Kamis, 06 November 2014

CERPEN

PACARKU SALES, PINTER NGELES
Well. Namaku Olivia Pradana. Aku dua bersaudara dari pasangan Tn.Tanto Pradana dan Ny. Sari Pradana. Biasa nih Bapak, Ibu, Adik, Eyang, Om, Tante, semua teman-teman, dan siapapun aja manggil Aku dengan nama depanku yang disingkat menjadi “Ovi”. Semula…tidak ada yang spesial dari perjalanan cintaku. Namun, ternyata Allah mengajakku berselancar didalam kehidupan asmara ini. Haha. Kalau inget kaya gini sih, rasanya kaya bernostalgia. Seperti membuka files yang sudah berumur ratusan tahun, usang bahkan rayapan. Tapi, okelah nggak apa-apa. Semoga curhatan ini sedikit banyak bisa menginspirasi untuk semua pihak baik laki-laki ataupun perempuan. Insyallah ya readers. Amin.
Awal kejadian ini ketika Aku masih duduk di kelas 3 SMP. Memang masih bau kencur sih. Hehehe. Jadi, ceritanya tuh Aku sudah selesai mengikuti UAN SMP dan hari itu Aku memang sengaja untuk bergegas pulang ke rumah. Tujuannya tak lain dan tak bukan yaitu menyiapkan berkas-berkas yang nantinya akan Aku gunakan untuk mendaftar di salah satu SMA di wilayah tempat tinggalku. Singkat cerita, ketika Aku selesai menyiapkan berkas-berkasku dan berencana untuk membeli map di sebuah kedai dekat rumah, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan mengendarai sebuah motor, berhenti mendadak dan hampir menabrak sepedaku. Aku pun terkejut dan menatapnya dengan tajam. Namun, tak lama kemudian dia turun dari sepeda motornya seraya menghampiriku mungkin untuk meminta maaf atas kesalahannya. Tapi, kenyataannya malah tidak sama sekali. Justru dia bertanya,”Ibuknya ada Dik? Nambah orderan nggak?. Hah…semula Aku fikir dia akan meminta maaf lalu berkenalan seperti di ftv-ftv yang pernah Aku tonton. Hehe. Karena masih tercengang atas pertanyaan yang meluncur dari mulutnya, Aku pun sedikit lama menjawabnya. Dia pun bertanya lagi,”Nambah nggak Dik?”. Dengan sedikit terkejut,  Aku pun menjawab,”Tunggu sebentar ya. Ibuku ada di belakang. Tunggu dulu. Ok fix”. Lalu, Aku pun berlari ke belakang dan memanggil ibuku.
Perlu diketahui bahwa Ibuku mempunyai pekerjaan sambilan. Beliau itu wonder woman menurutku. Selain menjadi ibu rumah tangga yang bekerja melebihi direktur perusahaan khususnya di PRT alias perusahaan rumah tangga, tapi Beliau juga memiliki kesibukan yaitu berniaga. Ibuku mempunyai usaha kecil-kecilan yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga, bensin, bahkan rokok. Kebetulan, lelaki tersebut adalah seorang sales rokok keliling. Seumur-umur membantu Ibu berjualan, baru pertama kali Aku berjumpa dengan lelaki itu. Pertama, ada hal yang berkesan ketika berjumpa dengan dia. Haha. Ceilee…kayaknya ada yang lagi kasmaran nih. Haha. Nggak juga sih sebenarnya, Cuma ketika bertemu dan sempat menatapnya, ada impression yang beda aja. Dia itu bak Menara Eiffel, kaya yogurt rasa plain dalam kemasan, nggak beda jauh dengan tampang cowok cover boy, dan senyumnya itu semanis coklat. Haha. Itu sepintas dari kaca mataku ketika berjumpa di pertemuan ketidak sengajaan tersebut. Setelah itu, Aku pun pergi menyelesaikan urusanku tanpa memikirkan dia lagi.
Dari pertemuan yang Aku rasa adalah pertemuan pertama dan terakhir kali dengannya, ternyata itu malah berbalik 180’. Hal itu melainkan awal kita saling mengenal satu dengan yang lain. Secara tidak sengaja ketika Aku sudah resmi menjadi pelajar putih abu-abu, tepatnya di hari raya ke-enam Idul Fitri, pertemuan kedua pun sempat singgah dalam perjalanan hidupku. Tak disangka, semula Aku fikir dia menganggap biasa-biasa saja, tapi ternyata dia merindukan pertemuan kita dulu. Pertemuan pertama itu bisa dikatakan ketidak sengajaan, tapi biasanya untuk yang kedua dan selanjutnya itu adalah takdir. Haha. Seneng banget rasanya bisa bertemu dengannya kembali. Tak disangka bisa menatap tatapan lembut tersebut. Ciiie…Ovi hampir kena cupid nih.
Setelah itu, kita pun mulai menjalin sebuah kedekatan melalui telepon dan pesan singkat (sms). Hampir setiap hari, kami tidak lupa saling mengingatkan, bercanda, dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Tak lebih dari dua bulan setelah pertemuan yang kedua, dia pun mengutarakan isi hatinya kepadaku. Doooorr…..si cupid cuwitz datang deh. Hehe. Karena kelembutan, kebaikan, dan keindahan rangkaian kata-katanya, Aku pun mulai menaruh hati padanya. Lalu, kami pun resmi menjadi sepasang kekasih yang dihujani cinta dan kasih sayang. Duh….bahagianya kami saat itu. Dunia ini serasa milik berdua. Haha.
Selama menjalin hubungan cinta dengannya, setiap Sabtu malam kita selalu menghabiskan waktu berdua di taman kota. Kita saling bercanda, tertawa, dan menikmati keindahan malam bersama-sama. Setiap harinya, hampir tidak pernah telat bunga mawar dan sedap malam selalu singgah di rumahku. Makanan kesukaan, minuman favorit, bahkan pernak-pernik kesukaanku selalu berjejalan di kamar tidurku. Semua itu adalah bukti kesungguhan hatinya menjalin hubungan denganku. Bersama dia, Aku laksana seorang putri yang di atas awan. Apapun yang Aku sukai, dia berusaha menurutinya. Bersyukur sekali saat itu bisa menjalin hubungan dengan dia meski memang pekerjaannya hanya seorang sales rokok keliling.
Sayangnya selama kami menjalani hubungan, Bapakku tidak tahu menahu hubungan kami. Dia pun juga tidak pernah main ke rumahku. Jadi, kalau misalkan kita hendak ketemuan, dia hanya mampir di toko depan rumah atau main ke rumah nenekku yang sudah berbeda wilayah. Saat itu, menurutku hal seperti itu bukanlah masalah pelik. Yang terpenting, kami saling mencintai dan selalu berusaha membahagiakan satu sama lain. Yaa..namanya pacaran ala putih abu-abu. Tahunya ya cuma gitu doang. Haha.  Tapi, Aku sama sekali tidak merasa curiga kepada dia kenapa setiap Aku ajak main ke rumah, dia selalu ngeles. Ntah dia tergesa-gesa, sakit perut, bahkan sempat beralasan mamanya sakit.
Sempat ketika suatu malam kita pergi hang out, Aku memulai percakapan dengannya. Topik malam itu tentang seorang cowo yang selingkuh dengan cewe lain dan cewe itu adalah sahabat pacarnya sendiri. Saat itu Aku berkata,”Sayang, tahu nggak sih? Kasian banget temenku. Dia diselingkuhin pacarnya dengan sahabat cewenya sendiri. Tuh, lelaki nggak ngerti perasaan cewe apa! Seenak jidat mainin hati orang. Kalau belum kena karma, tuh cowo belum tahu rasa!. Menurut kamu kalau ada cowo kaya gitu, enaknya diapain ya Sayang?”. Setelah Aku ngomong panjang kali lebar, si dia sama sekali tidak merespon. Hening dan sunyi. Selang beberapa detik, Aku memulai percakapan dengan meluncurkan sebuah pertanyaan konyol,”Maaf..Sayang, kamu juga cowo yang suka selingkuh ya?”. Seketika dia menjawab,”Ya Ampun…nggak lah Sayang. Aku cowo baik-baik. Ceweku cuma kamu dan nantinya kalau kamu sudah lulus SMA, Aku pengen ngajak kamu  married”. Aku pun terkejut dan menimpalinya,”Yang bener Sayang? Serius… hahaha. Aku seneng banget deh dengernya. Thanks ya Sayang. Aku sayang kamu bingo. I love you”. “I love you too”, jawabnya sambil mengendarai sepeda motor bebek miliknya. Sebelum sampai di tempat makan, Aku pun sempet ngomong sama dia,”Sayang, jangan selingkuhin Aku ya”. Dan dia hanya menoleh kepadaku dan tersenyum simpul. Leganya hatiku. Kami pun menghabiskan malam itu dengan penuh suka cita.
Tak terasa hubungan kami sudah berjalan 1 bulan. Ketika hendak masuk bulan kedua, tak disangka pohon asmara kita mulai tumbang. Benih-benih perselisihan, perbedaan komitmen pun mulai bertaburan dalam asmara kita. Hampir setiap hari kita ribut masalah sepele. Dan yang lebih parah lagi, setiap problematika dalam hubungan kita selalu dipicu olehnya. Seperti ketika Aku pergi ke sekolah, tiba-tiba di tengah perjalanan dia menelponku. Namun, Aku tidak bisa mengangkat teleponnya karena Aku masih harus mengikuti kegiatan belajar di kelas. Kemudian ketika jam istirahat, Aku menghubunginya kembali. Tahukah kalian? Belum sempat Aku mengucap salam, dia tiba-tiba membobardirku dengan pertanyaan-pertanyaan tuduhan yang memojokkanku. Aku pun tidak terima karena Aku merasa bahwa Aku tidak bersalah. Dia menuduhku bahwa Aku melupakannya, Aku sudah tidak peduli dengan dia, bahkan dia mengatakan kalau Aku tidak bisa mengangkat teleponnya karena ada cowo lain di dekatku. Sungguh Aku tidak menyangka mengapa dia tega menuduhku. Setelah Aku mengalah, menerima umpatan dan makiannya, pertengkaran pun selesai.
Suatu hari saat Aku bertemu dan jalan dengan dia, Aku menanyakan mengapa dia tega berkata kasar di hari itu. Dia pun menjawab,”Sorry Sayang. Kemarin Aku lepas kontrol. Aku mau curhat sama kamu kalau Aku tiba-tiba dipecat sama bosku. Aku nggak punya pekerjaan lagi. Aku nggak tahu Aku salah apa, tapi katanya Aku difitnah sama rekan sejawatku sendiri. SAKITNYA TUH DI SINI!” Sambil nunjuk hatinya dan merebahkan kepalanya di pundakku, dia mengungkapkan segala kepenatan hatinya. Aku pun berusaha menguatkannya,”Sayang…istighfar ya. Yang sabar…insyallah Allah akan memberikan pekerjaan yang lebih baik dari pada ini. Insyallah ya Sayang. Lagi pula, mama kamu kan masih di luar negeri. Kalau kamu butuh pekerjaan, kamu bisa ikut bantu mama di perusahaannya”. Namun, dengan sontak dia berdiri tegap dihadapanku dan menjawab,”Aku nggak mau!. Kenapa kamu paksa Aku kerja bareng sama Mama? Mama itu lebih percaya asistennya, bukan sama Aku. Lagi pula Aku mau ngebuktiin ke Mama kalau Aku bisa sukses tanpa harus kerja bareng di perusahaan Mama!. Udah, Aku pulang aja dari pada bad-mood kaya gini. Kamu nggak ngertiin Aku!. Aku pun menahannya dan meminta maaf atas kesalahan kata-kataku. Ohh…ternyata cowo ku sensitif banget. Ok fix, Aku harus lebih sabar lagi.
Setelah kejadian tersebut, Aku nggak bisa menghubungi dia lagi. Tepat satu hari sebelum tahun baru, Aku pusing tujuh keliling mencari dia. Hampir setiap hari Aku mencoba menghubungi nomor hapenya, ternyata nggak aktif. Nomor hape temannya juga nggak aktif, bahkan Aku coba dateng ke rumahnya juga nggak ada orang. Aku pun mulai mempunyai fikiran negatif. Dalam hati Aku bertanya-tanya,”Sayang, kamu dimana sih? Kenapa AKu digantungin gini? Apa salahku? Apa karena saranku waktu itu? Tapi kenapa selama hampir dua minggu kamu nggak ngehubungin Aku? Ya Allah…lindungilah Sayang. Amin”.
Tak disangka, ketika Mama, kakak, dan Tanteku pergi ke rumah dia, mereka melihat dia sedang menggendong anak kecil. Mereka mencoba menguping pembicaraan dia dan anak kecil tersebut. Sempat terdengar anak kecil itu memanggil dia dengan panggilan,”Papa”. Tak lama, anak kecil itu berkata, “Papa…Papa…Ayo Pa, pergi sekarang. Panggil Mama”. Karena saking penasarannya, keluargaku datang menghampiri dia. Mamaku langsung bertanya,”Siapa dia? Kenapa dia panggil kamu “Papa”?. Dia pun mencoba menjelaskan, tapi ternyata dia sudah tak berdaya. Dia kaget atas kedatangan keluargaku. Tak lama kemudian, seorang perempuan kira-kira berusia 21 tahun keluar dari dalam kamar. Dia berkata,”Papa…sudah ambil kontak mobilnya? Adik sama Papa? Ayo berangkat”. Tanteku yang sudah tersulut emosi, langsung datang dan melabrak perempuan tersebut. Pertikaian pun tidak dapat terhindarkan.
Ternyata selama ini, orang yang Aku cinta, puja, dan Aku fikir dia adalah lelaki terakhir dalam hidupku ternyata adalah seorang pembual kelas kakap. Selama 2 bulan, Aku berhasil jatuh dalam tipu dayanya. Yang lebih parah lagi, Aku hanya dijadikan sebagai bahan taruhan dia dengan teman-temannya. Pantes pekerjaannya adalah seorang sales. Dia pun sosok lelaki yang pinter ngeles. Hampir 3 tahun Aku belum bisa move-on dari dia. Aku terpuruk, nilai sekolahku jatuh, Aku jarang masuk sekolah, males makan dan Aku males dengan lelaki. Luka yang ditorehkannya terlalu dalam di hatiku. Ketika masuk di tahun keempat, tepatnya ketika Aku mulai menjadi seorang mahasiswa, Aku pun mulai mengubah jalan fikiranku. Tidak sepantasnya Aku harus terpuruk dalam kesedihan yang tidak menguntungkan ini. Aku pun mulai menata hidupku kembali. Aku mengikuti berbagai perlombaan sesuai hobiku, Aku hampir tidak pernah bolos kuliah, Aku welcome dengan lelaki, ibadah semakin Aku tingkatkan, Aku tidak menyiksa diriku sendiri, tidak cengeng dan yang pasti Aku harus lebih selektif lagi jika ingin mencari pasangan hidup nantinya. Ya… zaman sekarang bukan saatnya untuk stuck. Lebih cepat move-on, itu lebih baik. Yang paling penting juga, jangan pernah memusuhi dia yang sudah menyakiti perasaanmu melainkan jadikan perjalanan cinta dengan dia itu adalah lilin yang menerangi mata dan fikiran kita. Lebih baik tersesat sebelum menikah, dari pada menyesal setelah sah menjadi istrinya. Serta, yakinlah Allah akan memberikan sosok lelaki yang lebih baik dari dia. Ingat, perempuan baik hanya untuk lelaki yang baik. So, let’s move on and keep fight!. Cinta….sorry, gue nggak takut tuh jatuh cinta! Kau kan tetap Aku cari dan akan Aku dekap jika waktunya sudah tiba. Tapi, sekarang PRESTASI AKU HARUS NOMOR SATU!
YEAH…MOVE ON OVI. THANKS GOD!


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar