Rabu, 30 Juli 2014

Menuntut Ilmu di Lembaga Formal meski sudah Menikah

Sudah Menikah?
Namun, ingin Menimba Ilmu se-tingkat Tsanawi dan Aliyah?
 Simple: It is no problem for Pattani - Thailand
Firdha Yunita Nur Aisyiyah
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Fakultas Tadris Bahasa Inggris
Institut Agama Islam Negeri Tulungagung

Abstrak

Apabila buku dikatakan sebagai jendela dunia, maka ilmu pun bisa juga dikatakan sebagai penerang dunia. Ilmu adalah sesuatu yang abstrak, namun keberadaannya sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Hidup di dunia yang semakin berkembang karena derasnya arus globalisasi ini, menuntut setiap insannya untuk bisa berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Berkembangnya manusia tidak akan bisa dirasa dan diperoleh tanpa adanya ilmu. Hal itu dikarenakan, ilmu merupakan sesuatu yang mendasari terbentuknya sebuah pengetahuan. Dalam kaitannya dengan pendidikan, ilmu pendidikan merupakan sebuah kebutuhan untuk setiap manusia yang hendak merasakan dunia belajar dan mengajar. Ilmu pendidikan dalam artian pendidikan formal itu pun dapat dicapai ketika kita konsisten untuk mengikuti jenjang pendidikan yang sudah ditetapkan, yakni mulai dari TK (Roudoh) , SD (Ibtidaiyah), SMP (Tsanawi), SMA (Aliyah) hingga Universitas. Tidak jarang, ketika masih menjadi seorang pelajar apalagi masih di tingkat SMP (Tsanawi) dan SMA (Aliyah), berbagai hal yang merusak program pendidikan pun mereka lakukan hanya atas dasar rasa penasaran seperti MBA (Married By Accident). Alhasil, banyak para pelajar yang semula duduk di tingkat SMP dan SMA terpaksa harus berhenti sekolah. Pernikahan dini pun kerap menjadi trending topic di kalangan pelajar Indonesia yang mana mengharuskan mereka untuk menyudahi pendidikan formal khususnya tingkat di bawah Universitas. Akan tetapi hal itu berbeda dengan konteks di wilayah Pattani – Thailand. Sebaliknya, di Pattani – Thailand menikah dahulu kemudian menuntut ilmu bukanlah sebuah problematika. Artikel ini pun bertujuan untuk memaparkan tentang fakta unik di wilayah Pattani – Thailand seputar menempuh pendidikan formal di tingkat Tsanawi dan Aliyah dengan kondisi yang sudah menikah. Sesungguhnya , pernikahan bukanlah momok terberat yang bisa menghancurkan pendidikan formal khususnya untuk pelajar di tingkat Tsanawi dan Aliyah.
Kata kunci: sudah menikah, menuntut ilmu, tingkat Tsanawi dan Aliyah, wilayah Pattani - Thailand.
Jika kita membaca buku PKn kelas VIII / IX SMP atau membaca berbagai tulisan yang berhubungan dengan dunia pendidikan, banyak pernyataan yang menyebutkan tentang arti pendidikan. Salah satu artinya yang bisa dikatakan fenomenal yaitu pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pada dasarnya, pendidikan dapat diperoleh baik secara formal maupun non-formal. Pendidikan formal dapat diperoleh ketika kita mengikuti progam-program yang sudah dirancang secara terstruktur oleh suatu intitusi, departemen atau kementerian suatu negara. Sedangkan pendidikan non-formal adalah pengetahuan yang didapat manusia (peserta didik) dalam kehidupan sehari-hari (berbagai pengalaman) baik yang dia rasakan sendiri atau yang dipelajari dari orang lain (mengamati dan mengikuti).
Pendidikan memang mempunyai peranan yang amat penting untuk memperbaiki kualitas anak – anak bangsa. Dengan pendidikan yang tinggi dan pengetahuan yang tidak sedikit, hal itu dapat memberikan dampak positif terhadap kemajuan suatu negara. Karena itulah, kerap sekali dijumpai beasiswa – beasiswa yang diberikan kepada setiap peserta didik yang haus akan pengetahuan. Bahkan fenomena sekarang ini banyak orang tua rela mengeluarkan ratusan juta demi pendidikan buah hatinya. Itulah konteks pendidikan yang semakin mendominasi dunia yang bertujuan demi menjaga eksistensi suatu negara.
Mengaca dari pentingnya pendidikan di era sekarang ini, sering kali kita mendapati bahwa tidak sedikit remaja yang tidak mengenyam pendidikan khususnya pendidikan formal. Hal itu disebabkan karena beberapa faktor yang salah satunya karena mereka ingin menikah terlebih dahulu atau karena MBA (Married By Accident). Kita ambil contoh pendidikan di Indonesia. Mengutip data yang diambil dari detik.com, jumlah penduduk di Indonesia saat ini masih masuk kategori 5 besar. Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan jumlah penduduk mencapai 253,60 juta jiwa.[1] Dari jumlah penduduk yang membludak itu, banyak sekali diantaranya adalah anak – anak dan remaja yang tidak mengenyam bangku sekolah karena alasan pernikahan dini. Sedangkan kita tahu bahwa berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa anak – anak dan remaja wajib mengenyam pendidikan wajib belajar 12 tahun.[2] Sehingga sangat riskan sekali jika di usia mereka yang masih butuh pendidikan formal, harus kandas karena adanya pernikahan dini.
Jika di Indonesia tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan dengan kondisi yang sudah menikah, hal ini berbeda 360’ dengan konteks yang ada di bumi Pattani – Thailand. Sebelum mengetahui apa alasan yang mendasari sehingga meskipun sudah menikah kemudian menuntut ilmu khususnya di tingkat Tsanawi dan Aliyah (standar SMP dan SMA) itu diperbolehkan, mari menengok dahulu tentang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (Hadits ini dishahihkan oleh Al Banni didalam Shahihut Targhib wat Tarhib). Kemudian ada juga pendapat dari Imam Al Qurthubi yang mengatakan bahwa menikah adalah menjaga kesucian diri dari perbuatan zina sedangkan seorang yang ‘affaf (menjaga kesucian diri) adalah salah satu dari dua orang yang dijamin Rasulullah saw dengan surga, sebagaimana sabdanya saw, ”Barangsiapa yang Allah lindungi dirinya dari dua tempat kejahatan maka dia akan dimasukkan ke surga yaitu antara dua rahangnya dan antara dua kakinya.” (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an). Dua pendapat itulah yang sekiranya menguatkan masyarakat wilayah Pattani – Thailand memperbolehkan menikah dahulu kemudian belajar meski masih ditingkat setara SMP dan SMA atau bisa dikatakan tingkat di bawah Universitas. Fakta unik ini pun disambut dengan tangan terbuka dan bukan sebuah permasalahan pelik yang wajib untuk dihindari khususnya di wilayah Pattani – Thailand.
Di zaman dahulu sekitar 30 tahunan yang lalu memang sering kali kita menjumpai pelajar tingkat Tsanawi dan Aliyah menikah terlebih dahulu. Bahkan ada juga kedua pasangan tersebut (suami dan istri) belajar di tempat, tingkatan, dan kelas yang sama. Kemudian ada juga yang belajar dengan keadaan perut membuncit (mengandung), ada juga yang belajar mengajak anak mereka bahkan memberi ASI di sekolah. Potret kultur pendidikan yang unik itu pun mudah dinikmati di era dulu. Akan tetapi, sekarang ini masih ada meski prosentasenya terbilang lebih sedikit dari yang dahulu. Masyarakat Pattani memang menganggap bahwa pernikahan adalah salah satu jalan untuk menghindari perzinaan. Pernikahan pun wajib dilaksanakan apabila sudah benar – benar siap baik secara lahir maupun batin. Apabila sang empunya ingin menikmati pendidikan dahulu, itu pun tidak jadi masalah. Sehingga meskipun sudah menikah, pendidikan pun tetap bisa didapatkan bagi siapa saja yang bersedia untuk belajar.
Pemerintahan di wilayah Pattani – Thailand sesungguhnya memberi kemudahan kepada pasangan muda – mudi untuk segera menikah jikalau sama- sama sudah siap dan cocok. Hal itu juga efektif untuk mengurangi derajat dosa mereka. Namun, zaman sekarang sulit untuk memahamkan mereka akan hal itu. Mereka merasa malu jika mereka harus berkeluarga di usia mereka yang masih dikatakan sangat muda. Akan tetapi, menjadi dosa besar pula jika mereka hanya bermain “pacar – pacaran” saja sedangkan dalam islam tidak ada yang namanya “pacaran”. Sehingga konteks pun menjadi bercampur antara islam yang memegang teguh segala aturan yang dibuat semata- mata demi menjaga setiap umatnya dengan kehidupan remaja di era globalisasi saat ini. Melihat keadaan yang semacam itu, sudah sepatutnya kita sebagai umat islam memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai tiang kita dalam menitih kehidupan. Jikalau menikah terlebih dahulu adalah solusi yang tepat untuk menghindari kemaksiatan, hal itu bisa saja dilakukan dan harus siap dengan segala konsekuensinya. Setelah itu boleh melanjutkan untuk mengenyam pendidikan. Namun, alangkah lebih baiknya jika kita sebagai generasi muda yang berfikiran luas, masih mengutamakan pendidikan dan pengetahuan sebanyak mungkin. Sesungguhnya pendidikan dan pengetahuan yang luas sedikit banyak mempengaruhi pola berfikir manusia untuk menjadi manusia yang berkarakter dan bermanfaat untuk sesama.








REFERENSI
Masyarakat di wilayah Pattani - Thailand



Selasa, 22 Juli 2014

Sabar

July, 22nd 2014
Bismillah.
Hari ini adalah hari dimana Saya bisa dikatakan muak terhadap murid Saya. Sebenarnya untuk menjadi seorang guru itu tidak diperbolehkan untuk berfikiran negative bahkan membenci muridnya sendiri. Namun, sejujurnya Saya tidak membenci dan mencemooh mereka. Hanya saja Saya tidak terlalu suka melihat ketidakseriusan mereka dalam belajar. Senakal – nakalnya Saya, Saya masih mencoba untuk mengerjakan apa yang guru Saya katakan. Saya hanya kasihan terhadap mereka jika suatu hari nanti mereka akan kesulitan untuk memahami setiap pelajaran yang dahulunya mereka tidak sungguh – sungguh dalam belajar. Itu saja. Saya berada di sini selama kurang lebih 4 bulan ini semata – mata karena Saya ingin membantu mereka. Dari yang mereka tidak tahu, Saya ingin membantunya agar mereka tahu. Saya ingin membuka cakrawala mereka seluas mungkin. Saya ingin menunjukkan mereka bahwa dunia ini luas dan indah. Jangan hanya duduk berdiam di sangkar jika kita ingin tahu arti kehidupan. coba dan rasakan berbagai keadaan yang dahulunya tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Sesungguhnya hal dan keadaan baru tidak menjadikan kita semakin kerdil dan lemah, melainkan dengan keadaan seperti itu kita dituntut untuk bisa bagaimana cara untuk bertahan hidup. Hanya ada diri sendiri dan Allah sebagai tempat mengadu kita. Seperti itu niat Saya hingga Saya tidak pernah berfikir kapan dan dimana Saya harus berlibur. Tidak pernah terfikirkan. Di otak ini hanya ada mereka…mereka…dan mereka. Ingin melihat mereka sukses, rajin, ddan sungguh – sungguh.
Apa yang Saya alami hari ini di kelas M – 2 / 1 membuat Saya semakin trenyuh akan keadaan mereka. Betapa inginnya hati ini untuk menggembleng mereka setiap harinya. Saya bersedia letih jika mereka benar – benar bersungguh – sungguh. Saya lebih mengorbankna tugas – tugas Saya demi mereka jika mereka juga bersedia berjuang sama – sama. Namun, kenyataan yang ada motivasi dan niat mereka masih sangat kurang, sehiingga mereka masih sulit untuk bersungguh – sungguh khususnya dalam belajar bahasa inggris.
Niat Saya malam ini untuk menemui Bedi pun Saya tanggalkan. Semua itu karena Saya berfikir tidak ada waktu untuk mereka mengikuti agenda yang Saya buat. Selepas belajar di sekolah, mereka harus pulang dan mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk bermalam di Addirasat. Lepas buka puasa, mereka pun akan mengiukti sholat tarawih berjamaah dan tadarus Al-Qur’an. Malamnya mereka tidur untuk persiapan makan sahur. Lalu persiapan pergi sholat Subuh, baca Al-Qur’an dan pulang ke rumah semuanya. Seperti itulah. Sehingga, Saya rasa tidak ada waktu untuk mereka mengikuti agenda CCU class Saya. Namun, suatu hari nanti Saya akan tetap memperkenalkan semuanya yang berkiatan tentang Indonesia, IAIN TULUNGAGUNG, dan KOTA TULUNGAGUNG sebelum Saya balik ke Indonesia. Insyallah.. amin.
23.46 Addirasat Islamiah School
Firdha Yunita

H - 1

July, 22nd 2014
Bismillah.
Semakin mendekati hari libur hari raya. Tinggal besok adalah hari terakhir berjumpa dengan semua siswa di Addirasat Islamiah School. Rasanya hari – hari Saya akan sepi tanpa mereka. Keceriaan mereka, kegaduhan mereka, kemalasan mereka itu membuat suasana menjadi hidup. Jika semua pulang ke rumah dan tidak ada satu siswa pun yang duduk di asrama, apa jadinya Saya? Ketakutan sebelum tibanya hari Kamis, hari dimana semuanya meninggalkan asrama. Orang tua asuh Saya pun akan pergi ke Malaysia hari Kamis ini. Rencananya mereka akan mengajak Saya pergi ke Malaysia, namun Saya takut mengenai visa Saya. Saya takut visa akan mati dan Saya harus mengurus semuanya lagi dari nol. Oh My God…jangan sampai itu terjadi. Lantas, apa yang harus Saya lakukan esok hari Kamis? Duduk di asrama seorang tanpa ada siapa pun yang duduk di sini? Hanya duduk berdua dengan Umi? Ampun daah!!! Jangan Ya Allah… Saya tidak terlalu suka dengan suasana seperti itu. Seperti duduk di bumi ini hanya seorang diri. Puas! Semoga hal itu tidak terjadi dan Saya diperbolehkan pergi ke Malaysia bersama orang tua asuh Saya plus tidak ada kendala dengan visa Saya. Amin ya Allah.
Esok hari akan diadakan acara buka bersama di sekolah sekaligus salam perpisahan semua siswa Addirasat Islamiah. Rencananya Saya ingin memasukkan agenda di dalamnya yaitu agenda yang berkaitan tentang Indonesia. Beberapa Universitas Islam di Indonesia, memperkenalkan almamater Saya, mengenalkan berbagai obyek wisata di Indoneisa, memperkenalkan Tulungagung, serta tentang budaya islam di Indonesia. Hari ini Saya ingin berkonsultasi dengan Bedi dan semoga Bedi mendukung agenda Saya ini. Semoga saja dan yang pasti ada game setelah materi, yaitu game yang berkaitan dengan materi yang sudah disampaikan. Semoga saja dan hari ini pun Saya akan berkonsultasi mengenai hal ini. Secepatnya…
Hari ini juga Saya akan membuat artikel 1 lagi sebelum hari raya tiba. Planning Saya, semua tugas Saya akan segera Saya selesaikan di sini dan di Indonesia hanya temu kangen  bersama seluruh keluarga. Ya…. Semuanya, termasuk penelitian SKRIPSI Saya. Apapun yang terjadi Saya akkn melakukan penelitian di sini sesuai dengan permasalahan. Obyeknya sudah ada yaitu M – 1 / 1 setara dengan kelas 1 SMP. Banyak sekali permasalahannya, seperti kesulitan menulis dalam ejaan bahasa inggris, kesulitan menghafal ABC, kesulitan dalam menguasai kosa kata bahasa inggris, kesulitan berbicara dalam bahasa inggris, dan lain sebagainya. Tinggal melihat hasil pre – test yang ke II hari ini. apakah ada peningkatan atau tidak. Pre – test pun akan Saya lakukan selama III sebelum libur hari raya dan selama libur itu akan Saya gunakan untuk menyusun proposal skripsi. Semoga proposal yang akan Saya ajukan nanti di acc oleh pihak kampus. Amin ya Allah… yang terpenting adalah USAHA. Ingat Firdha…”Man Jadda wa Jada”.
11.28 Addirasat Islamiah School
Firdha Yunita

