Sabtu, 11 Oktober 2014

Tulisan lama, terkendala karena tak ada akses internet.

GARA-GARA SEPATU, TAK BISA MENJADI GURU
            Malam ini, Selasa 01 April 2014 di rumah nenekku tercinta, Aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. Nyaris, berbeda 360’ dengan kehidupan di era serba canggih saat ini. Nenek Lamirah namanya. Beliau ternyata bukan orang sembarang orang. Maksudnya bukan berarti Beliau orang sakti, bukan, melainkan Beliau adalah pejuang yang keras menurut kaca mataku. Subhanallah. Tak terasa hati ini bergetar dan air mata menetes ketika mendengar cerita masa lalu Beliau yang begitu luar biasa. Sungguh ironis kehidupan Beliau di zaman dahulu sekitar tahun 1961.
Sebenarnya awal mula Beliau bercerita itu sangat simple. Beliau menanyakan tentang diriku yang akan melanjutkan studi ke sebuah negara yang tak pernah Aku duga sebelumnya  (Thailand, meskipun awalnya Beliau berkata di Amerika. Hehehe). Sangat sederhana bukan? Namun di balik kesederhanaan itu, ternyata mampu mengoyak-ngoyak memori puluhan tahun silam. Di sinilah, terlintas dibenakku untuk mendengarkan dengan seksama dan hatiku tergerak untuk menuliskan perjalanan hidup seorang nenek hebat itu. Mulailah tangan ini menuliskan segala yang Aku dengarkan barusan.
Dari hasil penuturan yang disampaikan secara lugas oleh nenek Lamirah tadi, banyak poin yang bisa Aku tangkap. Sampai-sampai, saking banyaknya Aku mulai bingung menuliskan hal apa terlebih dahulu. Ah..yang penting Aku menulis. Tak tahu nanti apakah akan membuat bingung para pembaca yang bersedia singgah unutk membaca tulisan ini atau malah mereka bisa memberi masukan kepadaku untuk membuat tulisan yang lebih tertata lagi. Sebelumnya, aku teringat terus kata-kata yang disampaikan oleh dosen favoritku, sebut saja Bapak Ngainun Naim (Dosenku Komunikasi Pendidikan di IAIN TULUNGAGUNG waktu semester IV) yang sangat luar biasa dengan gedoran kata-kata motivasinya. Satu hal yang tidak bisa Aku lupakan ketika Beliau meminta Kami untuk membuat resensi saat pertama kali perkuliahan, Beliau menulis di bawah resensiku “ANDA MEMILIKI POTENSI MENULIS, KEMBANGKAN DENGAN TERUS BERLATIH”. Aku merasa kata-kata itu memiliki sihir yang luar biasa, sehingga membuat Aku ingin selalu menulis. Namun, karena harapan tak sesuai kenyataan, terkadang Aku masih mendapati kebosanan, sehingga Aku lalai untuk menulis. Namun, malam ini Aku mencoba untuk menulis kembali. Ini kali pertama tulisanku Aku share melalui social media. Semoga saja bermanfaat. Amin. Maaf jika intronya terlalu panjang. Masih belajar juga. He he he.
Kembali ke nenek Lamirah tadi. Poin yang akan Aku bagikan kali ini yang sangat berkesan buatku, yakni tentang pendidikan Beliau. Latar belakang nenek Lamirah adalah seorang yang berasal dari golongan  menengah ke bawah. Apalagi di tahun 1947an, ekonomi Beliau sangatlah sulit. Di kehidupan yang serba terbatas tersebut, tepatnya di tahun 1956, Beliau memberanikan diri untuk mendaftar sekolah di SR (sekarang setara SD). Perlu digaris bawahi, nenek Lamirah mendaftar sekolah ini bukan karena dorongan orang tuanya. Orang tua nenek Lamirah sangat melarang nenek Lamirah untuk mendapatkan pendidikan. Mereka berfikir bahwa seorang perempuan itu tidak perlu belajar, apalagi mendapat pendidikan formal. Cukup membantu orang tua setiap harinya dan kalau sudah dianggap dewasa langsung dinikahkan. Namun, karena rasa hausnya terhadap ilmu itu, nenek Lamirah rela sekolah secara diam-diam meskipun pada akhirnya ketahuan juga.  
Untuk pergi ke sekolah, setiap harinya Beliau berjalan kaki tanpa memakai alas alias nyeker. Bisa kita bayangkan betapa sakitnya jemari kaki Beliau ketika berjalan menyusuri jalanan yang masih sangat rusak. Namun, Beliau menjalani dengan sabar dan penuh keikhlasan. Yang penting Aku bisa sekolah, itu katanya. Tidak hanya itu, ketika di sekolah, dibanding teman-temannya yang lain, Beliau adalah siswa yang sangat tidak mampu. Berdasarkan penuturan Beliau, ketika sekolah Beliau tidak pernah mampu membayar SPP. Jangankan SPP, membeli 1 buku tulis saja tidak ada uang. Kalau minta ke orang tua, siap-siap saja punggung akan dipukuli sampai merah-merah. Sungguh ironis sekali. Jadi, selama pendidikan kurang lebih 6 tahun, semua kebutuhan sekolah mulai dari buku, tinta, seragam sampai SPP ditanggung oleh sekolah. Beliau hanya bermodal 1 buku tulis untuk digunakan selama 6 tahun itu dan 1 kuas untuk menulis. Itu saja, Beliau juga harus bekerja untuk menjadi buruh hanya demi membeli 1 buku tulis karena ketika meminta, Beliau langsung mendappatkan pukulan dari orang tuanya. Kalau bukan karena kecerdasan Beliau, mungkin Beliau tidak bisa mendapatkan keistimewaan seperti itu dari sekolah. Memang dari prestasi, Beliau sangat luar biasa. Hanya bermodal 1 buku tulis selam 6 tahun, Beliau nyaris selalu mendapatkan nilai 9 dan 10. Sangat jarang dan hampir tidak pernah mendapatkan nilai 6 atau 7. Oleh karena itu, sekolah bisa memberi sedikit kemudahan agar nenek Lamirah bisa merasakan sekolah meski hanya beberapa tahun saja.
