Jumat, 12 Desember 2014

Cendek

LAMUNAN RIRA
Oleh : Firdha Yunita N.A
Malam itu malam yang indah. Langit terlihat begitu ramai seperti keadaan di komedi putar. Yah…benar. Ramai karena begitu luar biasanya cahaya bintang yang mewarnai langit terang itu. Dan ternyata tanpa diduga, keelokan itu mampu menghayutkan Rira, gadis kecil yang berkulit sawo matang dalam imajinasinya…
“Ya Allah…mungkinkah aku menggapai langit indah-Mu dengan tangan kosong ini? Aku membayangkan…seandainya saja aku punya sayap, aku akan terbang tinggi menggapai semua anganku. Andai saja…,” kata Rira sambil duduk di atap rumahnya.
Biasanya ketika perasaan Rira mulai gelisah, dia langsung naik ke atas atap rumahnya. Kebetulan rumah Rira berlantai 2 sehingga untuk menjangkau atap rumah, Rira tidak begitu merasa kesulitan. Tak disangka ternyata Fata kakak perempuan Rira berdiri dibelakang Rira dan mendengar semua yang dikatakan oleh Rira.
“Rira sayang…!” sapa Fata dengan lembut. Seketika lamunan Rira pudar karena suara yang mengagetkannya.
Eh..loh ka…kaa..kakak Fata !” sahut Rira sambil terbata-bata karena saking kagetnya.
“Hehehe…adik ada masalah ?. Kakak Fata nggak ganggu adik kan?. Hehehe…” menjawab dengan tawa khasnya.
“Hmm…kakak Fata, adik kaget tau. Ngapain kakak disini?. Ngapain kakak ikutin Rira? Rira lagi pengin sendiri!” ungkap Rira dengan nada kecewa.
Kemudian Fata naik ke atap dan duduk di sebelah Rira. Mereka berdua terdiam sejenak. Mendongak ke atas langit dan melihat panorama alam yang begitu mewah. Angin malam pun tak mau ketinggalan dengan suasana seperti itu. Tenang, dingin, terang.
Intermezzo……..!
Akhirnya Fata pun mecairkan situasi,”Adik...suka bintang? (bertanya dengan kepala tetap menengadah keatas dan melihat bintang-bintang).
“Hah…suka banget kak. Rira malah pengen pergi kesana. Pasti enaaakkk banget yaa??? Hmm….” jawab Rira dengan penuh kepolosan.
“Iya….emang indah banget yaa dik. Rira yakin gaa kalau Rira bisa beneran pergi kesana? Rira bisa loo….!” Fata mulai untuk memberi stimulus pada Rira.
Seketika Rira menoleh,”Hehehe…mana mungkin??? Kak Fata mulai nglantur yaa? Kita bukan burung yang bisa terbang dan pergi ke berbagai tempat sekalipun tempat yang tinggi seperti bintang. Mana mungkin lahh kak! Kakak pasti cuma mengkhayal!.
“Kata siapa???? Hehhehe….Kakak juga tau kalau kita bukan burung & kita juga bukan roket atau apalah. Tapi Rira pernah berfikir nggak. Bayangkan aja kalau bintang itu adalah cita-cita yang kita dambakan dan kita akan berjuang sekeras mungkin untuk menggapainya. Anggap bahwa bintang adalah pijakan terakhir setelah kita berusaha keras. Bintang ada diatas dan tempat berpijak kita yaitu tanah adalah awal kita untuk menggapai bintang diatas sana. Bingung caranya??. Gampang!. Jadi fokuskan kemana langkah awal yang akan kita pilih. Lakukan sesuai dengan rencana kita. Lakukan setiap langkah dengan maksimal. Jangan pernah menyerah, mengeluh, bahkan berputus asa. Satu demi satu langkah kita lewati. Sedikit demi sedikit. Kita yakini bahwa setiap langkah yang telah kita lakukan secara sempurna, itu adalah kunci kita untuk menuju bintang itu. Kakak yakin ntah itu kapan…kita pasti bisa sampai pada bintang kita. Masih belum percaya???” lirik Fata kepada Rira yang masih memikirkan kata-kata kakaknya.
“Iya…ya. Jadi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini yaa kak kalau kita mau berusaha dan berjuang untuk mendapatkan itu??” tanya Rira dengan sangat penasaran.
Fata hanya tersenyum dan kemudian mengangguk sambil berkata,”Iya. Percayalah Allah tidak tidur. Allah senantiasa memberikan sesuatu sesuai dengan seberapa besar kerja keras kita untuk mendapatkannya. Allah bersabda bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang kalau orang itu tidak mau berusaha mengubah nasibnya terlebih dahulu. Jadi, kerja keras untuk menggapai segala sesuatu yang kita inginkan. Dan jangan lupa senantiasa berdoa dan bertawakkal kepada Allah karena kita sadar bahwa yang kita lakukan itu hanyalah untuk ALLAH TA’ALA. Adik Rira sudah mengerti???” tanya Fata sambil tersenyum ke arah adiknya.
“Rira mengerti Kakak Fata. Makasih yaa kak. Sudah kasih semangat buat Rira. Sekarang Rira tau kalau di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin dan Rira juga yakin bahwa Rira bisa menggapai mimpi Rira setinggi bintang yang ada di langit! Makasiih Kakak Fata….! Sekarang Rira gga galau lagi.hehhehe….!
Kemudian dua bersaudara itu pun berpelukan dan mereka tertawa bersama- sama di tengah keindahan malam itu……….

Sabtu, 06 Desember 2014

Try to find the message of this short story. Thank you all

SI LOPER KORAN
Senin ini adalah Senin pertama bagi seorang anak kecil berambut ikal dalam menjalani profesi barunya sebagai seorang loper koran. Anak yang tingginya 170 cm, berkulit sawo matang dan duduk di kelas  X SMA itu menyandang status barunya sebagai seorang pedagang. Sebut saja namanya Gentar. Dia anak tertua dari 5 bersaudara. Dia selalu berniat ingin membantu orang tuanya membanting tulang demi sesuap nasi untuk keluarganya tercinta. Dahulu, sebelum Gentar menyabet gelarnya sebagai  loper koran, sehari-hari dia bekerja membantu membawakan sayur para Ibu-Ibu dari pasar subuh ke rumah mereka masing-masing. Dia lakoni pekerjaan itu setiap hari setelah shalat Subuh dengan mengayuh sepeda ontel usang peninggalan dari kakeknya. Namun, semenjak hari ini dia berganti profesi sebagai seorang pengantar surat kabar yang biasa disebut loper.
“Koran…Koran…Koran! Koran baru, berita segar dan hangat, yuk mari,” teriak Gentar di setiap jalan sambil mengayuh sepedanya.
Sebelum mengantar koran kepada setiap pelanggan seperti yang sudah diajarkan oleh para loper senior, Gentar mempunyai inisiatif untuk menjualnya di setiap gang yang dia lewati. Dengan modal suara yang cempreng khas anak SMA, Gentar tak pernah mengeluh. Dia yakin pasti ada orang yang sudi membeli koran yang dia bawa.
“Mas...Mas…Koran,” panggil seorang Ibu-Ibu di depan kompleks perumahan mewah.
“Iya Bu. Korannya berapa? Satu atau Dua ?”.
“Tiga ya Mas. Ini untuk juragan, Nyonya, sama Non,” jelas Ibu berpakaian hijau tua itu.
“Alhamdulillah….butuh banyak ya Bu. Saya senang luar biasa. Ini Bu, korannya. Semoga bermanfaat ya Bu (sambil memberikan tiga koran seperti yang sudah dipesan)”.
“Amin. Lain kali lewat ya Mas. Soalnya sudah lama nggak ada tukang loper lewat sini semenjak ada kejadian tukang loper di palak sama preman. Kan kasian mereka. Makanya, kadang saya bingung mas kalau majikan minta untuk nyari koran. Mau beli di kios juga lumayan jauh, nungguin loper juga nggak dateng-dateng. Kadang majikan sampai marah-marah kalau Saya belikan Koran di kios dulu. Katanya kalau semakin siang, beritanya keburu basi. Serba bingung saya ini Mas. Makanya, Mas lewat ini Saya bersyukur banget sama Gusti Allah. Jadi Saya nggak perlu jauh-jauh nyari koran dan segera bisa mengerjakan tugas yang lain Mas. Begitu,” terang Ibu itu panjang lebar.
(Gentar tersenyum manis)”Alhamdulillah Bu, Saya diberi kesempatan untuk menjajakan koran ini di jalan ini salah satunya,”sahut dia.
“Iya Mas. Alhamdulillah. Maaf Saya jadi cerita panjang kali lebar sama Mas. Jadi nggak enak sama Mas. Makasih ya Mas. Saya harus masuk dulu. Keburu juragan nanti nyariin Saya dan juga Saya masih harus mengerjakan tugas Saya Mas. Mas yang lancar ya jualannya. Amin”.
“Iya Bu. Sama-sama. Mari Bu. Assalamualaikum”.
“Wallaikumsalam (sambil berjalan kembali ke rumah)”.
Hari demi hari Gentar jalani dengan penuh keikhlasan . Meski hasilnya tak seberapa banyak, minimal Gentar sudah bisa membantu meringankan beban orang tuanya dalam mencukupi ekonomi keluarga mereka. Gentar menyadari bahwa di era sekarang ini, mencari pekerjaan apalagi pekerjaan yang menginginkan gaji yang tinggi itu sangatlah sulit. Akan tetapi, Gentar tak patang arang. Dia optimis bahwa di balik kesulitan yang dia jalani dalam hidup ini, Allah sudah merencanakan surga dunia yang akan Gentar rasakan suatu hari nanti.
Tujuh tahun tak terasa, Gentar menjadi seorang loper koran. Dari pekerjaan sampingannya itu, Gentar bisa membeli sepeda meskipun sepeda bekas dan sisanya untuk biaya sekolah adik-adiknya. Saat itu, Gentar menjajakan korannya di gang biasa dia menjual koran sebelum sisanya diantar kepada pelanggan. Tiba-tiba, Gentar mendengar ada teriakan seorang perempuan meminta tolong. Mendengar teriakan itu, Gentar berfikir perempuan itu dalam bahaya. Secepat kilat, Gentar mengayuh pedal sepedanya menuju suara teriakan itu. Benar apa yang telah Gentar fikirkan sebelumnya. Ternyata di seberang jalan, dia melihat seorang perempuan ditodong oleh 2 kawanan perampok. Perampok itu seperti ingin mengambil tas yang berada di pergelangan tangan perempuan itu. Tak menunggu lama, Gentar membuang sepedanya dan berusaha menyelamatkan tas yang hendak dicuri sekaligus perempuan itu. Pertarungan pun dimulai dan alhasil meskipun Gentar hanya sendirian, berkat doa dan keyakinan Gentar serta niat baiknya, Allah memberi tambahan kekuatan untuk dia hingga 2 kawanan perampok itu pun babak belur dan lari pontang panting.
“Alhamdulillah….terimakasih banyak Nak atas kebaikan Kamu. Alhamdulillah untung ada kamu Nak. Andai tak ada, Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Saya,” ratap ibu tersebut sambil menangis terharu”.
“iya Ibu. Sama-sama. Saya hanya perantara saja Bu. Semua itu semata-mata hanya kehendak Allah SWT. Tanpa-Nya, Saya juga belum tentu bisa mengalahkan mereka. Ibu berterimakasihlah kepada Allah”.
“Alhamdulillah…terimakasih Ya Allah”. Oh iya, perkenalkan nama Saya Ratna Dewanti. Nama Kamu siapa Nak?”.
“Saya Gentar Bu, Gentar Purnama. Senang berkenalan dengan Ibu”.
“Saya juga Nak. Saya sangat berterimakasih kepada kamu, “puji perempuan itu karena tak dapat menahan rasa syukur.
(menoleh ke arah sepeda Gentar yang di jatuhkan oleh Gentar tadi)”Oh..bagaimana dengan sepeda kamu, Nak?. Dan itu apa dibawah sepeda itu?. Sepertinya tumpukan kertas? Apakah itu arsip-arsip penting milikmu?” Tanya Ibu itu dengan penasaran.
“Oh…itu. Itu hanya sebatas Koran Bu. Saya seorang loper Koran. Sudah tujuh tahun ini saya mengambil profesi itu sejak kelas X SMA,”sahut Gentar dengan sangat jujur.
“Astagfirullahaladzim. Apakah koranmu rusak Nak? Saya harus mengganti semua koran itu sebagai permintaan maaf Saya karena telah menyita waktu berjualan kamu”.
(Ibu itu segera mengambil uang dari dalam tasnya yang hampir dicuri tadi)
“Tidak apa-apa Bu. Itu sudah resiko Saya. Saya sudah memilih untuk menolong Ibu. Apapun resiko yang terjadi termasuk koran rusak dan harus mengganti rugi, itu bukan masalah. Yang terpenting Ibu sekarang selamat dan barang milik Ibu tidak diambil oleh orang jahat itu”.
“Kamu baik sekali Nak Gentar. Namun, bagaimana pun juga Saya harus membalas jasa baik kamu”.
Ibu itu tetap memberikan sebagian uangnya kepada Gentar. Gentar pun akhirnya tak bisa menolak karena dia ingat ini adalah rejeki dari Allah untuk keluarganya.
“Anggap saja ini Saya membeli semua Koran kamu Nak. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak hati menerima uang itu. Kalau ada sisa, sisanya untuk kamu dan keluarga kamu”.
Gentar tak kuasa menahan haru. Tak terasa, butiran lembut keluar dari mata sayunya dan membasahi pipinya. Ini bukan mimpi. Ini bukan pula keajaiban. Tapi ini adalah berkah dari Allah atas keikhlasn Gentar menolong ibu itu sekalipun dia bukan siapa-siapa Gentar.
“Terimakasih banyak Bu. Ini sangat berarti untuk saya. Dari uang ini, alhmadulillah saya akan bisa melunasi uang SPP adik-adik saya bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saya masih bisa mempergunakan uang ini. Terimakasih Ya Allah. terimakasih Bu,”jelas Gentar.
“Iya Nak. Sama-sama. Mulai sekarang, apabila kamu butuh apa-apa, kamu bisa menghubungi Saya. Dengan senang hati Saya akan membantu Nak Gentar apabila Saya bisa. Ini kartu nama Saya”.
“Iya Ibu. Pasti. Terimakasih banyak ya Bu”.
Sampai di sinilah percakapan antara Ibu Ratna Dewanti dengan Gentar. Percakapan singkat yang tak disengaja itu, menorehkan makna mendalam untuk Gentar pribadi. Dari situ, Gentar mulai tahu dan mengenal sedikit demi sedikit tentang Ibu Ratna Dewanti. Ternyata setelah Gentar mencoba untuk mendatangi alamat yang sudah Ibu Ratna berikan kapan hari lalu, Gentar baru menyadari bahwa Ibu Ratna Dewanti adalah Direktur sebuah perusahaan swasta di kota itu. Dari perkenalan singkat itu, beberapa bulan selanjutnya Ibu Ratna Dewanti menjadi salah satu pelanggan setia koran yang dijajakan oleh Gentar. Dua setengah tahun kemudian, setelah Gentar dan Ibu Ratna Dewanti menjalin relasi yang baik, Ibu Ratna Dewanti pun sepakat untuk menunjuk Gentar sebagai salah satu sekretaris di perusahaan milik Beliau dan mulai saat itu juga Gentar naik jabatan menjadi sekretaris di perusahaan dan menanggalkan jabatannya sebagai loper koran. Itulah buah dari kesabaran, keikhlasan, keuletan, dan kejujuran yang Gentar tanamkan sejak sepuluh tahun terakhir ini. Dari sinilah, kehidupan Gentar dan keluarganya mulai berubah menjadi lebih baik dan Gentar tetap menjadi Gentar yang dulu. Gentar yang rendah hati, pekerja keras, dan ulet demi keindahan surga dunia yang sudah sekian tahun dia tunggu-tunggu.

TAMAT

Minggu, 30 November 2014

Love, Hug, Miss, and Kiss

I MISS YOU ALL, SUUMPAHHHH!!!!!

To night,
I am thinking everything I was feeling in my pass memory. In the line of rain, it seems too close. I miss the moment so much. Everything I did, it could be imagined clearly. As to night, at 23.18 my lovely students always accompany me to spend the night in doing some task and share the experience either in Thailand or in Indonesia. Hmm... hug me please!. I said in the deepest of my heart.

Yeah ... memory in Pattani, Thailand is a rainbow for my ow life.
It is totally miracle, Your Majesty.
I don't ever imagine I met you all in Pattani, my lovely new family.
Firstly, I felt so worry that all of you could not accept me both weakness and strength. Really, I always thinking out of it.
As long as experience, however, the good relationship, truly love showed to me enough. AMAZOOONN!!!.

The moment that we made together, never wanna leave it as soon as possible.
Taught the students, discussed either the material or students' ability, time for fun, hanging out, and so forth.
I could not forget and I really really miss it .
Yeah .... I just wanna expect to meet all of you in Indonesia.
I always remember that all of you said, "All of you would like to go to Indonesia and spend a limited time together with me". I totally wait the time. Even though we could not meet to night, yet I attempt to pray for all of you. Insyallah ... God gives the second chance for us to meet anymore.
Bye ...
My new family in Pattani Thailand.

The last, but not the least, I would not like to mention your name one by one. Why is it so ? Because the name "All of You" is a way for me to hug you at all. So, it is the simple and close one.
Take care at Pattani Thailand.

I am waiting at  Indonesia
Love you so much

Firdha Yunita
30-11-2014

Senin, 24 November 2014

Klise

Jeritan Hati

Air akan selamanya menjadi air
Berhembus sejuk dan meresap ke pori-pori kulit dengan tenang
Namun, hal itu akan berbeda dengan api
Terasa panas dan bisa membakar kulit
Terkadang api pun juga cukup membantu 
Tapi itu akan berbeda dengan api yang lebih besar lagi
Cukup membakar dan melalap habis segala sesuatu yang berada di sekelilingnya

Jika kita bicara soal hati...
Sulit memang untuk diungkapkan apa yang hati setiap insan inginkan
Bisa jadi hari ini hati sedang dilanda gundah gulana dan esok akan menjadi cerah ceria
Namun, sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan hati
Cukup kembali ke akal sehat kita
Untuk bisa menentukan manakah yang lebih baik ?

Allah tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang tersebut tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri
Sama halnya dengan fikiran
Lalu, sudahkah kita mengikuti kata hati untuk menjadi insan yang lebih baik ?

Senin, 24 November 2014 
18.34

Sabtu, 08 November 2014

Family Games

Sebuah kebersamaan dalam tawa. This moment can warm our heart. It is my great family. I love it. 






Kamis, 06 November 2014

CERPEN

PACARKU SALES, PINTER NGELES
Well. Namaku Olivia Pradana. Aku dua bersaudara dari pasangan Tn.Tanto Pradana dan Ny. Sari Pradana. Biasa nih Bapak, Ibu, Adik, Eyang, Om, Tante, semua teman-teman, dan siapapun aja manggil Aku dengan nama depanku yang disingkat menjadi “Ovi”. Semula…tidak ada yang spesial dari perjalanan cintaku. Namun, ternyata Allah mengajakku berselancar didalam kehidupan asmara ini. Haha. Kalau inget kaya gini sih, rasanya kaya bernostalgia. Seperti membuka files yang sudah berumur ratusan tahun, usang bahkan rayapan. Tapi, okelah nggak apa-apa. Semoga curhatan ini sedikit banyak bisa menginspirasi untuk semua pihak baik laki-laki ataupun perempuan. Insyallah ya readers. Amin.
Awal kejadian ini ketika Aku masih duduk di kelas 3 SMP. Memang masih bau kencur sih. Hehehe. Jadi, ceritanya tuh Aku sudah selesai mengikuti UAN SMP dan hari itu Aku memang sengaja untuk bergegas pulang ke rumah. Tujuannya tak lain dan tak bukan yaitu menyiapkan berkas-berkas yang nantinya akan Aku gunakan untuk mendaftar di salah satu SMA di wilayah tempat tinggalku. Singkat cerita, ketika Aku selesai menyiapkan berkas-berkasku dan berencana untuk membeli map di sebuah kedai dekat rumah, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan mengendarai sebuah motor, berhenti mendadak dan hampir menabrak sepedaku. Aku pun terkejut dan menatapnya dengan tajam. Namun, tak lama kemudian dia turun dari sepeda motornya seraya menghampiriku mungkin untuk meminta maaf atas kesalahannya. Tapi, kenyataannya malah tidak sama sekali. Justru dia bertanya,”Ibuknya ada Dik? Nambah orderan nggak?. Hah…semula Aku fikir dia akan meminta maaf lalu berkenalan seperti di ftv-ftv yang pernah Aku tonton. Hehe. Karena masih tercengang atas pertanyaan yang meluncur dari mulutnya, Aku pun sedikit lama menjawabnya. Dia pun bertanya lagi,”Nambah nggak Dik?”. Dengan sedikit terkejut,  Aku pun menjawab,”Tunggu sebentar ya. Ibuku ada di belakang. Tunggu dulu. Ok fix”. Lalu, Aku pun berlari ke belakang dan memanggil ibuku.
Perlu diketahui bahwa Ibuku mempunyai pekerjaan sambilan. Beliau itu wonder woman menurutku. Selain menjadi ibu rumah tangga yang bekerja melebihi direktur perusahaan khususnya di PRT alias perusahaan rumah tangga, tapi Beliau juga memiliki kesibukan yaitu berniaga. Ibuku mempunyai usaha kecil-kecilan yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga, bensin, bahkan rokok. Kebetulan, lelaki tersebut adalah seorang sales rokok keliling. Seumur-umur membantu Ibu berjualan, baru pertama kali Aku berjumpa dengan lelaki itu. Pertama, ada hal yang berkesan ketika berjumpa dengan dia. Haha. Ceilee…kayaknya ada yang lagi kasmaran nih. Haha. Nggak juga sih sebenarnya, Cuma ketika bertemu dan sempat menatapnya, ada impression yang beda aja. Dia itu bak Menara Eiffel, kaya yogurt rasa plain dalam kemasan, nggak beda jauh dengan tampang cowok cover boy, dan senyumnya itu semanis coklat. Haha. Itu sepintas dari kaca mataku ketika berjumpa di pertemuan ketidak sengajaan tersebut. Setelah itu, Aku pun pergi menyelesaikan urusanku tanpa memikirkan dia lagi.
Dari pertemuan yang Aku rasa adalah pertemuan pertama dan terakhir kali dengannya, ternyata itu malah berbalik 180’. Hal itu melainkan awal kita saling mengenal satu dengan yang lain. Secara tidak sengaja ketika Aku sudah resmi menjadi pelajar putih abu-abu, tepatnya di hari raya ke-enam Idul Fitri, pertemuan kedua pun sempat singgah dalam perjalanan hidupku. Tak disangka, semula Aku fikir dia menganggap biasa-biasa saja, tapi ternyata dia merindukan pertemuan kita dulu. Pertemuan pertama itu bisa dikatakan ketidak sengajaan, tapi biasanya untuk yang kedua dan selanjutnya itu adalah takdir. Haha. Seneng banget rasanya bisa bertemu dengannya kembali. Tak disangka bisa menatap tatapan lembut tersebut. Ciiie…Ovi hampir kena cupid nih.
Setelah itu, kita pun mulai menjalin sebuah kedekatan melalui telepon dan pesan singkat (sms). Hampir setiap hari, kami tidak lupa saling mengingatkan, bercanda, dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Tak lebih dari dua bulan setelah pertemuan yang kedua, dia pun mengutarakan isi hatinya kepadaku. Doooorr…..si cupid cuwitz datang deh. Hehe. Karena kelembutan, kebaikan, dan keindahan rangkaian kata-katanya, Aku pun mulai menaruh hati padanya. Lalu, kami pun resmi menjadi sepasang kekasih yang dihujani cinta dan kasih sayang. Duh….bahagianya kami saat itu. Dunia ini serasa milik berdua. Haha.
Selama menjalin hubungan cinta dengannya, setiap Sabtu malam kita selalu menghabiskan waktu berdua di taman kota. Kita saling bercanda, tertawa, dan menikmati keindahan malam bersama-sama. Setiap harinya, hampir tidak pernah telat bunga mawar dan sedap malam selalu singgah di rumahku. Makanan kesukaan, minuman favorit, bahkan pernak-pernik kesukaanku selalu berjejalan di kamar tidurku. Semua itu adalah bukti kesungguhan hatinya menjalin hubungan denganku. Bersama dia, Aku laksana seorang putri yang di atas awan. Apapun yang Aku sukai, dia berusaha menurutinya. Bersyukur sekali saat itu bisa menjalin hubungan dengan dia meski memang pekerjaannya hanya seorang sales rokok keliling.
Sayangnya selama kami menjalani hubungan, Bapakku tidak tahu menahu hubungan kami. Dia pun juga tidak pernah main ke rumahku. Jadi, kalau misalkan kita hendak ketemuan, dia hanya mampir di toko depan rumah atau main ke rumah nenekku yang sudah berbeda wilayah. Saat itu, menurutku hal seperti itu bukanlah masalah pelik. Yang terpenting, kami saling mencintai dan selalu berusaha membahagiakan satu sama lain. Yaa..namanya pacaran ala putih abu-abu. Tahunya ya cuma gitu doang. Haha.  Tapi, Aku sama sekali tidak merasa curiga kepada dia kenapa setiap Aku ajak main ke rumah, dia selalu ngeles. Ntah dia tergesa-gesa, sakit perut, bahkan sempat beralasan mamanya sakit.
Sempat ketika suatu malam kita pergi hang out, Aku memulai percakapan dengannya. Topik malam itu tentang seorang cowo yang selingkuh dengan cewe lain dan cewe itu adalah sahabat pacarnya sendiri. Saat itu Aku berkata,”Sayang, tahu nggak sih? Kasian banget temenku. Dia diselingkuhin pacarnya dengan sahabat cewenya sendiri. Tuh, lelaki nggak ngerti perasaan cewe apa! Seenak jidat mainin hati orang. Kalau belum kena karma, tuh cowo belum tahu rasa!. Menurut kamu kalau ada cowo kaya gitu, enaknya diapain ya Sayang?”. Setelah Aku ngomong panjang kali lebar, si dia sama sekali tidak merespon. Hening dan sunyi. Selang beberapa detik, Aku memulai percakapan dengan meluncurkan sebuah pertanyaan konyol,”Maaf..Sayang, kamu juga cowo yang suka selingkuh ya?”. Seketika dia menjawab,”Ya Ampun…nggak lah Sayang. Aku cowo baik-baik. Ceweku cuma kamu dan nantinya kalau kamu sudah lulus SMA, Aku pengen ngajak kamu  married”. Aku pun terkejut dan menimpalinya,”Yang bener Sayang? Serius… hahaha. Aku seneng banget deh dengernya. Thanks ya Sayang. Aku sayang kamu bingo. I love you”. “I love you too”, jawabnya sambil mengendarai sepeda motor bebek miliknya. Sebelum sampai di tempat makan, Aku pun sempet ngomong sama dia,”Sayang, jangan selingkuhin Aku ya”. Dan dia hanya menoleh kepadaku dan tersenyum simpul. Leganya hatiku. Kami pun menghabiskan malam itu dengan penuh suka cita.
Tak terasa hubungan kami sudah berjalan 1 bulan. Ketika hendak masuk bulan kedua, tak disangka pohon asmara kita mulai tumbang. Benih-benih perselisihan, perbedaan komitmen pun mulai bertaburan dalam asmara kita. Hampir setiap hari kita ribut masalah sepele. Dan yang lebih parah lagi, setiap problematika dalam hubungan kita selalu dipicu olehnya. Seperti ketika Aku pergi ke sekolah, tiba-tiba di tengah perjalanan dia menelponku. Namun, Aku tidak bisa mengangkat teleponnya karena Aku masih harus mengikuti kegiatan belajar di kelas. Kemudian ketika jam istirahat, Aku menghubunginya kembali. Tahukah kalian? Belum sempat Aku mengucap salam, dia tiba-tiba membobardirku dengan pertanyaan-pertanyaan tuduhan yang memojokkanku. Aku pun tidak terima karena Aku merasa bahwa Aku tidak bersalah. Dia menuduhku bahwa Aku melupakannya, Aku sudah tidak peduli dengan dia, bahkan dia mengatakan kalau Aku tidak bisa mengangkat teleponnya karena ada cowo lain di dekatku. Sungguh Aku tidak menyangka mengapa dia tega menuduhku. Setelah Aku mengalah, menerima umpatan dan makiannya, pertengkaran pun selesai.
Suatu hari saat Aku bertemu dan jalan dengan dia, Aku menanyakan mengapa dia tega berkata kasar di hari itu. Dia pun menjawab,”Sorry Sayang. Kemarin Aku lepas kontrol. Aku mau curhat sama kamu kalau Aku tiba-tiba dipecat sama bosku. Aku nggak punya pekerjaan lagi. Aku nggak tahu Aku salah apa, tapi katanya Aku difitnah sama rekan sejawatku sendiri. SAKITNYA TUH DI SINI!” Sambil nunjuk hatinya dan merebahkan kepalanya di pundakku, dia mengungkapkan segala kepenatan hatinya. Aku pun berusaha menguatkannya,”Sayang…istighfar ya. Yang sabar…insyallah Allah akan memberikan pekerjaan yang lebih baik dari pada ini. Insyallah ya Sayang. Lagi pula, mama kamu kan masih di luar negeri. Kalau kamu butuh pekerjaan, kamu bisa ikut bantu mama di perusahaannya”. Namun, dengan sontak dia berdiri tegap dihadapanku dan menjawab,”Aku nggak mau!. Kenapa kamu paksa Aku kerja bareng sama Mama? Mama itu lebih percaya asistennya, bukan sama Aku. Lagi pula Aku mau ngebuktiin ke Mama kalau Aku bisa sukses tanpa harus kerja bareng di perusahaan Mama!. Udah, Aku pulang aja dari pada bad-mood kaya gini. Kamu nggak ngertiin Aku!. Aku pun menahannya dan meminta maaf atas kesalahan kata-kataku. Ohh…ternyata cowo ku sensitif banget. Ok fix, Aku harus lebih sabar lagi.
Setelah kejadian tersebut, Aku nggak bisa menghubungi dia lagi. Tepat satu hari sebelum tahun baru, Aku pusing tujuh keliling mencari dia. Hampir setiap hari Aku mencoba menghubungi nomor hapenya, ternyata nggak aktif. Nomor hape temannya juga nggak aktif, bahkan Aku coba dateng ke rumahnya juga nggak ada orang. Aku pun mulai mempunyai fikiran negatif. Dalam hati Aku bertanya-tanya,”Sayang, kamu dimana sih? Kenapa AKu digantungin gini? Apa salahku? Apa karena saranku waktu itu? Tapi kenapa selama hampir dua minggu kamu nggak ngehubungin Aku? Ya Allah…lindungilah Sayang. Amin”.
Tak disangka, ketika Mama, kakak, dan Tanteku pergi ke rumah dia, mereka melihat dia sedang menggendong anak kecil. Mereka mencoba menguping pembicaraan dia dan anak kecil tersebut. Sempat terdengar anak kecil itu memanggil dia dengan panggilan,”Papa”. Tak lama, anak kecil itu berkata, “Papa…Papa…Ayo Pa, pergi sekarang. Panggil Mama”. Karena saking penasarannya, keluargaku datang menghampiri dia. Mamaku langsung bertanya,”Siapa dia? Kenapa dia panggil kamu “Papa”?. Dia pun mencoba menjelaskan, tapi ternyata dia sudah tak berdaya. Dia kaget atas kedatangan keluargaku. Tak lama kemudian, seorang perempuan kira-kira berusia 21 tahun keluar dari dalam kamar. Dia berkata,”Papa…sudah ambil kontak mobilnya? Adik sama Papa? Ayo berangkat”. Tanteku yang sudah tersulut emosi, langsung datang dan melabrak perempuan tersebut. Pertikaian pun tidak dapat terhindarkan.
Ternyata selama ini, orang yang Aku cinta, puja, dan Aku fikir dia adalah lelaki terakhir dalam hidupku ternyata adalah seorang pembual kelas kakap. Selama 2 bulan, Aku berhasil jatuh dalam tipu dayanya. Yang lebih parah lagi, Aku hanya dijadikan sebagai bahan taruhan dia dengan teman-temannya. Pantes pekerjaannya adalah seorang sales. Dia pun sosok lelaki yang pinter ngeles. Hampir 3 tahun Aku belum bisa move-on dari dia. Aku terpuruk, nilai sekolahku jatuh, Aku jarang masuk sekolah, males makan dan Aku males dengan lelaki. Luka yang ditorehkannya terlalu dalam di hatiku. Ketika masuk di tahun keempat, tepatnya ketika Aku mulai menjadi seorang mahasiswa, Aku pun mulai mengubah jalan fikiranku. Tidak sepantasnya Aku harus terpuruk dalam kesedihan yang tidak menguntungkan ini. Aku pun mulai menata hidupku kembali. Aku mengikuti berbagai perlombaan sesuai hobiku, Aku hampir tidak pernah bolos kuliah, Aku welcome dengan lelaki, ibadah semakin Aku tingkatkan, Aku tidak menyiksa diriku sendiri, tidak cengeng dan yang pasti Aku harus lebih selektif lagi jika ingin mencari pasangan hidup nantinya. Ya… zaman sekarang bukan saatnya untuk stuck. Lebih cepat move-on, itu lebih baik. Yang paling penting juga, jangan pernah memusuhi dia yang sudah menyakiti perasaanmu melainkan jadikan perjalanan cinta dengan dia itu adalah lilin yang menerangi mata dan fikiran kita. Lebih baik tersesat sebelum menikah, dari pada menyesal setelah sah menjadi istrinya. Serta, yakinlah Allah akan memberikan sosok lelaki yang lebih baik dari dia. Ingat, perempuan baik hanya untuk lelaki yang baik. So, let’s move on and keep fight!. Cinta….sorry, gue nggak takut tuh jatuh cinta! Kau kan tetap Aku cari dan akan Aku dekap jika waktunya sudah tiba. Tapi, sekarang PRESTASI AKU HARUS NOMOR SATU!
YEAH…MOVE ON OVI. THANKS GOD!


THE END

Selasa, 04 November 2014

Efek Nostalgia yang Tak Disengaja

MELEPASMU

Sekitar pukul 09.02, sambil berbaring santai di ruang tamu, Aku memutar radio. Sebenarnya rencana awal ingin melanjutkan tugas akhir S1ku, tapi Aku terjerembab mendengar sebuah lagu yang diputar d radio tersebut. Tak disangka, sebuah lagu masa lalu berdendang di radio tersebut. Sebut saja judul lagu tersebut yaitu "MELEPASMU". Sebuah lagu yang didendangkan oleh salah satu grup band Indonesia yang pada tempo itu sangat nge-booming sekali. Lagu tersebut juga Aku jadikan soundtrack kisah kasihku selama menjadi pelajar putih abu-abu dulu. Sesaat .. Aku teringat akan petualangan cinta monyetku dulu. hahaha. Dengan malu-malu, tapi Aku ingin menuliskannya di blog pribadiku ini. Sebuah media kesekian yang bisa Aku manfaatkan selagi Aku ingin menuliskan apapun yang sempat terlintas dalam benakku. So, for anybody else, sorry kalau keganggu ya. Hehe. 

Saatnya bernostalgia...
Tak ada bedanya dengan judul lagunya. Perjalanan cintaku pun tak bisa bertahan lama. Ya..biasalah, masih ABG itu maunya main-main doank. Tapi, kali ini, bukan Aku yang main-main melainkan Aku yang dipermainkan. Ceeillee.... yoyo kali dimainin. Jadi belum sempet kenal dekat aja, kita udah nggak sejalan. Tapi, ada untungnya juga sih, Aku bisa lepas dari si dia. Untungnya nih, Aku bisa belajar dari kesalahan bahwa pacaran semasa sekolah itu "Sumpah deh,,, nggak ada untungnya". Emang sih, bagi mereka yang cuma mikir "short term", punya pacar itu asyik. Ada yang ngajakin jalan, kemana-mana nggak sendirian, ada yang nelponin, ada yang nge-sem-es-in, ada yang ngebeliin pulsa, ada juga yang diajak curhat, bahkan ada yang nraktir setiap makan. Ingat, awal-awalnya gitu, tapi lama-lama, nggak juga. Lagi pula, kan masih ada keluarga, Mama, Papa, saudara, sahabat, dan yang lain yang bisa kaya gitu. Jadi, ngapain repot-repot nyari pacar. Terus..terus..kalau menurutku sih, pacaran juga dapat membawa dapat negatif. Tahu nggak sih, berdasarkan pengalamanku selama sama dia dulu, kerugian yang Aku dapatkan itu, pertama dosa (nggak dosa gimana, setiap hari selalu dia aja yang dibayangin, kalau ketemu seneng banget lihat wajahnya, dan lain sebagainya). Lalu, nilai sekolah juga bisa turun, sulit konsentrasi. Belum lagi nanti kalau ada kresnya, harus ngorbannin waktu buat nangis-nangis dan males makan. Akhirnya, badan kurus kaya nggak keurus. Aduh... masih banyak lagi deh yang lain. 

Memang sih, zaman sekarang tuh hampir setiap anak yang masih sekolah SD-SMA itu udah pada berani pacar-pacaran. Padahal mereka masih belia sekali dan rawan untuk mengenal hal-hal seperti itu. Yah...semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Mana yang baik, silahkan dilakonin dan mana yang kurang baik bahkan merugikan, pelan-pelan dikurangin yah. Toh, meskipun nggak pacaran, suatu hari nanti jodoh itu akan datang kok. Jadi, stay calm saja sob. Jangan lupa juga, orang tua juga harus selalu pantau putra putrinya agar tidak terjerumus ke pergaulan yang hanya akan merusak moral. Oke. Semoga kita semakin menjadi orang yang bermanfaat, positif, dan kreatif. Salam pagi . 

Tulungagung, 05 November 2014

Minggu, 02 November 2014

I think...

My Deepest Heart

Sudah terlalu lama rasa ini ada
Sudah terlalu sering juga sepatah dua patah kata ini terlontar
Bahkan sudah tak bisa dihitung lagi masa yang dihabiskan bersamanya

Sayang, tak pandai merangkai kata demi kata
Bahkan ketika hati dilanda gundah gulana
Namun, tak ada cara lain lagi dari pada meratapi tanpa ada perubahan

Inilah perjalanan hidup
Lengkap dengan petualangan hidupnya
Seperti ....
Rute perjalanan dari Trenggalek - Tulungagung
Benar... di setiap aspal yang kita lintasi
Ada kasar, ada juga halus
Ada berlubang, ada juga yang rata
Tapi, kasar dan berlubang bukan alasan untuk mereka 
Membatalkan setiap acara dan rencananya hari itu 

Tak bisa dipungkiri
Dan tak bisa disesali
Ada air
Ada juga minyak
Ada derai air mata
Ada juga senyum merekah dan tawa bahagia
Namun, yakinlah siapapun yang kuat, pasti Allah berikan jalan yang hebat
Siapapun yang mampu bertahan dan melakoni step by step
Merekalah 
Jelas....
Mereka bukan sembarang orang
Dan Allah ciptakan itu di dunia
Lantas, siapakah orang yang bukan sembarang orang tersebut ?
Pastinya, mereka yang membuka pikiran akan nikmat-Nya yang tiada tara.

Gandong, 03 November 2014
00.04 WIB


Senin, 27 Oktober 2014

Sepotong Kata Sederhana

S _  _  _ R

Kata yang menjadi highlight tulisan ini hanya terdiri dari 5 kata. Diawali huruf S dan diakhiri dengan huruf R. Mungkin siapapun kalian yang membaca tulisan ini akan menebaknya dengan kata, "SUBUR, SABAR, SOBAR, SAHUR, SIGAR, SADAR, dan S - - - R yang lainnya". It is okay. Tulisan ini bukan mengajak untuk bertebak-tebakan sih, namun semata-mata agar sama-sama memaknai sendiri apa maksud dari tulisan ini. Jadi, semua ini terlepas dari unsur mumetisasi (Viki's bolary lagi. Hehehe). 

Well, setiap manusia pastinya tidak akan terlepas dari sebuah problematika hidup. Ntah itu berhubungan dengan karir, asmara, rumah tangga, bahkan utang piutang sekalipun. Malah, tidak sedikit orang awam berkata,"Kalau tidak ingin dapat masalah, ya jangan hidup". Kalimat tersebut sederhana, akan tetapi syarat akan makna. Memang, setiap orang yang bernafas pasti menginginkan segala hal yang indah, nikmat, mewah, dan pastinya tidak merepotkan diri mereka sendiri. Akan tetapi, kehidupan seperti itu bak peribahasa "Cebol nggayuh lintang". Bahkan jikalau ada, mungkin apa yang ada di muka bumi ini hanya sederhana dan biasa-biasa saja. I can not imagine. 

Seperti yang Saya alami hari ini, cukup membuat Saya merasa sangat bersyukur dan menginstropeksi diri. Bersyukur kepada Illahi Rabbi karena telah mengizinkan Saya untuk menikmati lika-liku kehidupan ini. Hari ini benar-benar luar biasa untuk Saya. Ya... memang, apa yang kita fikirkan terkadang  tidak sesuai dengan pemikiran orang lain. Menurut mereka yang terbaik itu A, namun menurut Saya yang lebih baik itu F. Everything is going to happen. It is normal. Hmm...kejadian yang pertama ini bukan untuk yang pertama kainya dalam petualangan hidup Saya. Bahkan sudah biasa sebenarnya. Namun, untuk yang kedua ini cukup menegangkan bagi Saya. Ketika kita berniat baik untuk membantu dan menjalankan amanah sebaik mungkin, tapi niat itu ditolak secara kasar dan acuh. Sakitnya tuh di sini (sambil gigit kaki (permen kaki) maksudnya. hehe). Tapi, mau bagaimana pun juga ya...kita juga harus sadar, bahwa mereka itu masih golden age. Itulah salah satu sisi yang mungkin bisa membuat Saya sedikit berfikir, "Oh..begini rasanya menjadi seorang pengajar. Tidak bisa disalahkan kalau guru-guru Saya dulu sempat bla-bla-bla. Jadi guru itu kuncinya juga belajar S_ _ _ R". Dan itu juga Saya rasakan. 

Semoga saja setiap perjalanan hidup ini, bisa mengajari Saya untuk menjadi insan yang lebih baik. Saya percaya bahwa setiap perjalanan hidup ini, pasti akan bermuara di muara yang paling indah. Allah akan menunjukkan mutiara itu jika sudah tiba waktunya. Insyallah...

Tulungagung, 27 Oktober 2014
20.42 

Kamis, 23 Oktober 2014

Bukan Sebuah Kebetulan

BUKAN SEBUAH KEBETULAN

Apa yang Saya alami ini seyogyanya bukan lah sebuah kebetulan semata. Skenario hidup ini memang benar-benar pas. Tidak akan ada siapapun orang yang bisa membuat skenario sesempurna ini. Ya.. hanya Allah-lah yang Maha Segalanya dan sekarang pun Saya benar-benar bisa merasakan akan kuasa-Nya yang begitu luar biasa. Subhanallah . 

Tulisan ini muncul tatkala Saya mendapatkan kabar gembira mengenai studi S1 Saya. Sangat sederhana. Semua mengalir tanpa Saya sadari. Cerita ini memang alurnya flashback. Jadi, tak aneh lagi bila Saya sedikit membuka-buka file masa lampau di mesin tanpa batas (otak) ini. Hehehe.

Baik, cerita pertama diawali ketika Saya hendak mengikuti tes pmdk (awal sebelum masuk perkuliahan) di kampus IAIN Tulungagung (dulunya tahun 2011 masih STAIN Tulungagung). Pada saat itu, dosen penguji sekaligus penjaga ketika test berlangsung yaitu Mr.Susanto. Untuk pertama kalinya Saya bertemu dengan seorang pendidik yang memiliki nama dengan grade yang lebih tinggi. D.O.S.E.N. Nama yang mampu menyihir orang yang semula biasa menjadi luar biasa. Ya... untuk pertama kalinya Saya bertemu dengan Bapak DOSEN. Kesan pertama Saya saat itu, yaitu berharap nantinya Saya bisa mengais ilmu di kampus ini apalagi diajar oleh Beliau. Cerita berhenti sampai di sini dan ditutup dengan harapan sederhana. 

Kedua, pada saat perkuliahan sedang berlangsung, tak disangka bahwa Beliau yang dulunya menjadi penguji Saya, ternyata juga menjadi salah satu dosen yang mengajar di kelas Saya. Pada saat itu, di awal semester 1. Beliau mengajar mata kuliah speaking. Sontak, Saya terkejut karena tidak menyangka bahwa Saya akhirnya diajar langsung oleh dosen yang Saya temui pertama kali itu. Saat itu, Saya merasa bahwa Beliau adalah dosen yang unik. Cara mengajar Beliau yang penuh dengan kekonyolan dan kekocakan, selalu saja mampu menggelitik dan mengundang gelak tawa. Setiap pertemuan, Beliau selalu berusaha menjadikan suasana belajar menjaar yang tegangi menjadi santai tapi tetap serius. Menurut kaca mata Saya, Beliau itu benar-benar dosen yang anti ketegangan. Belum lagi sisipan-sisipan perjalanan hidup Beliau yang unik dan kocak selalu menjadi menu renyah di tengah-tengah pembelajaran berlangsung.

Yang ketiga, pada saat Saya duduk di semester 5, Saya iseng mencoba mengajukan proposal penelitian kepada Mr.Susanto juga. Tidak tahu kenapa, nama Beliau merupakan satu-satunya nama yang terlintas di benak Saya setelah Saya menyelesaikan proposal penelitian Saya. Awalnya, proposal penelitian ini Saya gunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah di semester 5. Akan tetapi, Saya berfikir tidak ada salahnya Saya konsultasikan kepada Mr.Susanto. Akhirnya, Saya pun mengkonsultasikannya kepada Beliau.

Kelima, bertemu Beliau lagi pada saat Saya hendak test PPL-KKN ke Thailand. Beliau adalah salah satu dosen penguji pada saat microteaching. Amazing...untuk sekian kalinya perjalanan studi Saya, Beliau selalu hadir meramaikannya. Terimakasih ya Allah.  

Keenam, inilah salah satu dari sekian potret pengalaman Saya. Jadi, ketika Saya mengikuti program PPL-KKN ke Thailand 5 bulan yang lalu, Beliau adalah salah satu dosen yang menanyakan tentang kondisi dan kegiatan di sana. Satu hal yang membuat Saya sempat terkejut sekaligus penasaran, bahwa yang Saya tahu dari penuturan dosen-dosen yang lain, Mr.Susanto itu adalah dosen yang tidak gandrung dengan kemajuan sosial media di zaman sekarang. Beliau merupakan dosen yang tidak seperti dosen lain, yang memanfatkan sosial media sebagai life style. Nah, ketika Beliau muncul di salah satu sosial media (facebook), Saya sempat terkejut. tapi, hal itu juga memberi dampak positif yakni mempermudah kami berkomunikasi dalam jarak jauh. Yang masih membuat Saya penasaran sampai sekarang, "Apa yang membuat Beliau akhirnya bertekuk lutut pada sosial media?(hehehe Maaf, Sir. Tapi Saya benar-benar penasaran). But, everything is gonna be alright, Sir. 

The last, kemarin Saya tidak menyangka bahwa Beliau, Mr.Susanto yang akan menjadi dosen pembimbing skripsi Saya. Nah, dari sini lah akhirnya muncul pemikiran bahwa semua ini adalah skenario-Nya. Allah memberikan segala yang terbaik untuk hamba-Nya. Semoga ini menjadi puncak dari perjalanan studi S1 Saya yang berkesan. Di awal semester disambut oleh Mr.Susanto, di akhir studi pun juga ditutup dengan dibimbing oleh Mr. Susanto. Alhamdulilah.. terimakasih Tuhan. Memang ini bukan sebuah kebetulan, melainkan cerita perjalanan hidup Saya yang Engkau kemas secara special. Terimakasih Tuhan.... 

(Sebuah opini yang tidak bermaksud untuk menyakiti hati). 
Maaf, Mr.Susanto apabila ada salah kata. Hehehe.

kampus IAIN Tulungagung, Belakang BAK 
10.19 a.m. , Oktober 24th 2014


Sabtu, 11 Oktober 2014

Tulisan lama, terkendala karena tak ada akses internet.

GARA-GARA SEPATU, TAK BISA MENJADI GURU
            Malam ini, Selasa 01 April 2014 di rumah nenekku tercinta, Aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Nyaris, berbeda 360’ dengan kehidupan di era serba canggih saat ini. Nenek Lamirah namanya. Beliau ternyata bukan orang sembarang orang. Maksudnya bukan berarti Beliau orang sakti, bukan, melainkan Beliau adalah pejuang yang keras menurut kaca mataku. Subhanallah. Tak terasa hati ini bergetar dan air mata menetes ketika mendengar cerita masa lalu Beliau yang begitu luar biasa. Sungguh ironis kehidupan Beliau di zaman dahulu sekitar tahun 1961.
Sebenarnya awal mula Beliau bercerita itu sangat simple. Beliau menanyakan tentang diriku yang akan melanjutkan studi ke sebuah negara yang tak pernah Aku duga sebelumnya  (Thailand, meskipun awalnya Beliau berkata di Amerika. Hehehe). Sangat sederhana bukan? Namun di balik kesederhanaan itu, ternyata mampu mengoyak-ngoyak memori puluhan tahun silam. Di sinilah, terlintas dibenakku untuk mendengarkan dengan seksama dan hatiku tergerak untuk menuliskan perjalanan hidup seorang nenek hebat itu. Mulailah tangan ini menuliskan segala yang Aku dengarkan barusan.
Dari hasil penuturan yang disampaikan secara lugas oleh nenek Lamirah tadi, banyak poin yang bisa Aku tangkap. Sampai-sampai, saking banyaknya Aku mulai bingung menuliskan hal apa terlebih dahulu. Ah..yang penting Aku menulis. Tak tahu nanti apakah akan membuat bingung para pembaca yang bersedia singgah unutk membaca tulisan ini atau malah mereka bisa memberi masukan kepadaku untuk membuat tulisan yang lebih tertata lagi. Sebelumnya, aku teringat terus kata-kata yang disampaikan oleh dosen favoritku, sebut saja Bapak Ngainun Naim (Dosenku Komunikasi Pendidikan di IAIN TULUNGAGUNG waktu semester IV) yang sangat luar biasa dengan gedoran kata-kata motivasinya. Satu hal yang tidak bisa Aku lupakan ketika Beliau meminta Kami untuk membuat resensi saat pertama kali perkuliahan, Beliau menulis di bawah resensiku “ANDA MEMILIKI POTENSI MENULIS, KEMBANGKAN DENGAN TERUS BERLATIH”. Aku merasa kata-kata itu memiliki sihir yang luar biasa, sehingga membuat Aku ingin selalu menulis. Namun, karena harapan tak sesuai kenyataan, terkadang Aku masih mendapati kebosanan, sehingga Aku lalai untuk menulis. Namun, malam ini Aku mencoba untuk menulis kembali. Ini kali pertama tulisanku Aku share melalui social media. Semoga saja bermanfaat. Amin. Maaf jika intronya terlalu panjang. Masih belajar juga. He he he.
Kembali ke nenek Lamirah tadi. Poin yang akan Aku bagikan kali ini yang sangat berkesan buatku, yakni tentang pendidikan Beliau. Latar belakang nenek Lamirah adalah seorang yang berasal dari golongan  menengah ke bawah. Apalagi di tahun 1947an, ekonomi Beliau sangatlah sulit. Di kehidupan yang serba terbatas tersebut, tepatnya di tahun 1956, Beliau memberanikan diri untuk mendaftar sekolah di SR (sekarang setara SD). Perlu digaris bawahi, nenek Lamirah mendaftar sekolah ini bukan karena dorongan orang tuanya. Orang tua nenek Lamirah sangat melarang nenek Lamirah untuk mendapatkan pendidikan. Mereka berfikir bahwa seorang perempuan itu tidak perlu belajar, apalagi mendapat pendidikan formal. Cukup membantu orang tua setiap harinya dan kalau sudah dianggap dewasa langsung dinikahkan. Namun, karena rasa hausnya terhadap ilmu itu, nenek Lamirah rela sekolah secara diam-diam meskipun pada akhirnya ketahuan juga.  
Untuk pergi ke sekolah, setiap harinya Beliau berjalan kaki tanpa memakai alas alias nyeker. Bisa kita bayangkan betapa sakitnya jemari kaki Beliau ketika berjalan menyusuri jalanan yang masih sangat rusak. Namun, Beliau menjalani dengan sabar dan penuh keikhlasan. Yang penting Aku bisa sekolah, itu katanya. Tidak hanya itu, ketika di sekolah, dibanding teman-temannya yang lain, Beliau adalah siswa yang sangat tidak mampu. Berdasarkan penuturan Beliau, ketika sekolah Beliau tidak pernah mampu membayar SPP. Jangankan SPP, membeli 1 buku tulis saja tidak ada uang. Kalau minta ke orang tua, siap-siap saja punggung akan dipukuli sampai merah-merah. Sungguh ironis sekali. Jadi, selama pendidikan kurang lebih 6 tahun, semua kebutuhan sekolah mulai dari buku, tinta, seragam sampai SPP ditanggung oleh sekolah. Beliau hanya bermodal 1 buku tulis untuk digunakan selama 6 tahun itu dan 1 kuas untuk menulis. Itu saja, Beliau juga harus bekerja untuk menjadi buruh hanya demi membeli 1 buku tulis karena ketika meminta, Beliau langsung mendappatkan pukulan dari orang tuanya. Kalau bukan karena kecerdasan Beliau, mungkin Beliau tidak bisa mendapatkan keistimewaan seperti itu dari sekolah. Memang dari prestasi, Beliau sangat luar biasa. Hanya bermodal 1 buku tulis selam 6 tahun, Beliau nyaris selalu mendapatkan nilai 9 dan 10. Sangat jarang dan hampir tidak pernah mendapatkan nilai 6 atau 7. Oleh karena itu, sekolah bisa memberi sedikit kemudahan agar nenek Lamirah bisa merasakan sekolah meski hanya beberapa tahun saja.
Tiba saat detik-detik menjelang ujian sekolah, Beliau juga menceritakan bahwa diantara semua siswa di SR, hanya nenek Lamirah lah yang memakai seragam yang sudah sangat tidak layak pakai. Bayangkan saja, semua teman-temannya minimal memakai seragam yang lumayan layak. Tapi tidak untuk nenek malang itu. Beliau rela memakai seragam yang atasannya sudah tembelan (lebih dari 12 tembelan) dan rok yang sudah lusuh, luntur, sobek-sobek layaknya kain gombal. Beliau tak menghiraukan ejekan teman-temannya, yang terpenting Beliau bisa mengikuti ujian. Sesungguhnya tak hanya seragam yang dikeluhkan, melainkan ada hal yang membuat ciut nyali nenek Lamirah. Yang namanya sekolah, ternyata meskipun zaman dahulu maupun zaman sekarang, berseragam lengkap itu sangat penting. Pada saat itu, nenek Lamirah tidak memiliki sepatu, sedangkan hari ujian sekolah sudah semakin dekat. Pihak sekolah pun meminta nenek Lamirah untuk membeli sepatu agar bisa mengikuti ujian sekolah seperti yang lainnya. Dengan ekspresi yang sangat memprihatinkan dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta sepatu kepada orang tuanya. Benar saja seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, Beliau merasakan pukulan rotan di bagian punggung. Meskipun menangis meronta-ronta, tetap saja orang tua nenek Lamirah tidak membelikan sepatu. Dengan penuh harapan yang begitu dalam, Beliau akhirnya memohon kepada pihak sekolah untuk mengikuti ujian yang terakhir kalinya. Dengan kebaikan hati para guru, beruntunglah nenek Lamirah diperbolehkan mengikuti ujian dengan seragam seadanya dan tanpa alas kaki juga.
Setelah ujian selesai dan hasilnya juga sudah keluar, ternyata tak disangka nenek Lamirah lulus dengan nilai terbaik di SR. Hanya 1 mata pelajaran yang mendapat nilai 6, yakni mata pelajaran desimal. Selain itu, semua nilainya antara 9 dan 10. Sehingga, pihak sekolah memberikan kesempatan kepada nenek Lamirah untuk menjadi guru setelah lulus dari SR. Hal itu membuat nenek Lamirah sangat gembira. Namun, lagi-lagi sepatu. Pihak sekolah sudah tidak bisa memberikan kemudahan lagi kepada Beliau. Jika memang Beliau menginginkan untuk menjadi seorang guru, Beliau harus memiliki sepasang sepatu. Mana mungkin seorang guru tidak bersepatu alias nyeker?. Padahal muridnya saja diusahakan untuk memiliki sepatu meskipun bekas. Kendala sepatu ini lah yang membuat nenek Lamirah bingung harus berbuat apa.
Sepulang sekolah, dengan mengumpulkan seluruh keberanian dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta restu dan juga meminta untuk dibelikan sepatu. Langsung saja, sebelum Beliau selesai berbicara, sebuah rotan meluncur di punggung Beliau. Hmm…betapa sakit ketika merasakan pukulan itu. Beliau hanya bisa menangis dan berdoa. Esoknya, Beliau memutuskan untuk menghadap pihak sekolah bahwa mungkin itu bukan rezeki Beliau dan Beliau pun harus mengikhlaskannya.
Itulah poin pendidikan yang bisa Aku dapatkan dari kilas memori pendidikan nenek Lamirah. Sungguh luar biasa bagiku. Hanya gara-gara tidak memiliki sepatu, beliau tidak bisa mengabdi untuk menjadi seorang guru. Namun, Beliau tetap menghormati orang tuanya dan mengambil hikmah dari semua peristiwa pilu ini.

 Hal ini mengingatkanku akan potret kehidupan yang nyaris berbeda dengan yang ada di era 2014 ini. Tak perlu dijelaskan kembali, anak zaman sekarang jarang sekali yang peduli tentang pendidikan. Sadarkah kita bahwa pendidikan itu dari dulu sangat penting?. Orang tak punya saja, mati-matian berjuang agar bisa merasakan indahnya pendidikan, bagaimana dengan orang yang berada? Sudah sepatutnya kita mengintropeksi diri, mencoba memahami semua hal yang sudah ada di depan mata. Siapapun kita, dimanapun kita berada, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Kita harus bersyukur, khususnya untuk pelajar yang ada di seluruh dunia tanpa terkecuali untuk lebih giat dalam mencari ilmu dan serius. Karena apa yang telah kita dapatkan ini sesungguhnya adalah anugrah luar biasa dari yang Maha kuasa. Jadi, hargailah dan berikan yang terbaik khususnya untuk mereka yang telah berjuang demi masa depan kita. Kalau bukan kita yang membalas jasa mereka, lantas siapa lagi?. #think_anymore. (19.40 - 21.34 WIB)

What is happen with "VEIL"?

TAKUT TAK LAKU KARENA BERJILBAB
   Kaum hawa adalah ciptaan Allah yang selalu dielu-elukan. Terlihat indah jika dipandang mata, selalu bertebar pesona, dan tak henti-hentinya memikat hati setiap pria. Apalagi ditambah dengan adanya perkembangan arus globalisasi yang semakin ekstrim khususnya di bidang fashion dan cosmetics rasanya semakin membius perempuan untuk semakin mempercantik diri demi mendapatkan kepuasaan duniawi.
 Seperti yang kita tahu bahwa sebaik-baiknya perempuan yakni  yang menutup aurat, menjaga pandangan, dan memelihara kemaluannya. Akan tetapi tidak semua perempuan akan mempunyai pemikiran yang seperti itu. Apalagi dengan adanya beragam keyakinan yang ada di negeri tercinta Indonesia, hal kecil seperti itu tak jarang luput dari pengamatan kita. Memang di era modern ini, marak sekali statement seperti “Cantik itu Harus Seksi, Cantik itu Berani Sakit, Cantik itu Aset Terpenting, Cantik itu Passion”. Dari sekian slogan di atas, cantik yang dimaksud  itu identik dengan kecantikan yang hanya dilihat dari sudut pandang fisik saja. Pendapat Saya tersebut Saya ambil dari keadaan konkret yang ada di sekitar kita. Berbagai macam klinik kecantikan, produk kecantikan, bahkan salon kecantikan semakin berjejal-jejalan. Hal itu mampu menghipnotis kaum hawa untuk tidak ragu-ragu mengeluarkan puluhan juta untuk mendapatkan treatment yang terbaik. Ironis ketika melihat konteks yang ada di zaman sekarang ini.
Bahkan ketika Saya merangkai tulisan ini, Saya terpancing dengan ungkapan yang dilontarkan oleh murid les Saya. Ada sebuah kalimat yang menggelitik dan ingin sekali Saya tulis di blog ini. Namun, sebelum Saya menulisnya harus diketahui bahwa tulisan ini bukan bermaksud untuk menyakiti pihak lain. Tulisan yang Saya buat ini murni dari unek-unek Saya mengenai kejadian beberapa hari yang lalu. Kronologi ceritanya, seperti hari-hari biasanya salah satu kesibukan Saya yaitu menemani adik-adik belajar di rumah mereka masing-masing. Pada saat itu, setelah kegiatan belajar Saya tutup, Saya menyanjung penampilannya hari itu yang nampak lugu dan apa adanya dengan kalimat,”Dik, kamu cantik lho kalo pake baju kaya gtu. Bahkan lebih cantik lagi kalau kamu pake jilbab“. Tiba-tiba dengan entengnya bocah kecil yang Saya ajar hari itu berkata,“Kak, kakakku bilang JANGAN PAKAI JILBAB, NTAR KAMU NDAK LAKU, Dik”. Sempat shock dan speechless ketika mendengar kalimat tersebut meluncur deras dari mulut mungil siswi kelas 1 SMP tersebut. Apalagi kalimat tersebut berasal dari kakak kandungnya sendiri. Bayangan Saya, apa yang akan terjadi pada psikologis anak berusia 13 tahun yang sudah dijejali statement yang bisa dikatakan meng-underestimate-kan jilbab. Lalu, didepan dia Saya hanya tersenyum dan mencoba menggali atas dasar apa dia melontarkan sebuah kalimat itu. Sayangnya dia tidak memberikan jawaban yang cukup memuaskan Saya. Ya..wajar sajalah karena dia juga masih berusia 13 tahun dan mungkin bagi dia kalimat tersebut sangat normal. Di saat Saya hendak berpamitan pulang karena adzan magrib sudah berkumandang, Saya pun tak lupa memberikan sebuah analogi sederhana yang sering kita dengar. Analogi seperti, “Jika kamu diminta untuk memilih sebuah kue tart yang harga, ukuran, rasa, bahkan model dan warnanya sama tapi di jual di tempat yang berbeda, dalam artian yang satu di jual di pinggir jalan raya dan satunya di jual di sebuah kedai roti branded, mana yang akan kamu pilih, Dik?”. Lalu, dengan lantangnya dia menjawab,”Jelaslah Miss, milih yang di toko branded. Secara rotinya sama, harga sama, lebih higienis, dan nampak cantik”. Kemudian secara otomatis, Saya mengatakan,”Sama seperti perempuan, Dik. Etalase itu adalah pelindungnya dan etalasenya perempuan itu ya jilbabnya. Mengapa? Karena dengan berjilbab, perempuan pun juga tidak jauh berbeda dengan kue yang di jual di kedai roti branded tersebut. Dia pun langsung tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya menutup aurat itu tidak akan menjauhkan kita dari jodoh kok. Allah juga sudah dhawuh kalau jodoh, hidup/mati, dan rezeki sudah diatur sebelum kita lahir di dunia ini. Jadi tidak perlu takut jika kita berjilbab, hal itu akan mengurangi pamor kita dan sulit untuk menemukan pasangan hidup. Tapi hal itu kembali kepada pribadi masing-masing bagaimana menyikapi potret ini. Jadi, sebelum memikirkan apa yang terjadi dengan orang lain, marilah kita menginstropeksi diri termasuk tentang ketakwaan kita kepada yang Maha Pencipta. Bagaimana dengan kita????
Gandong, 11 Oktober 2014

Firdha Yunita

Selasa, 26 Agustus 2014

A beautiful gift from God

Augustt, 27th 2014

Never think before I will get what I want
It seems...
Flow....
Slow but sure

Behind my effort to obtain it
God gives the first one
Always and must be

Now... I certain...
There is no good saying to express my feeling
 the one and the only one

Whatever we do
Wherever we live
The most possible thing is
Don't ever to forget and close to God

God
Allah
Tuhan'
There are so many kinds of names,
But God is one... and the only one. Forever more

13.47 in the afternoon#windy#cold

Senin, 25 Agustus 2014

Just a little story

August, 26th 2014
Bismillah.

Well...may be this is not important for you to see even read my short story. I just wanna tell about what I am feeling now. My life is quite complicated today. So sorry if it is going to fulfill your page.

Actually, I want to concentrate in my job. I always try to do as well as possible I can.I think that I am a perfectionist girl. In my mind, I always say "Try to get 100 .... 100 ... 100". I knew 100 is only God has. However, 100 for me means highest score for my extra attempt.

Hmm... today... in AddirasatIslamiah, I am going to conduct final test before I leave the school. but, the fact is going to be different with my expectation.  Everything that needs for final test have done. But, there is a terrible trouble. Do you know? What is it? It relates to technology. I am getting trouble in how to print the test. Ahh.... I don't think before that it will be complicated enough. Finally, the final test today is FAILED. It makes me so dissapointed. How can it happen? Not long later I have to leave this school and finish my activity as a teacher to be.

I hope that only me who feel this moment....

Sabtu, 16 Agustus 2014

Rezeki Allah yang Datang dari Segala Penjuru Part II

Well...setelah kita berbicara di part I tentang wisata kuliner di hari Jum'at, sekarang saatnya kita menuju wisata kuliner pada hari Sabtu tanggal 16 Agustus 2014 di part II. Okay....let's go.

Perjalanan awal dari wisata kuliner tetap diawali pada saat salah satu Ustadzah di Addirasat Islamiah School Pattani Thailand yang bernama Kak.Zainab menjemput Saya di asrama untuk mengajak Saya bermalam di rumah Beliau. Karena sebelumnya belum ada janji, Saya pun tergesa-gesa untuk menyiapkan barang-barang yang hendak Saya bawa ke rumah Kak.Zainab. Setelah semuanya selesai, sekitar pukul 17.30 waktu setempat, Saya pun mulai meluncur ke rumah Beliau. Malam itu pun akhirnya Saya beralih tempat tidur dari kampung Latdua menuju kampung Chenang. 

Keesokan harinya, sekitar pukul 07.00 Kak.Zainab mengajak Saya untuk berwisata kuliner mencari sarapan di kedai-kedai dekat rumah. Hmm..maklumlah karena Saya itu unik, jadi sarapan itu makan tepung-tepung (bahasa Pattani untuk menyebut nama roti, snack, dan segala hal yang berbahan dasar tepung terigu) dan tidak suka nasi. Beruntungnya kak.Zainab bisa mengerti dan tidak memaksa Saya menyentuh bahkan memakan makanan yang tidak Saya sukai itu. Alhamdulilah.

Kemudian, setelah sholat dhuhur perjalana untuk berwisata kuliner pun segera dimulai. Kejadiannya pun hampir sama dengan kemarin sebenarnya, namun yang membedakan waktu, tempat, dan orang-orang yang terlibat. Untuk wisata kuliner kali ini, lagi-lagi Big C menjadi tempat singgah pertama. Big C sebenarnya bukan tempat yang akan menjadi tujuan kami. Alasan mampir ke Big C Pattani tersebut karena suami Kak.Zainab (Ustad Rusdi) hendak menghadiri meeting di Majelis Agama Pattani yang lokasinya tidak jauh dengan BIg C. Sambil menunggu Beliau meeting, kami (Kak.Zainab, Kak.Fatahiyah, Kak.Salmiyah, Kak.Sameeyah, dan Saya) memutuskan untuk hang out di Big C Pattani saja. Walhasil, kami pun turun di depan Big C dan membeli barang-barang yang kami butuhkan. Sebelum masuk ke Big C Pattani, kami pun sempat mengambil foto sebagia bukti dokumentasi. Hehehehe sedikit narsis..

Dari kiri (Kak.Sameeyah,Kak.Zainab, Saya (hehe), dan Kak.Salmiyah)


Kiri: Firdha Yunita, Kak.Zainab, kak.Fatahiyah, dan Kak.Sameeyah

Tak terasa 1 jam sudah kami pergi mengelilingi Big C Pattani hingga tak terasa waktu sholat ashar pun datang menghampiri kami. Sambil menunggu Ustad Rusdi menjemput kami, kami pun hendak pergi sembahyang di mushola Big C Pattani. Namun, setelah Saya pergi mengambil air wudhu, tiba-tiba Kak.Zainab berkata bahwa saudara Kak.Zainab sudah datang menjemput terlebih dahulu. So, Saya tidak jadi melaksanakan sholat ashar di mushola Big C Pattani. Kemudian...dengan mobil saudara Kak.Zainab, kami pun meluncur ke tempat tujuan kami untuk berwisata kuliner, that is ........ BUFFEE PATTANI (salah satu tempat makan prasmanan yang boleh makan sepuasnya dengan harga yang relatif terjangkau dan sajian menu yang beragam). Ini sedikit foto BUFFEE PATTANI

Tempat makan favorit orang Pattani yaitu di Buffee Pattani


Itulah gambaran tempat makan Buffee Pattani. Di sini lah kedai yang memberikan fasilitas kepada setiap pecinta kuliner. Di kedai ini, segala jenis masakan yang siap saji maupun mentah sudah terhidangkan dan bisa dinikmati oleh siapapun yang ingin mencicipinya. Menu-menu yang dihidangkan mulai dari makanan berat (nasi, nasi goreng, gulai, dan lain sebagainya), makanan ringan, dessert, dan yang tak lupa adalah namplau (es batu). Selama 2 jam kami mencicipi masakan demi masakan mulai dari yang sudah matang hingga mencoba untuk memasaknya di atas tungku kompor yang sudah disiapkan oleh pelayan kedai. Hmm...rasanya sungguh nikmat bisa datang dan mampir untuk menikmati masakan ditempat ini. Beruntung sekali, Allah memberi Saya kesempatan untuk datang di Buffee sebanyak 2 kali ini. Ini adalah kedua kalinya Saya menikmati menu-menu orang Thailand. Hehehe....semula Saya canggung untuk mengambil banyka, namun ternyata kalau tidak makan sepuasanya kita sedikit rugi. yaa....yang terpenting jangan sampai over saja. kalau kenyang, istirahat sebentar kemudian makan lagi. hhehe.... 

Buffee Pattani ini setiap harinya buka mulai dari pukul 11.00 - 22.00 waktu setempat. Setiap harinya, Buffee Pattani tidak pernah sepi pengunjung. Bagaimana mau sepi kalau setiap orang boleh menikmati semua hidangan yang disajikan. Catatannya makan di Buffee Pattani ini yaitu dilarang untuk membawa makanan atau minuman dari luar. jadi kalau hendak makan dan minum yaa silahkan mengambil dan menikmati makanan yang ada di Buffee tersebut. Baiklah...sekarang Saya akan memberikan informasi mengenai harganya. Berdasarkan struk pembelian yang Saya lihat, tertulis bahwa:
Dewasa = 99 Baht
Kanak-kanak = 80 Baht
Budak kecil = 40 Baht
Soft drink botol 1 L = 50 Baht
Air putih 1 L = 40 Baht
Namplau = 10 Baht
Itulah daftar harga yang tertera di Buffee Pattani, sehingga kalau kalian hendak singgah siapkan money yang cukup untuk menikmati hidangan-hidangan tersebut. Sebelum Saya akhiri, saya hendak berbagi foto Saya bersama keluarga Kak.Zainab...Selamat melihat...


Bersama Kak.Romlah dan putri terakhir dari tiga bersaudara


green nodle.... I like it...!


Togetherness in buffee pattani. Thanks God!


Selamat Makan....


Inilah wadah yang digunakan untuk memasak apapun yang ingin dimakan. Hhhe


That is me!


Mantaaaabbb!!!! Aroi Cing - cing (Sungguh Sedapppppp)


Tak lupa ...inilah foto pemilih kedai 

Ternyata pemilik kedai adalah kawan Ustad Rusdi (suami Kak.Zainab)


Foto terakhir sebelum meninggalkan Buffee Pattani

Sekian perjalanan kuliner Saya di bumi Pattani Thailand... See you in my next journey !!! Bye...

Rezeki Allah yang Datang dari Segala Penjuru

August, 16th 2014.
Bismillah....

Tulisan ini Saya tulis berdasarkan pengalaman Saya selama dua hari ini berturut-turut. Keyakinan Saya bahwa kesabaran akan berbuah manis jika waktunya sudah tiba itu ternyata sangat bisa Saya rasakan selama 2 hari ini. Tepat di hari-hari terakhir sebelum Saya meninggalkan bumi Pattani-Thailand ini, Allah menunjukkan keajaibannya satu per satu. Allhamdulillah....kata-kata mujarab yang sering terlontar sebagai wujud syukur atas nikmat yang Allah titipkan untuk hamba-Nya.

Cerita ini bermula dari hal yang tidak Saya duga sebelumnya. Berawal dari hari Jum'at kemarin sekitar pukul 10.30 orang tua angkat Saya di bumi Pattani menelpon Saya dan mengajak Saya untuk pergi ke bandar Pattani dan pergi menghadiri acara Halal bi Halal di tempat anak keduanya (panggil: Fateen Waebusa). Sekitar pukul 12.00 kami sekeluarga sampai di bandar Pattani. Karena hari itu adalah hari Jum'at dan laki-laki harus melaksanakan sholat Jum'at dahulu, maka Mama mengajak Saya untuk menikmati makan siang dahulu di Big C Pattani (nama mall) sembari menunggu Baboo melaksanakan sholat Jum'at. Kemudian kami bertiga (Mama, Adik Fida' (anak ketiga), dan Saya) berjalan kaki untuk pergi mengisi perut di food court Big C Pattani. Alhamdulillah..ini adalah pertama kalinya Saya bisa mencicipi menu makanan di mall Pattani sebelum Saya terbang kembali ke Indonesia (untuk fotonya bisa dilihat di bawah ini)

Itulah semangkuk makanan yang bisa Saya nikmati di Big C Pattani yang dibandrol 40 Baht per porsi. Meski sedikit mahal, namun jangan tanya. Rasa dan aromanya menggugah selera. Hehehe. 

Setelah Kami merasa kenyang dan Baboo pun juga sudah selesai melaksanakan sholat Jum'at serta menikmati menu di Big C Pattani, kami pun melanjutkan perjalanan untuk pergi ke sekolah Fateen yang terletak di Pattani. Sesampainya di sana, alhamdulillah Allah mengirimkan air sejuk dari langit yang berwarna kelabu untuk memberi kesejukan tanah yang kering itu. Itulah hujan yang cukup lebat. Sambil melihat hujan yang diiringi dengan suara guntur yang bersahut-sahutan, kami menunggu Fateen lebih dari 30 menit.Lalu, setelah bertemu Fateen dan semua urusan dianggap selesai (pada hari itu saja), kami pun berlari pergi ke pintu gerbang untuk menunggu mobil Baboo. Alhamdulillah sedikit air hujan membasahi gamis dan jilbab Saya (terasa sejuk apalagi didalam mobil AC dibuat On). 

Setelah kami berbincang-bincang cukup lama, tidak disangka bahwa keluarga orang tua angkat Saya hendak pergi menikmati menu makanan di food court Pattani. Kali ini bukan Big C lagi meski tempatnya di Pattani juga. Nama tempat yang akan dikunjungi ini adalah Bagus Coffee. Seperti sebuah food court  yang menyajikan berbagai menu makanan, mulai dari makanan berat, ringan, soft drink, hingga desert. Semuanya lengkap dan harganya pun bervariatif. Di tempat ini, kami pergi sekeluarga ditambah juga Umi (Ibu Baboo). Ini adalah kali kedua Saya pergi makan di Bagus Coffee ini. Berikut adalah dokumentasi Saya di Bagus Coffee:
 Ini adalah menu andalan Saya yaitu steak ayam yang dibandrol 80 Baht untuk satu porsinya. Rasanya wow.....luar biasa. Terdiiri dari daging ayam tanpa tulang, french fries, roti tawar, wortel cincang halus, kobis ungu dan hijau, sayur, jagung, saos tomat, saos kacang dan mayonaise.So yummy....!
 Action saat mencicipi....



Bersama dengan keluarga besar Addirasat Islamiah hari Jumat kemarin. 

Itulah kenangan kami pada hari Jumat kemarin. Tidak hanya itu saja melainkan wisata kuliner Saya lanjutkan pada hari Sabtu kali ini. Alhamdulillah... (to be continued)



Rabu, 30 Juli 2014

Menuntut Ilmu di Lembaga Formal meski sudah Menikah

Sudah Menikah?
Namun, ingin Menimba Ilmu se-tingkat Tsanawi dan Aliyah?
 Simple: It is no problem for Pattani - Thailand
Firdha Yunita Nur Aisyiyah
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Fakultas Tadris Bahasa Inggris
Institut Agama Islam Negeri Tulungagung

Abstrak

Apabila buku dikatakan sebagai jendela dunia, maka ilmu pun bisa juga dikatakan sebagai penerang dunia. Ilmu adalah sesuatu yang abstrak, namun keberadaannya sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Hidup di dunia yang semakin berkembang karena derasnya arus globalisasi ini, menuntut setiap insannya untuk bisa berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Berkembangnya manusia tidak akan bisa dirasa dan diperoleh tanpa adanya ilmu. Hal itu dikarenakan, ilmu merupakan sesuatu yang mendasari terbentuknya sebuah pengetahuan. Dalam kaitannya dengan pendidikan, ilmu pendidikan merupakan sebuah kebutuhan untuk setiap manusia yang hendak merasakan dunia belajar dan mengajar. Ilmu pendidikan dalam artian pendidikan formal itu pun dapat dicapai ketika kita konsisten untuk mengikuti jenjang pendidikan yang sudah ditetapkan, yakni mulai dari TK (Roudoh) , SD (Ibtidaiyah), SMP (Tsanawi), SMA (Aliyah) hingga Universitas. Tidak jarang, ketika masih menjadi seorang pelajar apalagi masih di tingkat SMP (Tsanawi) dan SMA (Aliyah), berbagai hal yang merusak program pendidikan pun mereka lakukan hanya atas dasar rasa penasaran seperti MBA (Married By Accident). Alhasil, banyak para pelajar yang semula duduk di tingkat SMP dan SMA terpaksa harus berhenti sekolah. Pernikahan dini pun kerap menjadi trending topic di kalangan pelajar Indonesia yang mana mengharuskan mereka untuk menyudahi pendidikan formal khususnya tingkat di bawah Universitas. Akan tetapi hal itu berbeda dengan konteks di wilayah Pattani – Thailand. Sebaliknya, di Pattani – Thailand menikah dahulu kemudian menuntut ilmu bukanlah sebuah problematika. Artikel ini pun bertujuan untuk memaparkan tentang fakta unik di wilayah Pattani – Thailand seputar menempuh pendidikan formal di tingkat Tsanawi dan Aliyah dengan kondisi yang sudah menikah. Sesungguhnya , pernikahan bukanlah momok terberat yang bisa menghancurkan pendidikan formal khususnya untuk pelajar di tingkat Tsanawi dan Aliyah.
Kata kunci: sudah menikah, menuntut ilmu, tingkat Tsanawi dan Aliyah, wilayah Pattani - Thailand.
Jika kita membaca buku PKn kelas VIII / IX SMP atau membaca berbagai tulisan yang berhubungan dengan dunia pendidikan, banyak pernyataan yang menyebutkan tentang arti pendidikan. Salah satu artinya yang bisa dikatakan fenomenal yaitu pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pada dasarnya, pendidikan dapat diperoleh baik secara formal maupun non-formal. Pendidikan formal dapat diperoleh ketika kita mengikuti progam-program yang sudah dirancang secara terstruktur oleh suatu intitusi, departemen atau kementerian suatu negara. Sedangkan pendidikan non-formal adalah pengetahuan yang didapat manusia (peserta didik) dalam kehidupan sehari-hari (berbagai pengalaman) baik yang dia rasakan sendiri atau yang dipelajari dari orang lain (mengamati dan mengikuti).
Pendidikan memang mempunyai peranan yang amat penting untuk memperbaiki kualitas anak – anak bangsa. Dengan pendidikan yang tinggi dan pengetahuan yang tidak sedikit, hal itu dapat memberikan dampak positif terhadap kemajuan suatu negara. Karena itulah, kerap sekali dijumpai beasiswa – beasiswa yang diberikan kepada setiap peserta didik yang haus akan pengetahuan. Bahkan fenomena sekarang ini banyak orang tua rela mengeluarkan ratusan juta demi pendidikan buah hatinya. Itulah konteks pendidikan yang semakin mendominasi dunia yang bertujuan demi menjaga eksistensi suatu negara.
Mengaca dari pentingnya pendidikan di era sekarang ini, sering kali kita mendapati bahwa tidak sedikit remaja yang tidak mengenyam pendidikan khususnya pendidikan formal. Hal itu disebabkan karena beberapa faktor yang salah satunya karena mereka ingin menikah terlebih dahulu atau karena MBA (Married By Accident). Kita ambil contoh pendidikan di Indonesia. Mengutip data yang diambil dari detik.com, jumlah penduduk di Indonesia saat ini masih masuk kategori 5 besar. Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan jumlah penduduk mencapai 253,60 juta jiwa.[1] Dari jumlah penduduk yang membludak itu, banyak sekali diantaranya adalah anak – anak dan remaja yang tidak mengenyam bangku sekolah karena alasan pernikahan dini. Sedangkan kita tahu bahwa berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa anak – anak dan remaja wajib mengenyam pendidikan wajib belajar 12 tahun.[2] Sehingga sangat riskan sekali jika di usia mereka yang masih butuh pendidikan formal, harus kandas karena adanya pernikahan dini.
Jika di Indonesia tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan dengan kondisi yang sudah menikah, hal ini berbeda 360’ dengan konteks yang ada di bumi Pattani – Thailand. Sebelum mengetahui apa alasan yang mendasari sehingga meskipun sudah menikah kemudian menuntut ilmu khususnya di tingkat Tsanawi dan Aliyah (standar SMP dan SMA) itu diperbolehkan, mari menengok dahulu tentang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (Hadits ini dishahihkan oleh Al Banni didalam Shahihut Targhib wat Tarhib). Kemudian ada juga pendapat dari Imam Al Qurthubi yang mengatakan bahwa menikah adalah menjaga kesucian diri dari perbuatan zina sedangkan seorang yang ‘affaf (menjaga kesucian diri) adalah salah satu dari dua orang yang dijamin Rasulullah saw dengan surga, sebagaimana sabdanya saw, ”Barangsiapa yang Allah lindungi dirinya dari dua tempat kejahatan maka dia akan dimasukkan ke surga yaitu antara dua rahangnya dan antara dua kakinya.” (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an). Dua pendapat itulah yang sekiranya menguatkan masyarakat wilayah Pattani – Thailand memperbolehkan menikah dahulu kemudian belajar meski masih ditingkat setara SMP dan SMA atau bisa dikatakan tingkat di bawah Universitas. Fakta unik ini pun disambut dengan tangan terbuka dan bukan sebuah permasalahan pelik yang wajib untuk dihindari khususnya di wilayah Pattani – Thailand.
Di zaman dahulu sekitar 30 tahunan yang lalu memang sering kali kita menjumpai pelajar tingkat Tsanawi dan Aliyah menikah terlebih dahulu. Bahkan ada juga kedua pasangan tersebut (suami dan istri) belajar di tempat, tingkatan, dan kelas yang sama. Kemudian ada juga yang belajar dengan keadaan perut membuncit (mengandung), ada juga yang belajar mengajak anak mereka bahkan memberi ASI di sekolah. Potret kultur pendidikan yang unik itu pun mudah dinikmati di era dulu. Akan tetapi, sekarang ini masih ada meski prosentasenya terbilang lebih sedikit dari yang dahulu. Masyarakat Pattani memang menganggap bahwa pernikahan adalah salah satu jalan untuk menghindari perzinaan. Pernikahan pun wajib dilaksanakan apabila sudah benar – benar siap baik secara lahir maupun batin. Apabila sang empunya ingin menikmati pendidikan dahulu, itu pun tidak jadi masalah. Sehingga meskipun sudah menikah, pendidikan pun tetap bisa didapatkan bagi siapa saja yang bersedia untuk belajar.
Pemerintahan di wilayah Pattani – Thailand sesungguhnya memberi kemudahan kepada pasangan muda – mudi untuk segera menikah jikalau sama- sama sudah siap dan cocok. Hal itu juga efektif untuk mengurangi derajat dosa mereka. Namun, zaman sekarang sulit untuk memahamkan mereka akan hal itu. Mereka merasa malu jika mereka harus berkeluarga di usia mereka yang masih dikatakan sangat muda. Akan tetapi, menjadi dosa besar pula jika mereka hanya bermain “pacar – pacaran” saja sedangkan dalam islam tidak ada yang namanya “pacaran”. Sehingga konteks pun menjadi bercampur antara islam yang memegang teguh segala aturan yang dibuat semata- mata demi menjaga setiap umatnya dengan kehidupan remaja di era globalisasi saat ini. Melihat keadaan yang semacam itu, sudah sepatutnya kita sebagai umat islam memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai tiang kita dalam menitih kehidupan. Jikalau menikah terlebih dahulu adalah solusi yang tepat untuk menghindari kemaksiatan, hal itu bisa saja dilakukan dan harus siap dengan segala konsekuensinya. Setelah itu boleh melanjutkan untuk mengenyam pendidikan. Namun, alangkah lebih baiknya jika kita sebagai generasi muda yang berfikiran luas, masih mengutamakan pendidikan dan pengetahuan sebanyak mungkin. Sesungguhnya pendidikan dan pengetahuan yang luas sedikit banyak mempengaruhi pola berfikir manusia untuk menjadi manusia yang berkarakter dan bermanfaat untuk sesama.








REFERENSI
Masyarakat di wilayah Pattani - Thailand