Minggu, 20 Juli 2014

Artikel 2

1435 H, Nuansa Semerbak Ramadhan di Bumi Pattani Thailand
Firdha Yunita Nur Aisyiyah
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Fakultas Tadris Bahasa Inggris
Institut Agama Islam Negeri Tulungagung

Abstrak

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, barokah, serta ampunan dari Allah SWT. Bulan dimana seluruh umat muslim dan muslimah selalu menantikannya dan senantiasa berharap untuk berjumpa dengan bulan ini. Di bulan  Ramadhan ini pula Allah SWT mengobral pahala semurah – murahnya kepada seluruh umat-Nya tanpa terkecuali. Jadi tidak heran jikalau seluruh umat Islam berlomba – lomba untuk mendapatkan ridho dari Allah yang dapat menghantarkan menuju janah-Nya yang hakiki. Suasana kehangatan ramadhan yang dapat dinikmati oleh seluruh umat islam di dunia, kali ini dapat dirasakan di wilayah Pattani – Thailand. Perlu diketahui bahwa negara Thailand juga memiliki warga negara yang beragama islam meski prosentasenya lebih sedikit dibandingkan dengan agama Budha. Sehingga, penduduk islam yang ada di wilayah Thailand dijuluki dengan islam minority. Meskipun minoritas, namun hal itu tidak menyurutkan semangat keislaman mereka melainkan mereka menikmati dan mensyukurinya. Salah satu bentuk rasa syukur mereka yakni mereka merayakan bulan ramadhan dengan suka cita dan saling berbagi sesama muslim. Artikel ini pun bertujuan untuk memberikan informasi seputar suasana bulan Ramadhan di wilayah Pattani Thailand. Sensasinya pun akan berbeda dengan ramadhan di negara – negara lain. Akan tetapi satu hal yang pasti sama, yaitu kebersamaan dan kerukunan yang diciptakan oleh umat islam akan terasa kental dan semakin menghangatkan ramadhan 1435 H kali ini.
Kata kunci: bulan ramadhan, suasana ramadhan, bumi Pattani - Thailand. 
Aroma harum Ramadhan 1435 H kali ini jatuh pada tanggal 28 / 29 Juni 2014. Seluruh umat Islam pun bersorak gembira menyambut datangnya bulan ini. Bulan yang mana umat Islam diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, mengerjakan amal sholeh sebanyak – banyaknya dan berbuat baik kepada sesama semata – mata demi mengharap ridho Allah SWT. Merdu suara adzan magrib sebagai pertanda masuk waktu buka puasa menjadi momen yang selalu dinanti – nanti oleh ribuan umat Islam yang telah menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu selama seharian. Suara alunan merdu asma – asma Allah, ayat demi ayat Al-Qur’an, bahkan nasyid islami pun bisa dinikmati di berbagai tempat. Tidak hanya itu, sholat tarawih berjamaah menjadi pelengkap di setiap malam – malam ramadhan. Kemudian, satu hal yang tidak wajib namun sekarang hukumnya bak kita menunaikan ibadah sholat lima waktu yakni dentuman dan warna – warni kembang api baik siang, sore, ataupun malam hari. Semuanya merupakan momen – momen menakjubkan yang hanya bisa dinikmati di bulan ramadhan penuh berkah yaitu bulan Ramadhan.
Ramadhan di bumi Pattani – Thailand pun hampir sama dengan uraian pada paragraf di bagian atas. Banyak hal yang dapat dilakukan dan terasa ada sense yang berbeda dari hari ke hari. Ramadhan di sini sangat tenang, senyap dan serasa ramadhan ini milik pribadi yang selamanya akan melekat khususnya di hati umat Islam. Rasa senyap tersebut dapat dirasakan di detik – detik terakhir menjelang waktu berbuka puasa. Hal itu dikarenakan masyarakat Pattani – Thailand sangat jarang memanfaatkan waktu berbuka dengan berbuka di kedai – kedai makanan. Mereka memilih menikmati waktu berbuka puasa di dalam rumah mereka yang tenang dan damai. Selepas berbuka puasa, setiap malamnya dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah. Sehingga sangat jarang kita temukan orang yang berlalu lalang di jalan raya pada jam – jam malam tersebut. Kebanyakan dari mereka memilih untuk melaksanakan sholat tarawih di masjid – masjid terdekat di rumah mereka, bahkan bagi mereka yang tinggal di asrama (pondok), mereka diwajbkan menunaikan ibadah sholat tarawih di asrama (pondok) itu pula. Hal itu dilakukan karena ingin mengurangi resiko / hal – hal yang tidak diinginkan.
Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan untuk pergi menikmati keramaian kota. Keramaian tersebut bisa dinikmati pada jam – jam sebelum berbuka puasa yaitu sekitar pukul 15.00 – 18.00 waktu setempat. Di waktu – waktu itu, tidak sulit untuk kita menemukan menu buka puasa sekaligus sahur sesuai dengan keinginan kita. Pasalnya, di area – area seperti pasar dan sekitarnya, puluhan pedagang kaki lima dan kedai – kedai menjajakan dagangan mereka. Seperti halnya buah tama (kurma), manih (manisan), es, lauk – pauk, buah – buahan, fast food, dan lain sebagainya sudah tersedia dan dikemas dengan menarik. Pedagang dan kedai – kedai itu pun akan segera mengemasi barang dagangan mereka jika waktu sudah mendekati hampir pukul 18.30 waktu setempat (menunjukkan waktu berbuka puasa).
Setelah waktu berbuka puasa sudah cukup, malam harinya seperti ramadhan – ramadhan sebelumnya, banyak orang pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat tarawih. Inilah yang nampak berbeda dengan tarawih di tempat lain. Di wilayah Pattani – Thailand ini, waktu pelaksanaan sholat tarawih paling sedikit 1 – 1.5 jam. Ada juga sholat tarawih yang dimulai pada pukul 24.00 hingga waktu sahur dan itu dilakukan selama 1 bulan penuh. Untuk alasan apa dan mengapa, cukup sederhana yakni di momen – momen penuh berkah ini, beribadah khusyuk dan sungguh – sungguh adalah cara untuk mendekatkan diri dan mendapatkan kasih sayang lebih dari-Nya.
Menjelang waktu sahur, biasanya kita sering melihat ada beberapa orang berjalan kaki atau menaiki sebuah mobil pick-up dengan membawa berbagai alat musik baik tradisional atau pun modern yang mereka manfaatkan untuk membuat kegaduhan di sepertiga malam. Kegaduhan itu memang sengaja mereka buat karena mereka berniat untuk membangunkan orang – orang yang masih terlelap agar bergegas menikmati makan sahur sebelum masuk waktu imsyak. Aktivitas semacam itu sering kita sebut dengan “RONDA MALAM”. Akan tetapi, di wilayah Pattani – Thailand ini sulit dan bahkan tidak pernah mendengar dan melihat ronda. Berdasarkan interview singkat dengan masyarakat Pattani – Thailand, jika hendak membangunkan orang agar segera makan sahur, kebanyakan masyarakat Pattani – Thailand memanfaatkan sound speaker di masjid – masjid wilayah Pattani – Thailand.
Nilai positif yang dapat diambil dari masyarakat wilayah Pattani – Thailand salah satunya yaitu jiwa solidaritas mereka yang tinggi dan hobi sedekah mereka yang luar biasa. Hampir setiap hari ditemukan orang yang memberi sedekah kepada orang lain baik itu kerabat atau bukan dan ntah itu sedikit atau banyak. Masyarakat Pattani – Thailand memang wahi (suka) bersedekah. Sepertinya hal itu menjadi hobi dan ciri khas mereka yang hukumnya wajib mereka lakukan setiap harinya. Tidak tanggung – tanggung, bahkan 1 hari bisa saja memberi orang melebihi apa yang mereka makan pada hari itu. Hal itu bukan menjadi masalah bagi mereka karena mereka suka dan senang jika bisa memberi kepada sesama muslim. Ditambah keyakinan mereka yang patut untuk ditiru bahwa rezeki mereka sudah ditanggung oleh Allah, jadi semakin banyak yang mereka bagikan secara ikhlas dan semata – mata hanya ingin mengharap ridho Allah SWT, semakin banyak pula rezeki yang akan mereka dapatkan pula. Ibarat semakin banyak benih molek (bagus) yang kita tanam, semakin baguslah kualitas dan kuantitas dari apa yang telah kita tanam.
Seperti itulah potret kehidupan dan suasana yang bisa dinikmati di tanah Pattani – Thailand selama bulan ramadhan, khususnya ramadhan 1435 H kali ini. Suka cita, kebersamaan, kehangatan dalam berbagi terpancar jelas di setiap kehidupan setiap umat yang bernyawa di wilayah Pattani – Thailand. Hanya rasa damai, derai tawa yang renyah, serta ucapan syukur yang selalu menghiasi indahnya ramadhan 1435 H di wilayah ini. Sebagai umat islam sudah sepatutnya kita selalu mengucap syukur tehadap apa yang kita dapatkan dan lakukan setiap harinya. Apalagi di bulan ramadhan, Allah SWT akan melipat gandakan setiap amal perbuatan yang dilakukan secara ikhlas dan bermanfaat terhadap orang lain. Seperti pernyataan ini “sebaik – baiknya manusia adalah mereka yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain”. Sehingga untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW, marilah berlomba – lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat nantinya. Allahumma Amin.  


















REFERENSI
Masyarakat wilayah Pattani – Thailand
Pengalaman dan pemahaman penulis


Artikel tentang Kebudayaan

Keanekaragaman Budaya yang Lahir dalam Kehidupan Sosial Bermasyarakat di Wilayah Pattani Thailand
Firdha Yunita Nur Aisyiyah
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Fakultas Tarbiyah Bahasa Inggris
Institut Agama Islam Negeri Tulungagung

Abstrak

Budaya adalah kamuflase karakter pada diri setiap bangsa. Setiap negara sudah pasti memiliki budaya yang khas yang menonjolkan negaranya masing – masing. Salah satu keanekaragaman budaya yang akan digali keunikan – keunikannya adalah budaya yang ada di wilayah Pattani-Thailand. Secara garis besar, Pattani adalah wilayah yang ada di sebelah selatan Thailand. Wilayah ini didominasi oleh masyarakat yang notabene beragama islam. Budaya muslim di Pattani pun tidak sama seperti budaya muslim di negara lain, seperti di Indonesia. Namun, adanya perbedaan budaya ini bukan berarti menjauhkan hubungan kerja sama dalam berbagai bidang, melainkan memberikan wawasan baru kepada masyarakat di berbagai tempat. Artikel ini dibuat bertujuan untuk memaparkan berbagai macam keanekaragaman budaya yang ada dalam kehidupan bermasyarakat masyarakat Pattani Thailand. Budaya yang diangkat dalam artikel ini meliputi acara pernikahan (kenduri) dan mahar pernikahan di wilayah Pattani Thailand. Hal itu dijadikan bahasan yang menarik karena melalui eksplorasi budaya ini, setiap orang mampu memperluas cakrawala dengan cara menyaksikan dan menyimak berbagai bentuk perbedaan yang memberi warna di setiap kehidupan.
Kata kunci: budaya, pernikahan acara pernikahan(kenduri), mahar pernikahan.  
Pattani adalah sebuah wilayah yang terletak di sebelah selatan Thailand. Ia merupakan sebuah provinsi dari ke-empat provinsi di selatan Thailand dan acapkali ditemukan keunikan dari kehidupan kemasyarakatannya. Hal baru yang memberi kesan ketika menjumpai keunikan tersebut yakni keunikan yang nampak dari segi budaya. Budaya memang menjadi salah satu bahasan yang kerap sekali menarik perhatian setiap pembacanya. Dikatakan seperti itu, karena pada dasarnya manusia memiliki sifat alamiah yaitu rasa ingin tahu terhadap hal baru. Rasa ingin tahu itulah yang mampu menggerakkan manusia untuk memperluas cakrawalanya. Salah satu caranya yakni dengan menengok budaya yang menarik versi wilayah Pattani – Thailand.
Sebenarnya, budaya memiliki definisi yang cukup luas. Salah satu definisi yang paling tua dapat diketahui dari E.B Taylor yang dikemukakan di dalam bukunya Primitive Culture (1871), menyebutkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan - kebiasaan lain (Nyoman Kutha Ratna, 2005: 5)[1]. Lalu ada juga definisi lain yang mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah (Marvin Haris 1999 : 19). Koentjaraningrat pun memiliki definisi yakni wujud kebudayaan dapat dibagi menjadi 3  macam: 1) kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan; 2) kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat; dan 3) kebudayaan dianggap sebagai benda karya manusia (Koentjaraningrat, 1974: 83)[2]. Sesungguhnya masih banyak pendapat – pendapat dari para ahli mengenai kebudayaan karena pada dasarnya kebudayaan itu memiliki makna yang beragam dan sangat luas. Sehingga dapat ditarik kesimpulan yakni kebudayaan merupakan sesuatu yang mampu memberikan pengaruh terhadap tingkat pengetahuan  dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Berbicara tentang budaya, mengingatkan kembali pada pembahasan kali ini yaitu keanekaragaman budaya yang ada di Pattani – Thailand, salah satunya yaitu berkaitan dengan pernikahan. Pernikahan sejatinya memiliki banyak makna, proses, serta cara melangsungkannya. Selain itu pernikahan pun juga memiliki definisi dari tulisan dan makna yang erat hubungannya. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili yang mengatakan bahwa pernikahan dianggap sebagai ikatan yang ditentukan oleh pembuat hukum syara’ (Allah) yang memungkinkan laki – laki untuk istimta (mendapatkan kesenangan seksual) dari istri dan demikian juga, bagi perempuan untuk mendapatkan kesenangan seksual dari suami (Wahbah Zuhaili , 1989 :61). Selain itu, dalam pernikahan juga terdapat hukum menikah. Sesuai hadist Rasulullah SAW, yang diriwayatkan kepada Ibnu Majah:“Nikah adalah sunahku, barang siapa tidak menjalankan sunnahku, dia bukan umatku.” Memahami hadist tersebut,bisa diambil pemaknaan bahwa nikah adalah anjuran (bukan kewajiban) yang bisa dikategorikan sebagai sunah yang mendekati wajib atau sunah muakkad. Meskipun demikian,anjuran untuk menikah ini bobotnya bisa berubah-ubah menjadi wajib, makruh, mubah atau kembali ke hukum asalnya yaitu sunah, sesuai dengan kondisi dan situasi yang melingkupinya. Itulah sekilas gambaran tentang pernikahan. Jadi, dalam artikel ini yang akan dibahas lebih rinci yakni berkaitan dengan mahar dan pesta pernikahan khususnya di wilayah Pattani – Thailand.
Sesuai pemaparan dari masyarakat Pattani – Thailand, pesta pernikahan yang diadakan di wilayah ini mengambil adat Melayu di Sempadan Selatan Thailand. Masyarakat Pattani biasa menyebutnya dengan adat Melayu Pattani . Semua acara mulai dari pra-nikah hingga akhir pesta menggunakan adat Melayu Pattani, seperti halnya mahar nikah dan pesta pernikahan. Mahar adalah salah satu syarat sah pernikahan. Sehingga sang calon suami wajib menyiapkan mahar nikah secara ikhlas dan sesuai syariat kepada sang calon istri. Dalam kaitannya dengan mahar, kita sering mengetahui bahwa mahar bisa diberikan dalam bentuk uang tunai, perhiasan, seperangkat alat sholat, Al-Qur’an, ataupun barang – barang lain yang sekiranya layak. Khusus di wilayah Pattani – Thailand ini, mahar yang diberikan hanyalah berupa uang tunai saja. Uang tunai itu pun bukan sesuai kemampuan suami, melainkan seperti jual – beli. Dalam artian, jika seorang perempuan yang hendak dinikahi tersebut berasal dari keluarga berada, berpendidikan tinggi, dan berprofesi yang bisa dikategorikan menengah ke atas, mahar yang diberikan pun semakin mahal. Mahar yang diberikan itu pun menggunakan mata uang Bath. Sebelum menentukan berapa Bath mahar nikah tersebut,sang calon suami beserta keluarga bermusyawarah dengan keluarga sang calon istri terlebih dahulu. Jika ditemukan bahwa sang calon suami berada di golongan menengah ke bawah, namun sang calon istri mencintai sang calon suami tersebut, mahar pun tidak menjadi masalah. Kedua belah keluarga mencari solusi yang meringankan keduanya. Akan tetapi, sekurang mampunya laki – laki di wilayah Pattani, jika mereka hendak menikah, mereka biasa menyiapkan uang minimal 100.000 Bath atau setara dengan Rp. 37.000.000,-. Sehingga jika sewaktu – waktu sudah siap untuk menikah dan ada calon yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup, laki – laki itu tidak merasa keberatan dengan mahar itu. Begitu juga sebaliknya untuk perempuan yang berpendidikan katakanlah tamatan SMP / SMA. Pendek kata, berapa nominal mahar nikah itu tergantung kesepakatan kedua belah keluarga. Sekiranya itulah gambaran singkat mengenai mahar nikah di wilayah Pattani – Thailand.
Selepas mahar nikah diberikan di acara ijab dan qobul, kedua mempelai membuat sebuah pesta pernikahan sesuai adat mereka. Pesta pernikahan ini hukumnya bukan wajib, sehingga jika ada pasangan pengantin baru tidak melangsungkan pesta seperti yang lainnya, hal itu bukan berrati pernikahan mereka tidak sah. Pesta pernikahan itu diadakan semata – mata hanya ingin berbagi kebahagiaan bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.
Pesta pernikahan yang diadakan di wilayah Pattani – Thailand bisa dibilang cukup sederhana namun menarik perhatian pula. Bagaimana tidak, dalam pesta pernikahan di wilayah Pattani tidak disediakan singgasana pengantin (tempat pelaminan) layaknya raja dan ratu semalam. Melainkan hanya membuat pelaminan yang dihiasi bunga-bunga kertas sekeliling dan diletakkan di luar rumah. Tak ada tempat duduk. Pelaminan tersebut hanya dibuat untuk berdiri bersalaman dengan para tamu undangan dan mengambil foto. Tak lupa juga kedua pengantin memberikan Kong Cam Ruai (souvenir pernikahan) sebagai tanda kenang. Semua bersuka cita dalam pesta pernikahan dan pengantin pun akan merasakan letih yang luar biasa selepas acara karena seharian penuh harus berjalan ke setiap tempat duduk dimana undangan datang dan memberikan ucapan. Ditambah tidak adanya tempat duduk di pelaminan, menjadikan pengantin mau tidak mau harus berdiri, jalan kesana kemari sambil membawa Kong Cam Ruai yang sudah siap untuk dibagikan.
Selain itu, ada yang lebih unik lagi yakni dekorasi tempat duduk, lokasi pernikahan, dan menu yang disediakan. Mengenai hal tersebut, biasanya sang punya hajat menata puluhan kursi plastik yang melingkari sebuah meja bundar dan diletakkan di halaman rumah. Setiap meja bundar dikelilingi oleh 6 kursi plastik. Di bagian atasnya diberi tenda tebal (terpal) untuk memberi keteduhan di setiap meja bundar yang sudah dipersiapkan. Semua itu digunakan untuk menyambut tamu. Kemudian di samping kanan rumah terdapat sebuah tenda lainnya, tempat kaum hawa berkumpul. Ada yang mengupas bawang, mengiris timun, mengelap piring, dan sebagainya. Segala persiapan kenduri (pesta pernikahan) dilakukan se-tradisional mungkin. Pelakon kerjanya pun adalah orang-orang kampung, tua muda, laki dan perempuan. Kerja tuan rumah hanya menerima laporan dari orang-orang kampung yang bekerja. Laporan itu, antara lain, semisal kelapa masih kurang, pisau belum cukup, dan lain-lain. Singkatnya, tuan rumah adalah penyedia segala kebutuhan. Yang bekerja adalah orang kampung. Lalu sehari sebelum pesta pernikahan itu dilangsungkan, orang-orang kampung sudah nampak bergotong - royong. Sekumpulan bapak-bapak berkumpul di tempat yang telah disediakan. Di sana, mereka mencincang daging lembu (sapi) yang sudah disembelih. Sebagian orang bertindak memotong tulang-tulang lembu tersebut, sebagian lainnya mencincang daging, dan sebagian lain memanaskan air. Beberapa orang memang tampak duduk-duduk saja. Ia perhatikan kerja orang-orang yang mencincang daging lembu tersebut hingga tiba giliran menggantikan yang sudah lelah. Memasak jadi tugas kaum ibu. Esoknya, sebagian masakan tinggal dipanaskan saja. Itulah yang dilakukan di belakang tempat kenduri.
Hal itu akan nampak lebih unik ketika melihat makanan yang dihidangkan. Sering kita melihat pesta pernikahan menggunakan makanan ala buffet, yakni salah satunya tipe makan seperti itu bisa dinikmati di pesta pernikahan khas Pattani – Thailand.  Berbicara tentang makanan, makanan pokok orang Thailand pun sama dengan makanan pokok orang Indonesia. Jadi dalam acara apapun dan dimanapun pasti akan menjumpai nasi sebagai makanan pokok. Dalam pesta pernikahan di wilayah Pattani – Thailand, nasi yang sudah dimasak dibungkus dengan plastik gula 2 kg. Nasi bungkus itu diletakkan di atas talam bersama enam buah piring. Umumnya, satu talam ada tiga bungkus nasi. Nasi-nasi itulah yang dihidangkan untuk tetamu dan undangan. Setiap tamu akan menuangkan nasi dari bungkus plastik ke dalam piringnya. Satu plastik cukup untuk dua orang. Jika mereka butuh nasi tambah atau ada sesuatu lainnya yang masih kurang, tamu diperbolehkan meminta lagi.
Hal yang tidak pernah ketinggalan dalam talam lauk adalah timun dan sambal terasi. Mereka biasa menyebutnya dengan lace. Bagi orang Melayu Patani, timun dan sambal terasi adalah lalap yang mesti ada. Tak hanya di rumah kenduri, di warung-warung nasi sepanjang jalan pun selalu disiapkan timun dicicah bersama sambal terasi.
Selain itu, yang menjadi khas dan pasti dijumpai di segala  yaitu namplau dan namkeng. Namplau merupakan air putih di dalam gelas. Pasangannya adalah namkeng yakni es batu kosong, yang kemudian antara namplau dan namkeng dicampur menjadi satu. Musim hujan maupun kemarau, setiap gelas tamu akan diberi namplau dan namkeng. Adapun air putihnya (namplau) sudah disediakan dalam ceret di atas meja. Tamu tinggal menuangkan air putih ke dalam gelas mereka sesuka hati.
Makanan lainnya yang tidak tertinggal di rumah-rumah kenduri adalah pulut. Pulut adalah makanan sejenis nasi namun berbahan dasar ketan. Pulut tersebut disuguhkan dengan berbagai warna. Ada warna putih, kuning, merah, cokelat. Pulut yang dibuat pun ada rasa manis dan tawar. Jika rasa pulut tawar, cara memakannya yaitu dengan dicampur lauk pauk yang disediakan, seperti som tam, tom yam, kem sum, pak prik, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk pulut yang manis, boleh dimakan sekaligus boleh juga dicicah dengan sambal. Kemudian, sebelum tamu undangan pulang ke rumah, tuan rumah memberikan nasi pulut beserta lauk yang sudah disiapkan dan dimasukkan di dalam plastik warna putih.
Seperti itulah gambaran keunikan pesta pernikahan atau yang sering disebut dengan kenduri oleh masyarakat wilayah Pattani – Thailand itu. Sangat tradisional dan masih mengikuti adat yang kental. Namun tradisionalnya itu tidak menjadikan wilayah tersebut menjadi terbelakang. Sebaliknya, hal itu menjadi ciri khas di wilayah Pattani – Thailand. Dengan adanya budaya yang beragam, kita bisa jadikan referensi pengetahuan yang sangat bermanfaat baik memberi manfaat saat ini ataupun di masa yang akan datang.




















REFERENSI
Masyarakat di wilayah Pattani





[1] Ratna, Nyoman Kutha, 2005, Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[2] Koentjaraningrat, 1974, Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.