Tiba saat detik-detik menjelang ujian sekolah, Beliau juga menceritakan bahwa diantara semua siswa di SR, hanya nenek Lamirah lah yang memakai seragam yang sudah sangat tidak layak pakai. Bayangkan saja, semua teman-temannya minimal memakai seragam yang lumayan layak. Tapi tidak untuk nenek malang itu. Beliau rela memakai seragam yang atasannya sudah tembelan (lebih dari 12 tembelan) dan rok yang sudah lusuh, luntur, sobek-sobek layaknya kain gombal. Beliau tak menghiraukan ejekan teman-temannya, yang terpenting Beliau bisa mengikuti ujian. Sesungguhnya tak hanya seragam yang dikeluhkan, melainkan ada hal yang membuat ciut nyali nenek Lamirah. Yang namanya sekolah, ternyata meskipun zaman dahulu maupun zaman sekarang, berseragam lengkap itu sangat penting. Pada saat itu, nenek Lamirah tidak memiliki sepatu, sedangkan hari ujian sekolah sudah semakin dekat. Pihak sekolah pun meminta nenek Lamirah untuk membeli sepatu agar bisa mengikuti ujian sekolah seperti yang lainnya. Dengan ekspresi yang sangat memprihatinkan dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta sepatu kepada orang tuanya. Benar saja seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, Beliau merasakan pukulan rotan di bagian punggung. Meskipun menangis meronta-ronta, tetap saja orang tua nenek Lamirah tidak membelikan sepatu. Dengan penuh harapan yang begitu dalam, Beliau akhirnya memohon kepada pihak sekolah untuk mengikuti ujian yang terakhir kalinya. Dengan kebaikan hati para guru, beruntunglah nenek Lamirah diperbolehkan mengikuti ujian dengan seragam seadanya dan tanpa alas kaki juga.
Setelah ujian selesai dan hasilnya juga sudah keluar, ternyata tak disangka nenek Lamirah lulus dengan nilai terbaik di SR. Hanya 1 mata pelajaran yang mendapat nilai 6, yakni mata pelajaran desimal. Selain itu, semua nilainya antara 9 dan 10. Sehingga, pihak sekolah memberikan kesempatan kepada nenek Lamirah untuk menjadi guru setelah lulus dari SR. Hal itu membuat nenek Lamirah sangat gembira. Namun, lagi-lagi sepatu. Pihak sekolah sudah tidak bisa memberikan kemudahan lagi kepada Beliau. Jika memang Beliau menginginkan untuk menjadi seorang guru, Beliau harus memiliki sepasang sepatu. Mana mungkin seorang guru tidak bersepatu alias nyeker?. Padahal muridnya saja diusahakan untuk memiliki sepatu meskipun bekas. Kendala sepatu ini lah yang membuat nenek Lamirah bingung harus berbuat apa.
Sepulang sekolah, dengan mengumpulkan seluruh keberanian dan hati yang kacau, Beliau mencoba meminta restu dan juga meminta untuk dibelikan sepatu. Langsung saja, sebelum Beliau selesai berbicara, sebuah rotan meluncur di punggung Beliau. Hmm…betapa sakit ketika merasakan pukulan itu. Beliau hanya bisa menangis dan berdoa. Esoknya, Beliau memutuskan untuk menghadap pihak sekolah bahwa mungkin itu bukan rezeki Beliau dan Beliau pun harus mengikhlaskannya.
Itulah poin pendidikan yang bisa Aku dapatkan dari kilas memori pendidikan nenek Lamirah. Sungguh luar biasa bagiku. Hanya gara-gara tidak memiliki sepatu, beliau tidak bisa mengabdi untuk menjadi seorang guru. Namun, Beliau tetap menghormati orang tuanya dan mengambil hikmah dari semua peristiwa pilu ini.

 Hal ini mengingatkanku akan potret kehidupan yang nyaris berbeda dengan yang ada di era 2014 ini. Tak perlu dijelaskan kembali, anak zaman sekarang jarang sekali yang peduli tentang pendidikan. Sadarkah kita bahwa pendidikan itu dari dulu sangat penting?. Orang tak punya saja, mati-matian berjuang agar bisa merasakan indahnya pendidikan, bagaimana dengan orang yang berada? Sudah sepatutnya kita mengintropeksi diri, mencoba memahami semua hal yang sudah ada di depan mata. Siapapun kita, dimanapun kita berada, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Kita harus bersyukur, khususnya untuk pelajar yang ada di seluruh dunia tanpa terkecuali untuk lebih giat dalam mencari ilmu dan serius. Karena apa yang telah kita dapatkan ini sesungguhnya adalah anugrah luar biasa dari yang Maha kuasa. Jadi, hargailah dan berikan yang terbaik khususnya untuk mereka yang telah berjuang demi masa depan kita. Kalau bukan kita yang membalas jasa mereka, lantas siapa lagi?. #think_anymore. (19.40 - 21.34 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar