TAKUT TAK LAKU KARENA BERJILBAB
Kaum hawa adalah ciptaan Allah yang selalu dielu-elukan. Terlihat
indah jika dipandang mata, selalu bertebar pesona, dan tak henti-hentinya
memikat hati setiap pria. Apalagi ditambah dengan adanya perkembangan arus globalisasi
yang semakin ekstrim khususnya di bidang fashion dan cosmetics rasanya
semakin membius perempuan untuk semakin mempercantik diri demi mendapatkan
kepuasaan duniawi.
Seperti yang kita tahu bahwa sebaik-baiknya
perempuan yakni yang menutup aurat,
menjaga pandangan, dan memelihara kemaluannya. Akan tetapi tidak semua
perempuan akan mempunyai pemikiran yang seperti itu. Apalagi dengan adanya
beragam keyakinan yang ada di negeri tercinta Indonesia, hal kecil seperti itu
tak jarang luput dari pengamatan kita. Memang di era modern ini, marak sekali statement
seperti “Cantik itu Harus Seksi, Cantik itu Berani Sakit, Cantik itu
Aset Terpenting, Cantik itu Passion”. Dari sekian slogan di atas, cantik
yang dimaksud itu identik dengan
kecantikan yang hanya dilihat dari sudut pandang fisik saja. Pendapat Saya
tersebut Saya ambil dari keadaan konkret yang ada di sekitar kita. Berbagai macam
klinik kecantikan, produk kecantikan, bahkan salon kecantikan semakin
berjejal-jejalan. Hal itu mampu menghipnotis kaum hawa untuk tidak ragu-ragu
mengeluarkan puluhan juta untuk mendapatkan treatment yang terbaik. Ironis
ketika melihat konteks yang ada di zaman sekarang ini.
Bahkan ketika Saya merangkai
tulisan ini, Saya terpancing dengan ungkapan yang dilontarkan oleh murid les Saya.
Ada sebuah kalimat yang menggelitik dan ingin sekali Saya tulis di blog ini. Namun,
sebelum Saya menulisnya harus diketahui bahwa tulisan ini bukan bermaksud untuk
menyakiti pihak lain. Tulisan yang Saya buat ini murni dari unek-unek Saya
mengenai kejadian beberapa hari yang lalu. Kronologi ceritanya, seperti
hari-hari biasanya salah satu kesibukan Saya yaitu menemani adik-adik belajar
di rumah mereka masing-masing. Pada saat itu, setelah kegiatan belajar Saya
tutup, Saya menyanjung penampilannya hari itu yang nampak lugu dan apa adanya
dengan kalimat,”Dik, kamu cantik lho kalo pake baju kaya gtu. Bahkan lebih
cantik lagi kalau kamu pake jilbab“. Tiba-tiba dengan entengnya bocah kecil
yang Saya ajar hari itu berkata,“Kak, kakakku bilang JANGAN PAKAI JILBAB,
NTAR KAMU NDAK LAKU, Dik”. Sempat shock dan speechless ketika
mendengar kalimat tersebut meluncur deras dari mulut mungil siswi kelas 1 SMP
tersebut. Apalagi kalimat tersebut berasal dari kakak kandungnya sendiri. Bayangan
Saya, apa yang akan terjadi pada psikologis anak berusia 13 tahun yang sudah
dijejali statement yang bisa dikatakan meng-underestimate-kan
jilbab. Lalu, didepan dia Saya hanya tersenyum dan mencoba menggali atas dasar
apa dia melontarkan sebuah kalimat itu. Sayangnya dia tidak memberikan jawaban
yang cukup memuaskan Saya. Ya..wajar sajalah karena dia juga masih berusia 13
tahun dan mungkin bagi dia kalimat tersebut sangat normal. Di saat Saya hendak
berpamitan pulang karena adzan magrib sudah berkumandang, Saya pun tak lupa
memberikan sebuah analogi sederhana yang sering kita dengar. Analogi seperti,
“Jika kamu diminta untuk memilih sebuah kue tart yang harga, ukuran, rasa,
bahkan model dan warnanya sama tapi di jual di tempat yang berbeda, dalam
artian yang satu di jual di pinggir jalan raya dan satunya di jual di sebuah
kedai roti branded, mana yang akan kamu pilih, Dik?”. Lalu, dengan
lantangnya dia menjawab,”Jelaslah Miss, milih yang di toko branded.
Secara rotinya sama, harga sama, lebih higienis, dan nampak cantik”. Kemudian secara
otomatis, Saya mengatakan,”Sama seperti perempuan, Dik. Etalase itu adalah
pelindungnya dan etalasenya perempuan itu ya jilbabnya. Mengapa? Karena dengan
berjilbab, perempuan pun juga tidak jauh berbeda dengan kue yang di jual di
kedai roti branded tersebut. Dia pun langsung tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya menutup aurat itu
tidak akan menjauhkan kita dari jodoh kok. Allah juga sudah dhawuh kalau
jodoh, hidup/mati, dan rezeki sudah diatur sebelum kita lahir di dunia ini.
Jadi tidak perlu takut jika kita berjilbab, hal itu akan mengurangi pamor kita
dan sulit untuk menemukan pasangan hidup. Tapi hal itu kembali kepada pribadi
masing-masing bagaimana menyikapi potret ini. Jadi, sebelum memikirkan apa yang
terjadi dengan orang lain, marilah kita menginstropeksi diri termasuk tentang
ketakwaan kita kepada yang Maha Pencipta. Bagaimana dengan kita????
Gandong, 11 Oktober 2014
Firdha Yunita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar