Sabtu, 11 Oktober 2014

What is happen with "VEIL"?

TAKUT TAK LAKU KARENA BERJILBAB
   Kaum hawa adalah ciptaan Allah yang selalu dielu-elukan. Terlihat indah jika dipandang mata, selalu bertebar pesona, dan tak henti-hentinya memikat hati setiap pria. Apalagi ditambah dengan adanya perkembangan arus globalisasi yang semakin ekstrim khususnya di bidang fashion dan cosmetics rasanya semakin membius perempuan untuk semakin mempercantik diri demi mendapatkan kepuasaan duniawi.
 Seperti yang kita tahu bahwa sebaik-baiknya perempuan yakni  yang menutup aurat, menjaga pandangan, dan memelihara kemaluannya. Akan tetapi tidak semua perempuan akan mempunyai pemikiran yang seperti itu. Apalagi dengan adanya beragam keyakinan yang ada di negeri tercinta Indonesia, hal kecil seperti itu tak jarang luput dari pengamatan kita. Memang di era modern ini, marak sekali statement seperti “Cantik itu Harus Seksi, Cantik itu Berani Sakit, Cantik itu Aset Terpenting, Cantik itu Passion”. Dari sekian slogan di atas, cantik yang dimaksud  itu identik dengan kecantikan yang hanya dilihat dari sudut pandang fisik saja. Pendapat Saya tersebut Saya ambil dari keadaan konkret yang ada di sekitar kita. Berbagai macam klinik kecantikan, produk kecantikan, bahkan salon kecantikan semakin berjejal-jejalan. Hal itu mampu menghipnotis kaum hawa untuk tidak ragu-ragu mengeluarkan puluhan juta untuk mendapatkan treatment yang terbaik. Ironis ketika melihat konteks yang ada di zaman sekarang ini.
Bahkan ketika Saya merangkai tulisan ini, Saya terpancing dengan ungkapan yang dilontarkan oleh murid les Saya. Ada sebuah kalimat yang menggelitik dan ingin sekali Saya tulis di blog ini. Namun, sebelum Saya menulisnya harus diketahui bahwa tulisan ini bukan bermaksud untuk menyakiti pihak lain. Tulisan yang Saya buat ini murni dari unek-unek Saya mengenai kejadian beberapa hari yang lalu. Kronologi ceritanya, seperti hari-hari biasanya salah satu kesibukan Saya yaitu menemani adik-adik belajar di rumah mereka masing-masing. Pada saat itu, setelah kegiatan belajar Saya tutup, Saya menyanjung penampilannya hari itu yang nampak lugu dan apa adanya dengan kalimat,”Dik, kamu cantik lho kalo pake baju kaya gtu. Bahkan lebih cantik lagi kalau kamu pake jilbab“. Tiba-tiba dengan entengnya bocah kecil yang Saya ajar hari itu berkata,“Kak, kakakku bilang JANGAN PAKAI JILBAB, NTAR KAMU NDAK LAKU, Dik”. Sempat shock dan speechless ketika mendengar kalimat tersebut meluncur deras dari mulut mungil siswi kelas 1 SMP tersebut. Apalagi kalimat tersebut berasal dari kakak kandungnya sendiri. Bayangan Saya, apa yang akan terjadi pada psikologis anak berusia 13 tahun yang sudah dijejali statement yang bisa dikatakan meng-underestimate-kan jilbab. Lalu, didepan dia Saya hanya tersenyum dan mencoba menggali atas dasar apa dia melontarkan sebuah kalimat itu. Sayangnya dia tidak memberikan jawaban yang cukup memuaskan Saya. Ya..wajar sajalah karena dia juga masih berusia 13 tahun dan mungkin bagi dia kalimat tersebut sangat normal. Di saat Saya hendak berpamitan pulang karena adzan magrib sudah berkumandang, Saya pun tak lupa memberikan sebuah analogi sederhana yang sering kita dengar. Analogi seperti, “Jika kamu diminta untuk memilih sebuah kue tart yang harga, ukuran, rasa, bahkan model dan warnanya sama tapi di jual di tempat yang berbeda, dalam artian yang satu di jual di pinggir jalan raya dan satunya di jual di sebuah kedai roti branded, mana yang akan kamu pilih, Dik?”. Lalu, dengan lantangnya dia menjawab,”Jelaslah Miss, milih yang di toko branded. Secara rotinya sama, harga sama, lebih higienis, dan nampak cantik”. Kemudian secara otomatis, Saya mengatakan,”Sama seperti perempuan, Dik. Etalase itu adalah pelindungnya dan etalasenya perempuan itu ya jilbabnya. Mengapa? Karena dengan berjilbab, perempuan pun juga tidak jauh berbeda dengan kue yang di jual di kedai roti branded tersebut. Dia pun langsung tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya menutup aurat itu tidak akan menjauhkan kita dari jodoh kok. Allah juga sudah dhawuh kalau jodoh, hidup/mati, dan rezeki sudah diatur sebelum kita lahir di dunia ini. Jadi tidak perlu takut jika kita berjilbab, hal itu akan mengurangi pamor kita dan sulit untuk menemukan pasangan hidup. Tapi hal itu kembali kepada pribadi masing-masing bagaimana menyikapi potret ini. Jadi, sebelum memikirkan apa yang terjadi dengan orang lain, marilah kita menginstropeksi diri termasuk tentang ketakwaan kita kepada yang Maha Pencipta. Bagaimana dengan kita????
Gandong, 11 Oktober 2014

Firdha Yunita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar