Selasa, 22 Maret 2016

MELANKOLIS

Mengapa karakter "melankolis" lekat dengan sosok seorang perempuan? Mengapa "melankolis" diidentikkan dengan pribadi para kaum hawa? Pasti di balik pertanyaan itu, banyak sekali jawaban yang mengukuhkan bahwasanya memang "melankolis" itu karakter yang ada dalam diri para wanita. Bagaimana pun jawabannya, tapi aku termasuk salah satu kedalam karakter itu. Melankolis sepertinya juga ada dalam diriku. Baik aku sadari atau tidak, namun tak jarang aku menunjukkan sikap yang identik dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh mereka yang berkarakter melankolis.

Seperti halnya pagi ini kala aku menulis blog ini, lagi-lagi aku sudah terserang virus yang membuat perasaanku tercabik-cabik. Meski aku saat ini sudah mulai bersiap-siap untuk menjadi seorang ibu bagi sang buah hati ini, namun tetap tak bisa dipungkiri bahwa aku masih sering bersedih. Bahkan bersedih di sini bukan karena masalah yang amat sangat complex.  Ntah mengapa semakin hari aku semakin sensitif saja. Banyak hal yang jika tidak membuatku nyaman, secara spontan aku ungkapkan dan jika tidak mendapat respon yang cukup baik bagiku, seketika itu juga aku langsung melibatkan perasaanku. Jadi, tak jarang aku ini termasuk orang yang baper (baca: bawa perasaan). Meski memang aku baper, tapi jika ada seseorang yang bisa menenangkan perasaanku hingga aku merasa tenang. maka tak cukup lama untuk bersikap baper. Sayangnya, tak semua manusia mengerti apa yang kita mau termasuk dia adalah orang terdekat kita sekalipun. Siapapun mereka, pastilah tidak selalu mengerti apa yang kita inginkan dan dengan kondisi seperti itulah maka Allah menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat dan mengeluhkan segala keluh kesah kepada-Nya semata. Hal ini karena Allah-lah yang akan menjadikan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin dan apa yang kita keluhkan menjadi cukup ringan.

Jika kita mengembalikan semua apa yang kita rasakan dan kita alami dalam hidup ini kepada-Nya, sesungguhnya hidup ini terasa amat sangat ringan. Seberat apapun yang kita rasakan, semua kembali kepada sudut pandang kita. Yakin saja bahwa memang di dunia ini tak ada yang mampu menandingi kuasa-Nya dan hanya Dia yang mampu mengubah segala yang ada di muka bumi, termasuk membolak-balikkan hati umat-Nya. Karakter "melankolis" pun sebenarnya juga bisa teratasi jika kita memasrahkan apa yang telah kita lakukan ini kepada Sang Khaliq. Manusia sesungguhnya hanya sampai pada batas berusaha. Untuk selebihnya (hasil) tinggal dipasrahkan kepada Sang Maha Kuasa saja. Dengan begitu, karakter "melankolis" pun lama-lama hanya tinggal nama saja.

Sepertinya aku juga harus belajar untuk seperti apa yang tengah aku tulis di paragraf atas tersebut. Saat ini bukan waktunya untukku menyesali, membenci, atau bahkan memusuhi diriku sendiri atas ketidaknyamanan hati ini. Kembalikan saja kepada Sang Khaliq karena sesuungguhnya Dia-lah yang Maha Pembolak-balik hati. Dengan begitu, aku yakin hati ini akan lebih tenang, ikhlas, dan narimo. Apalagi dengan aku mengungkapkan unek-unek melalui tulisan ini, sudah amat membantu menenangkan hatiku yang tengah kelabu ini.

Gandong-Tulungagung

Firdha Yunita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar