GARA-GARA
SEPATU, TAK BISA MENJADI GURU
Malam
ini, Selasa 01 April 2014 di rumah nenekku tercinta, Aku mendapat sebuah
pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Nyaris, berbeda 360’ dengan
kehidupan di era serba canggih saat ini. Nenek Lamirah namanya. Beliau ternyata
bukan orang sembarang orang. Maksudnya bukan berarti Beliau orang sakti, bukan,
melainkan Beliau adalah pejuang yang keras menurut kaca mataku. Subhanallah. Tak
terasa hati ini bergetar dan air mata menetes ketika mendengar cerita masa lalu
Beliau yang begitu luar biasa. Sungguh ironis kehidupan Beliau di zaman dahulu
sekitar tahun 1961.
Sebenarnya awal mula Beliau
bercerita itu sangat simple. Beliau
menanyakan tentang diriku yang akan melanjutkan studi ke sebuah negara yang tak
pernah Aku duga sebelumnya (Thailand,
meskipun awalnya Beliau berkata di Amerika. Hehehe). Sangat sederhana bukan? Namun
di balik kesederhanaan itu, ternyata mampu mengoyak-ngoyak memori puluhan tahun
silam. Di sinilah, terlintas dibenakku untuk mendengarkan dengan seksama dan
hatiku tergerak untuk menuliskan perjalanan hidup seorang nenek hebat itu.
Mulailah tangan ini menuliskan segala yang Aku dengarkan barusan.
Dari hasil penuturan yang
disampaikan secara lugas oleh nenek Lamirah tadi, banyak poin yang bisa Aku
tangkap. Sampai-sampai, saking banyaknya Aku mulai bingung menuliskan hal apa
terlebih dahulu. Ah..yang penting Aku menulis. Tak tahu nanti apakah akan
membuat bingung para pembaca yang bersedia singgah unutk membaca tulisan ini
atau malah mereka bisa memberi masukan kepadaku untuk membuat tulisan yang
lebih tertata lagi. Sebelumnya, aku teringat terus kata-kata yang disampaikan
oleh dosen favoritku, sebut saja Bapak Ngainun Naim (Dosenku Komunikasi
Pendidikan di IAIN TULUNGAGUNG waktu semester IV) yang sangat luar biasa dengan
gedoran kata-kata motivasinya. Satu hal yang tidak bisa Aku lupakan ketika
Beliau meminta Kami untuk membuat resensi saat pertama kali perkuliahan, Beliau
menulis di bawah resensiku “ANDA MEMILIKI POTENSI MENULIS, KEMBANGKAN DENGAN
TERUS BERLATIH”. Aku merasa kata-kata itu memiliki sihir yang luar biasa,
sehingga membuat Aku ingin selalu menulis. Namun, karena harapan tak sesuai
kenyataan, terkadang Aku masih mendapati kebosanan, sehingga Aku lalai untuk
menulis. Namun, malam ini Aku mencoba untuk menulis kembali. Ini kali pertama
tulisanku Aku share melalui social media. Semoga saja bermanfaat.
Amin. Maaf jika intronya terlalu panjang. Masih belajar juga. He he he.
Kembali ke nenek Lamirah
tadi. Poin yang akan Aku bagikan kali ini yang sangat berkesan buatku, yakni
tentang pendidikan Beliau. Latar belakang nenek Lamirah adalah seorang yang
berasal dari golongan menengah ke bawah.
Apalagi di tahun 1947an, ekonomi Beliau sangatlah sulit. Di kehidupan yang
serba terbatas tersebut, tepatnya di tahun 1956, Beliau memberanikan diri untuk
mendaftar sekolah di SR (sekarang setara SD). Perlu digaris bawahi, nenek
Lamirah mendaftar sekolah ini bukan karena dorongan orang tuanya. Orang tua
nenek Lamirah sangat melarang nenek Lamirah untuk mendapatkan pendidikan.
Mereka berfikir bahwa seorang perempuan itu tidak perlu belajar, apalagi
mendapat pendidikan formal. Cukup membantu orang tua setiap harinya dan kalau
sudah dianggap dewasa langsung dinikahkan. Namun, karena rasa hausnya terhadap
ilmu itu, nenek Lamirah rela sekolah secara diam-diam meskipun pada akhirnya
ketahuan juga.
Untuk pergi ke sekolah, setiap
harinya Beliau berjalan kaki tanpa memakai alas alias nyeker. Bisa kita bayangkan betapa sakitnya jemari kaki Beliau
ketika berjalan menyusuri jalanan yang masih sangat rusak. Namun, Beliau
menjalani dengan sabar dan penuh keikhlasan. Yang penting Aku bisa sekolah, itu
katanya. Tidak hanya itu, ketika di sekolah, dibanding teman-temannya yang
lain, Beliau adalah siswa yang sangat tidak mampu. Berdasarkan penuturan
Beliau, ketika sekolah Beliau tidak pernah mampu membayar SPP. Jangankan SPP,
membeli 1 buku tulis saja tidak ada uang. Kalau minta ke orang tua, siap-siap
saja punggung akan dipukuli sampai merah-merah. Sungguh ironis sekali. Jadi,
selama pendidikan kurang lebih 6 tahun, semua kebutuhan sekolah mulai dari
buku, tinta, seragam sampai SPP ditanggung oleh sekolah. Beliau hanya bermodal
1 buku tulis untuk digunakan selama 6 tahun itu dan 1 kuas untuk menulis. Itu
saja, Beliau juga harus bekerja untuk menjadi buruh hanya demi membeli 1 buku
tulis karena ketika meminta, Beliau langsung mendappatkan pukulan dari orang
tuanya. Kalau bukan karena kecerdasan Beliau, mungkin Beliau tidak bisa
mendapatkan keistimewaan seperti itu dari sekolah. Memang dari prestasi, Beliau
sangat luar biasa. Hanya bermodal 1 buku tulis selam 6 tahun, Beliau nyaris
selalu mendapatkan nilai 9 dan 10. Sangat jarang dan hampir tidak pernah
mendapatkan nilai 6 atau 7. Oleh karena itu, sekolah bisa memberi sedikit kemudahan
agar nenek Lamirah bisa merasakan sekolah meski hanya beberapa tahun saja.
Tiba saat detik-detik
menjelang ujian sekolah, Beliau juga menceritakan bahwa diantara semua siswa di
SR, hanya nenek Lamirah lah yang memakai seragam yang sudah sangat tidak layak
pakai. Bayangkan saja, semua teman-temannya minimal memakai seragam yang lumayan
layak. Tapi tidak untuk nenek malang itu. Beliau rela memakai seragam yang
atasannya sudah tembelan (lebih dari 12 tembelan) dan rok yang sudah lusuh,
luntur, sobek-sobek layaknya kain gombal. Beliau tak menghiraukan ejekan
teman-temannya, yang terpenting Beliau bisa mengikuti ujian. Sesungguhnya tak
hanya seragam yang dikeluhkan, melainkan ada hal yang membuat ciut nyali nenek
Lamirah. Yang namanya sekolah, ternyata meskipun zaman dahulu maupun zaman
sekarang, berseragam lengkap itu sangat penting. Pada saat itu, nenek Lamirah
tidak memiliki sepatu, sedangkan hari ujian sekolah sudah semakin dekat. Pihak
sekolah pun meminta nenek Lamirah untuk membeli sepatu agar bisa mengikuti
ujian sekolah seperti yang lainnya. Dengan ekspresi yang sangat memprihatinkan
dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta sepatu kepada orang tuanya. Benar
saja seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, Beliau merasakan pukulan rotan
di bagian punggung. Meskipun menangis meronta-ronta, tetap saja orang tua nenek
Lamirah tidak membelikan sepatu. Dengan penuh harapan yang begitu dalam, Beliau
akhirnya memohon kepada pihak sekolah untuk mengikuti ujian yang terakhir
kalinya. Dengan kebaikan hati para guru, beruntunglah nenek Lamirah
diperbolehkan mengikuti ujian dengan seragam seadanya dan tanpa alas kaki juga.
Setelah ujian selesai dan hasilnya
juga sudah keluar, ternyata tak disangka nenek Lamirah lulus dengan nilai
terbaik di SR. Hanya 1 mata pelajaran yang mendapat nilai 6, yakni mata
pelajaran desimal. Selain itu, semua nilainya antara 9 dan 10. Sehingga, pihak
sekolah memberikan kesempatan kepada nenek Lamirah untuk menjadi guru setelah
lulus dari SR. Hal itu membuat nenek Lamirah sangat gembira. Namun, lagi-lagi
sepatu. Pihak sekolah sudah tidak bisa memberikan kemudahan lagi kepada Beliau.
Jika memang Beliau menginginkan untuk menjadi seorang guru, Beliau harus
memiliki sepasang sepatu. Mana mungkin seorang guru tidak bersepatu alias nyeker?. Padahal muridnya saja
diusahakan untuk memiliki sepatu meskipun bekas. Kendala sepatu ini lah yang
membuat nenek Lamirah bingung harus berbuat apa.
Sepulang sekolah, dengan
mengumpulkan seluruh keberanian dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta
restu dan juga meminta untuk dibelikan sepatu. Langsung saja, sebelum Beliau
selesai berbicara, sebuah rotan meluncur di punggung Beliau. Hmm…betapa sakit
ketika merasakan pukulan itu. Beliau hanya bisa menangis dan berdoa. Esoknya, Beliau
memutuskan untuk menghadap pihak sekolah bahwa mungkin itu bukan rezeki Beliau
dan Beliau pun harus mengikhlaskannya.
Itulah poin pendidikan yang
bisa Aku dapatkan dari kilas memori pendidikan nenek Lamirah. Sungguh luar
biasa bagiku. Hanya gara-gara tidak memiliki sepatu, beliau tidak bisa mengabdi
untuk menjadi seorang guru. Namun, Beliau tetap menghormati orang tuanya dan
mengambil hikmah dari semua peristiwa pilu ini.
Hal ini mengingatkanku akan potret kehidupan
yang nyaris berbeda dengan yang ada di era 2014 ini. Tak perlu dijelaskan
kembali, anak zaman sekarang jarang sekali yang peduli tentang pendidikan.
Sadarkah kita bahwa pendidikan itu dari dulu sangat penting?. Orang tak punya
saja, mati-matian berjuang agar bisa merasakan indahnya pendidikan, bagaimana
dengan orang yang berada? Sudah sepatutnya kita mengintropeksi diri, mencoba
memahami semua hal yang sudah ada di depan mata. Siapapun kita, dimanapun kita
berada, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Kita harus bersyukur, khususnya
untuk pelajar yang ada di seluruh dunia tanpa terkecuali untuk lebih giat dalam
mencari ilmu dan serius. Karena apa yang telah kita dapatkan ini sesungguhnya
adalah anugrah luar biasa dari yang Maha kuasa. Jadi, hargailah dan berikan
yang terbaik khususnya untuk mereka yang telah berjuang demi masa depan kita.
Kalau bukan kita yang membalas jasa mereka, lantas siapa lagi?. #think_anymore.
(19.40 - 21.34 WIB)