Sabtu, 06 Desember 2014

Try to find the message of this short story. Thank you all

SI LOPER KORAN
Senin ini adalah Senin pertama bagi seorang anak kecil berambut ikal dalam menjalani profesi barunya sebagai seorang loper koran. Anak yang tingginya 170 cm, berkulit sawo matang dan duduk di kelas  X SMA itu menyandang status barunya sebagai seorang pedagang. Sebut saja namanya Gentar. Dia anak tertua dari 5 bersaudara. Dia selalu berniat ingin membantu orang tuanya membanting tulang demi sesuap nasi untuk keluarganya tercinta. Dahulu, sebelum Gentar menyabet gelarnya sebagai  loper koran, sehari-hari dia bekerja membantu membawakan sayur para Ibu-Ibu dari pasar subuh ke rumah mereka masing-masing. Dia lakoni pekerjaan itu setiap hari setelah shalat Subuh dengan mengayuh sepeda ontel usang peninggalan dari kakeknya. Namun, semenjak hari ini dia berganti profesi sebagai seorang pengantar surat kabar yang biasa disebut loper.
“Koran…Koran…Koran! Koran baru, berita segar dan hangat, yuk mari,” teriak Gentar di setiap jalan sambil mengayuh sepedanya.
Sebelum mengantar koran kepada setiap pelanggan seperti yang sudah diajarkan oleh para loper senior, Gentar mempunyai inisiatif untuk menjualnya di setiap gang yang dia lewati. Dengan modal suara yang cempreng khas anak SMA, Gentar tak pernah mengeluh. Dia yakin pasti ada orang yang sudi membeli koran yang dia bawa.
“Mas...Mas…Koran,” panggil seorang Ibu-Ibu di depan kompleks perumahan mewah.
“Iya Bu. Korannya berapa? Satu atau Dua ?”.
“Tiga ya Mas. Ini untuk juragan, Nyonya, sama Non,” jelas Ibu berpakaian hijau tua itu.
“Alhamdulillah….butuh banyak ya Bu. Saya senang luar biasa. Ini Bu, korannya. Semoga bermanfaat ya Bu (sambil memberikan tiga koran seperti yang sudah dipesan)”.
“Amin. Lain kali lewat ya Mas. Soalnya sudah lama nggak ada tukang loper lewat sini semenjak ada kejadian tukang loper di palak sama preman. Kan kasian mereka. Makanya, kadang saya bingung mas kalau majikan minta untuk nyari koran. Mau beli di kios juga lumayan jauh, nungguin loper juga nggak dateng-dateng. Kadang majikan sampai marah-marah kalau Saya belikan Koran di kios dulu. Katanya kalau semakin siang, beritanya keburu basi. Serba bingung saya ini Mas. Makanya, Mas lewat ini Saya bersyukur banget sama Gusti Allah. Jadi Saya nggak perlu jauh-jauh nyari koran dan segera bisa mengerjakan tugas yang lain Mas. Begitu,” terang Ibu itu panjang lebar.
(Gentar tersenyum manis)”Alhamdulillah Bu, Saya diberi kesempatan untuk menjajakan koran ini di jalan ini salah satunya,”sahut dia.
“Iya Mas. Alhamdulillah. Maaf Saya jadi cerita panjang kali lebar sama Mas. Jadi nggak enak sama Mas. Makasih ya Mas. Saya harus masuk dulu. Keburu juragan nanti nyariin Saya dan juga Saya masih harus mengerjakan tugas Saya Mas. Mas yang lancar ya jualannya. Amin”.
“Iya Bu. Sama-sama. Mari Bu. Assalamualaikum”.
“Wallaikumsalam (sambil berjalan kembali ke rumah)”.
Hari demi hari Gentar jalani dengan penuh keikhlasan . Meski hasilnya tak seberapa banyak, minimal Gentar sudah bisa membantu meringankan beban orang tuanya dalam mencukupi ekonomi keluarga mereka. Gentar menyadari bahwa di era sekarang ini, mencari pekerjaan apalagi pekerjaan yang menginginkan gaji yang tinggi itu sangatlah sulit. Akan tetapi, Gentar tak patang arang. Dia optimis bahwa di balik kesulitan yang dia jalani dalam hidup ini, Allah sudah merencanakan surga dunia yang akan Gentar rasakan suatu hari nanti.
Tujuh tahun tak terasa, Gentar menjadi seorang loper koran. Dari pekerjaan sampingannya itu, Gentar bisa membeli sepeda meskipun sepeda bekas dan sisanya untuk biaya sekolah adik-adiknya. Saat itu, Gentar menjajakan korannya di gang biasa dia menjual koran sebelum sisanya diantar kepada pelanggan. Tiba-tiba, Gentar mendengar ada teriakan seorang perempuan meminta tolong. Mendengar teriakan itu, Gentar berfikir perempuan itu dalam bahaya. Secepat kilat, Gentar mengayuh pedal sepedanya menuju suara teriakan itu. Benar apa yang telah Gentar fikirkan sebelumnya. Ternyata di seberang jalan, dia melihat seorang perempuan ditodong oleh 2 kawanan perampok. Perampok itu seperti ingin mengambil tas yang berada di pergelangan tangan perempuan itu. Tak menunggu lama, Gentar membuang sepedanya dan berusaha menyelamatkan tas yang hendak dicuri sekaligus perempuan itu. Pertarungan pun dimulai dan alhasil meskipun Gentar hanya sendirian, berkat doa dan keyakinan Gentar serta niat baiknya, Allah memberi tambahan kekuatan untuk dia hingga 2 kawanan perampok itu pun babak belur dan lari pontang panting.
“Alhamdulillah….terimakasih banyak Nak atas kebaikan Kamu. Alhamdulillah untung ada kamu Nak. Andai tak ada, Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Saya,” ratap ibu tersebut sambil menangis terharu”.
“iya Ibu. Sama-sama. Saya hanya perantara saja Bu. Semua itu semata-mata hanya kehendak Allah SWT. Tanpa-Nya, Saya juga belum tentu bisa mengalahkan mereka. Ibu berterimakasihlah kepada Allah”.
“Alhamdulillah…terimakasih Ya Allah”. Oh iya, perkenalkan nama Saya Ratna Dewanti. Nama Kamu siapa Nak?”.
“Saya Gentar Bu, Gentar Purnama. Senang berkenalan dengan Ibu”.
“Saya juga Nak. Saya sangat berterimakasih kepada kamu, “puji perempuan itu karena tak dapat menahan rasa syukur.
(menoleh ke arah sepeda Gentar yang di jatuhkan oleh Gentar tadi)”Oh..bagaimana dengan sepeda kamu, Nak?. Dan itu apa dibawah sepeda itu?. Sepertinya tumpukan kertas? Apakah itu arsip-arsip penting milikmu?” Tanya Ibu itu dengan penasaran.
“Oh…itu. Itu hanya sebatas Koran Bu. Saya seorang loper Koran. Sudah tujuh tahun ini saya mengambil profesi itu sejak kelas X SMA,”sahut Gentar dengan sangat jujur.
“Astagfirullahaladzim. Apakah koranmu rusak Nak? Saya harus mengganti semua koran itu sebagai permintaan maaf Saya karena telah menyita waktu berjualan kamu”.
(Ibu itu segera mengambil uang dari dalam tasnya yang hampir dicuri tadi)
“Tidak apa-apa Bu. Itu sudah resiko Saya. Saya sudah memilih untuk menolong Ibu. Apapun resiko yang terjadi termasuk koran rusak dan harus mengganti rugi, itu bukan masalah. Yang terpenting Ibu sekarang selamat dan barang milik Ibu tidak diambil oleh orang jahat itu”.
“Kamu baik sekali Nak Gentar. Namun, bagaimana pun juga Saya harus membalas jasa baik kamu”.
Ibu itu tetap memberikan sebagian uangnya kepada Gentar. Gentar pun akhirnya tak bisa menolak karena dia ingat ini adalah rejeki dari Allah untuk keluarganya.
“Anggap saja ini Saya membeli semua Koran kamu Nak. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak hati menerima uang itu. Kalau ada sisa, sisanya untuk kamu dan keluarga kamu”.
Gentar tak kuasa menahan haru. Tak terasa, butiran lembut keluar dari mata sayunya dan membasahi pipinya. Ini bukan mimpi. Ini bukan pula keajaiban. Tapi ini adalah berkah dari Allah atas keikhlasn Gentar menolong ibu itu sekalipun dia bukan siapa-siapa Gentar.
“Terimakasih banyak Bu. Ini sangat berarti untuk saya. Dari uang ini, alhmadulillah saya akan bisa melunasi uang SPP adik-adik saya bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saya masih bisa mempergunakan uang ini. Terimakasih Ya Allah. terimakasih Bu,”jelas Gentar.
“Iya Nak. Sama-sama. Mulai sekarang, apabila kamu butuh apa-apa, kamu bisa menghubungi Saya. Dengan senang hati Saya akan membantu Nak Gentar apabila Saya bisa. Ini kartu nama Saya”.
“Iya Ibu. Pasti. Terimakasih banyak ya Bu”.
Sampai di sinilah percakapan antara Ibu Ratna Dewanti dengan Gentar. Percakapan singkat yang tak disengaja itu, menorehkan makna mendalam untuk Gentar pribadi. Dari situ, Gentar mulai tahu dan mengenal sedikit demi sedikit tentang Ibu Ratna Dewanti. Ternyata setelah Gentar mencoba untuk mendatangi alamat yang sudah Ibu Ratna berikan kapan hari lalu, Gentar baru menyadari bahwa Ibu Ratna Dewanti adalah Direktur sebuah perusahaan swasta di kota itu. Dari perkenalan singkat itu, beberapa bulan selanjutnya Ibu Ratna Dewanti menjadi salah satu pelanggan setia koran yang dijajakan oleh Gentar. Dua setengah tahun kemudian, setelah Gentar dan Ibu Ratna Dewanti menjalin relasi yang baik, Ibu Ratna Dewanti pun sepakat untuk menunjuk Gentar sebagai salah satu sekretaris di perusahaan milik Beliau dan mulai saat itu juga Gentar naik jabatan menjadi sekretaris di perusahaan dan menanggalkan jabatannya sebagai loper koran. Itulah buah dari kesabaran, keikhlasan, keuletan, dan kejujuran yang Gentar tanamkan sejak sepuluh tahun terakhir ini. Dari sinilah, kehidupan Gentar dan keluarganya mulai berubah menjadi lebih baik dan Gentar tetap menjadi Gentar yang dulu. Gentar yang rendah hati, pekerja keras, dan ulet demi keindahan surga dunia yang sudah sekian tahun dia tunggu-tunggu.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar