Ini hari ketiga dimana aku tinggal di rumah yang hanya ada
Bapak, adik, dan anandaku saja. Tidak ada lagi kehadiran Ibu yang melengkapi
hari-hariku selama di rumah beliau. Meski tidak pergi untuk selamanya, namun
ketidakhadiran beliau menjadikan rumah terasa amat sepi dan kurang sekali canda
tawa. Yaa… memang ketika kita kehilangan sesorang yang amat berarti bagi diri
kita baik sementara atau selamanya, pasti rasa sepi tidak bisa terhindarkan. Tidak
ada lagi canda tawa dengan beliau, tidak ada lagi yang membantuku merawat
ananda kecil, dan juga tidak ada lagi teman curhatku.
Dalam 3 hari ini, aku masih merindukan kehadiran ibu.
Kehadiran beliau yang mengisi dan mewarnai hari-hari kami. Aku rindu sekali
denganmu, Ibu!. Meski kami tetap bisa berkomunikasi via telp atau pesan
singkat, namun semua tetaplah kurang. Kekuatan telp atau pesan singkat hanya
bersifat alternatif sehingga aku rasa aku tetap belum bisa merasa puas. Namun
apa mau dikata. Selama 4 tahun aku harus siap dan terima dengan kondisi ini.
Aku hanya bisa berdoa bahwa semoga suatu hari aku bisa
mendapat kesempatan untuk datang menjenguk ibu , memeluk ibu sambil berkata aku
sangat merindukan ibu. Aku sayang sekali dengan ibu dan kau lah yang selamanya
tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun.
Tulungagung, 08
Oktober 2016
Firdha Yunita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar