidupan di era serba canggih saat ini. Nenek Lamirah namanya. Beliau ternyata bukan orang sembarang orang. Maksudnya bukan berarti Beliau orang sakti, bukan, melainkan Beliau adalah pejuang yang keras menurut kaca mataku. Subhanallah. Tak terasa hati ini bergetar dan air mata menetes ketika mendengar cerita masa lalu Beliau yang begitu luar biasa. Sungguh ironis kehidupan Beliau di zaman dahulu sekitar tahun 1961.
Sebenarnya awal mula Beliau bercerita itu sangat simple. Beliau menanyakan tentang diriku yang akan melanjutkan studi ke sebuah negara yang tak pernah Aku duga sebelumnya  (Thailand, meskipun awalnya Beliau berkata di Amerika. Hehehe). Sangat sederhana bukan? Namun di balik kesederhanaan itu, ternyata mampu mengoyak-ngoyak memori puluhan tahun silam. Di sinilah, terlintas dibenakku untuk mendengarkan dengan seksama dan hatiku tergerak untuk menuliskan perjalanan hidup seorang nenek hebat itu. Mulailah tangan ini menuliskan segala yang Aku dengarkan barusan.
Dari hasil penuturan yang disampaikan secara lugas oleh nenek Lamirah tadi, banyak poin yang bisa Aku tangkap. Sampai-sampai, saking banyaknya Aku mulai bingung menuliskan hal apa terlebih dahulu. Ah..yang penting Aku menulis. Tak tahu nanti apakah akan membuat bingung para pembaca yang bersedia singgah unutk membaca tulisan ini atau malah mereka bisa memberi masukan kepadaku untuk membuat tulisan yang lebih tertata lagi. Sebelumnya, aku teringat terus kata-kata yang disampaikan oleh dosen favoritku, sebut saja Bapak Ngainun Naim (Dosenku Komunikasi Pendidikan di IAIN TULUNGAGUNG waktu semester IV) yang sangat luar biasa dengan gedoran kata-kata motivasinya. Satu hal yang tidak bisa Aku lupakan ketika Beliau meminta Kami untuk membuat resensi saat pertama kali perkuliahan, Beliau menulis di bawah resensiku “ANDA MEMILIKI POTENSI MENULIS, KEMBANGKAN DENGAN TERUS BERLATIH”. Aku merasa kata-kata itu memiliki sihir yang luar biasa, sehingga membuat Aku ingin selalu menulis. Namun, karena harapan tak sesuai kenyataan, terkadang Aku masih mendapati kebosanan, sehingga Aku lalai untuk menulis. Namun, malam ini Aku mencoba untuk menulis kembali. Ini kali pertama tulisanku Aku share melalui social media. Semoga saja bermanfaat. Amin. Maaf jika intronya terlalu panjang. Masih belajar juga. He he he.
Kembali ke nenek Lamirah tadi. Poin yang akan Aku bagikan kali ini yang sangat berkesan buatku, yakni tentang pendidikan Beliau. Latar belakang nenek Lamirah adalah seorang yang berasal dari golongan  menengah ke bawah. Apalagi di tahun 1947an, ekonomi Beliau sangatlah sulit. Di kehidupan yang serba terbatas tersebut, tepatnya di tahun 1956, Beliau memberanikan diri untuk mendaftar sekolah di SR (sekarang setara SD). Perlu digaris bawahi, nenek Lamirah mendaftar sekolah ini bukan karena dorongan orang tuanya. Orang tua nenek Lamirah sangat melarang nenek Lamirah untuk mendapatkan pendidikan. Mereka berfikir bahwa seorang perempuan itu tidak perlu belajar, apalagi mendapat pendidikan formal. Cukup membantu orang tua setiap harinya dan kalau sudah dianggap dewasa langsung dinikahkan. Namun, karena rasa hausnya terhadap ilmu itu, nenek Lamirah rela sekolah secara diam-diam meskipun pada akhirnya ketahuan juga.  
Untuk pergi ke sekolah, setiap harinya Beliau berjalan kaki tanpa memakai alas alias nyeker. Bisa kita bayangkan betapa sakitnya jemari kaki Beliau ketika berjalan menyusuri jalanan yang masih sangat rusak. Namun, Beliau menjalani dengan sabar dan penuh keikhlasan. Yang penting Aku bisa sekolah, itu katanya. Tidak hanya itu, ketika di sekolah, dibanding teman-temannya yang lain, Beliau adalah siswa yang sangat tidak mampu. Berdasarkan penuturan Beliau, ketika sekolah Beliau tidak pernah mampu membayar SPP. Jangankan SPP, membeli 1 buku tulis saja tidak ada uang. Kalau minta ke orang tua, siap-siap saja punggung akan dipukuli sampai merah-merah. Sungguh ironis sekali. Jadi, selama pendidikan kurang lebih 6 tahun, semua kebutuhan sekolah mulai dari buku, tinta, seragam sampai SPP ditanggung oleh sekolah. Beliau hanya bermodal 1 buku tulis untuk digunakan selama 6 tahun itu dan 1 kuas untuk menulis. Itu saja, Beliau juga harus bekerja untuk menjadi buruh hanya demi membeli 1 buku tulis karena ketika meminta, Beliau langsung mendappatkan pukulan dari orang tuanya. Kalau bukan karena kecerdasan Beliau, mungkin Beliau tidak bisa mendapatkan keistimewaan seperti itu dari sekolah. Memang dari prestasi, Beliau sangat luar biasa. Hanya bermodal 1 buku tulis selam 6 tahun, Beliau nyaris selalu mendapatkan nilai 9 dan 10. Sangat jarang dan hampir tidak pernah mendapatkan nilai 6 atau 7. Oleh karena itu, sekolah bisa memberi sedikit kemudahan agar nenek Lamirah bisa merasakan sekolah meski hanya beberapa tahun saja.
Tiba saat detik-detik menjelang ujian sekolah, Beliau juga menceritakan bahwa diantara semua siswa di SR, hanya nenek Lamirah lah yang memakai seragam yang sudah sangat tidak layak pakai. Bayangkan saja, semua teman-temannya minimal memakai seragam yang lumayan layak. Tapi tidak untuk nenek malang itu. Beliau rela memakai seragam yang atasannya sudah tembelan (lebih dari 12 tembelan) dan rok yang sudah lusuh, luntur, sobek-sobek layaknya kain gombal. Beliau tak menghiraukan ejekan teman-temannya, yang terpenting Beliau bisa mengikuti ujian. Sesungguhnya tak hanya seragam yang dikeluhkan, melainkan ada hal yang membuat ciut nyali nenek Lamirah. Yang namanya sekolah, ternyata meskipun zaman dahulu maupun zaman sekarang, berseragam lengkap itu sangat penting. Pada saat itu, nenek Lamirah tidak memiliki sepatu, sedangkan hari ujian sekolah sudah semakin dekat. Pihak sekolah pun meminta nenek Lamirah untuk membeli sepatu agar bisa mengikuti ujian sekolah seperti yang lainnya. Dengan ekspresi yang sangat memprihatinkan dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta sepatu kepada orang tuanya. Benar saja seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, Beliau merasakan pukulan rotan di bagian punggung. Meskipun menangis meronta-ronta, tetap saja orang tua nenek Lamirah tidak membelikan sepatu. Dengan penuh harapan yang begitu dalam, Beliau akhirnya memohon kepada pihak sekolah untuk mengikuti ujian yang terakhir kalinya. Dengan kebaikan hati para guru, beruntunglah nenek Lamirah diperbolehkan mengikuti ujian dengan seragam seadanya dan tanpa alas kaki juga.
Setelah ujian selesai dan hasilnya juga sudah keluar, ternyata tak disangka nenek Lamirah lulus dengan nilai terbaik di SR. Hanya 1 mata pelajaran yang mendapat nilai 6, yakni mata pelajaran desimal. Selain itu, semua nilainya antara 9 dan 10. Sehingga, pihak sekolah memberikan kesempatan kepada nenek Lamirah untuk menjadi guru setelah lulus dari SR. Hal itu membuat nenek Lamirah sangat gembira. Namun, lagi-lagi sepatu. Pihak sekolah sudah tidak bisa memberikan kemudahan lagi kepada Beliau. Jika memang Beliau menginginkan untuk menjadi seorang guru, Beliau harus memiliki sepasang sepatu. Mana mungkin seorang guru tidak bersepatu alias nyeker?. Padahal muridnya saja diusahakan untuk memiliki sepatu meskipun bekas. Kendala sepatu ini lah yang membuat nenek Lamirah bingung harus berbuat apa.
Sepulang sekolah, dengan mengumpulkan seluruh keberanian dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta restu dan juga meminta untuk dibelikan sepatu. Langsung saja, sebelum Beliau selesai berbicara, sebuah rotan meluncur di punggung Beliau. Hmm…betapa sakit ketika merasakan pukulan itu. Beliau hanya bisa menangis dan berdoa. Esoknya, Beliau memutuskan untuk menghadap pihak sekolah bahwa mungkin itu bukan rezeki Beliau dan Beliau pun harus mengikhlaskannya.
Itulah poin pendidikan yang bisa Aku dapatkan dari kilas memori pendidikan nenek Lamirah. Sungguh luar biasa bagiku. Hanya gara-gara tidak memiliki sepatu, beliau tidak bisa mengabdi untuk menjadi seorang guru. Namun, Beliau tetap menghormati orang tuanya dan mengambil hikmah dari semua peristiwa pilu ini.

 Hal ini mengingatkanku akan potret kehidupan yang nyaris berbeda dengan yang ada di era 2014 ini. Tak perlu dijelaskan kembali, anak zaman sekarang jarang sekali yang peduli tentang pendidikan. Sadarkah kita bahwa pendidikan itu dari dulu sangat penting?. Orang tak punya saja, mati-matian berjuang agar bisa merasakan indahnya pendidikan, bagaimana dengan orang yang berada? Sudah sepatutnya kita mengintropeksi diri, mencoba memahami semua hal yang sudah ada di depan mata. Siapapun kita, dimanapun kita berada, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Kita harus bersyukur, khususnya untuk pelajar yang ada di seluruh dunia tanpa terkecuali untuk lebih giat dalam mencari ilmu dan serius. Karena apa yang telah kita dapatkan ini sesungguhnya adalah anugrah luar biasa dari yang Maha kuasa. Jadi, hargailah dan berikan yang terbaik khususnya untuk mereka yang telah berjuang demi masa depan kita. Kalau bukan kita yang membalas jasa mereka, lantas siapa lagi?. #think_anymore. (19.40 - 21.34 WIB)

What is happen with "VEIL"?

TAKUT TAK LAKU KARENA BERJILBAB
   Kaum hawa adalah ciptaan Allah yang selalu dielu-elukan. Terlihat indah jika dipandang mata, selalu bertebar pesona, dan tak henti-hentinya memikat hati setiap pria. Apalagi ditambah dengan adanya perkembangan arus globalisasi yang semakin ekstrim khususnya di bidang fashion dan cosmetics rasanya semakin membius perempuan untuk semakin mempercantik diri demi mendapatkan kepuasaan duniawi.
 Seperti yang kita tahu bahwa sebaik-baiknya perempuan yakni  yang menutup aurat, menjaga pandangan, dan memelihara kemaluannya. Akan tetapi tidak semua perempuan akan mempunyai pemikiran yang seperti itu. Apalagi dengan adanya beragam keyakinan yang ada di negeri tercinta Indonesia, hal kecil seperti itu tak jarang luput dari pengamatan kita. Memang di era modern ini, marak sekali statement seperti “Cantik itu Harus Seksi, Cantik itu Berani Sakit, Cantik itu Aset Terpenting, Cantik itu Passion”. Dari sekian slogan di atas, cantik yang dimaksud  itu identik dengan kecantikan yang hanya dilihat dari sudut pandang fisik saja. Pendapat Saya tersebut Saya ambil dari keadaan konkret yang ada di sekitar kita. Berbagai macam klinik kecantikan, produk kecantikan, bahkan salon kecantikan semakin berjejal-jejalan. Hal itu mampu menghipnotis kaum hawa untuk tidak ragu-ragu mengeluarkan puluhan juta untuk mendapatkan treatment yang terbaik. Ironis ketika melihat konteks yang ada di zaman sekarang ini.
Bahkan ketika Saya merangkai tulisan ini, Saya terpancing dengan ungkapan yang dilontarkan oleh murid les Saya. Ada sebuah kalimat yang menggelitik dan ingin sekali Saya tulis di blog ini. Namun, sebelum Saya menulisnya harus diketahui bahwa tulisan ini bukan bermaksud untuk menyakiti pihak lain. Tulisan yang Saya buat ini murni dari unek-unek Saya mengenai kejadian beberapa hari yang lalu. Kronologi ceritanya, seperti hari-hari biasanya salah satu kesibukan Saya yaitu menemani adik-adik belajar di rumah mereka masing-masing. Pada saat itu, setelah kegiatan belajar Saya tutup, Saya menyanjung penampilannya hari itu yang nampak lugu dan apa adanya dengan kalimat,”Dik, kamu cantik lho kalo pake baju kaya gtu. Bahkan lebih cantik lagi kalau kamu pake jilbab“. Tiba-tiba dengan entengnya bocah kecil yang Saya ajar hari itu berkata,“Kak, kakakku bilang JANGAN PAKAI JILBAB, NTAR KAMU NDAK LAKU, Dik”. Sempat shock dan speechless ketika mendengar kalimat tersebut meluncur deras dari mulut mungil siswi kelas 1 SMP tersebut. Apalagi kalimat tersebut berasal dari kakak kandungnya sendiri. Bayangan Saya, apa yang akan terjadi pada psikologis anak berusia 13 tahun yang sudah dijejali statement yang bisa dikatakan meng-underestimate-kan jilbab. Lalu, didepan dia Saya hanya tersenyum dan mencoba menggali atas dasar apa dia melontarkan sebuah kalimat itu. Sayangnya dia tidak memberikan jawaban yang cukup memuaskan Saya. Ya..wajar sajalah karena dia juga masih berusia 13 tahun dan mungkin bagi dia kalimat tersebut sangat normal. Di saat Saya hendak berpamitan pulang karena adzan magrib sudah berkumandang, Saya pun tak lupa memberikan sebuah analogi sederhana yang sering kita dengar. Analogi seperti, “Jika kamu diminta untuk memilih sebuah kue tart yang harga, ukuran, rasa, bahkan model dan warnanya sama tapi di jual di tempat yang berbeda, dalam artian yang satu di jual di pinggir jalan raya dan satunya di jual di sebuah kedai roti branded, mana yang akan kamu pilih, Dik?”. Lalu, dengan lantangnya dia menjawab,”Jelaslah Miss, milih yang di toko branded. Secara rotinya sama, harga sama, lebih higienis, dan nampak cantik”. Kemudian secara otomatis, Saya mengatakan,”Sama seperti perempuan, Dik. Etalase itu adalah pelindungnya dan etalasenya perempuan itu ya jilbabnya. Mengapa? Karena dengan berjilbab, perempuan pun juga tidak jauh berbeda dengan kue yang di jual di kedai roti branded tersebut. Dia pun langsung tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya menutup aurat itu tidak akan menjauhkan kita dari jodoh kok. Allah juga sudah dhawuh kalau jodoh, hidup/mati, dan rezeki sudah diatur sebelum kita lahir di dunia ini. Jadi tidak perlu takut jika kita berjilbab, hal itu akan mengurangi pamor kita dan sulit untuk menemukan pasangan hidup. Tapi hal itu kembali kepada pribadi masing-masing bagaimana menyikapi potret ini. Jadi, sebelum memikirkan apa yang terjadi dengan orang lain, marilah kita menginstropeksi diri termasuk tentang ketakwaan kita kepada yang Maha Pencipta. Bagaimana dengan kita????
Gandong, 11 Oktober 2014

Firdha Yunita