Bismillah…
Well, it is my first time to follow the ceremony in Adderasat Islamiah School Pattani-Thailand. The first, I felt so strange. There was something different with the ceremony in Indonesia. Everything was gonna be different. Mulai dari waktu pelaksanaan, cara mengatur barisan, kedisiplinan, keruntutan, semuanya berbeda. Ketika Saya mengikuti upacara kali ini, Saya berfikir bahwa seburuk – buruknya barisan upacara yang ada di Indonesia, itulah sebaik-baiknya barisan di Pattani, khususnya di Adderasat Islamiah School. Terlihat jelas bahwa banyak siswa yang datang terlambat ketika upacara tengah berlangsung, namun mereka tidak mendapat sangsi. Yang lebih parah lagi, ketika upacara sudah usai banyak sekali pelajar putra datang bergerombol memasuki area sekolah. Namun, tak lama kemudian semua dari mereka dikumpulkan di tengah lapangan. Mungkin mereka mendapat teguran karena ketidakdisiplinan mereka itu. Selain itu, ketika upacara tengah berlangsung banyak siswa yang tidak berbaris dengan rapi dan berbicara dengan keras. Sungguh ironis ketika melihat para penerus bangsa ini masih belum bisa untuk menghargai dan menaati peraturan, terutama dalam baris – berbaris. Sesungguhnya melalui upacara ini, para pelajar belajar tentang sikap menghargai, menghormati, dan mematuhi tata tertib. Namun, sepertinya mereka belum menyadari pentingnya hal itu.
Kemudian, Saya juga mengamati tentang isi yang disampaikan oleh salah satu pembina upacara, yaitu Ustad Ismail. Setelah Saya dengarkan dan mencoba untuk memahami apa isi yang Beliau sampaikan, ternyata Beliau menginformasikan tentang harga buku yang harus mereka beli. Tidak ada pengantar (abang – abang lambe) seperti di Indonesia. Saya semakin menyadari bahwa dunia ini unik. Di balik kerasnya hidup, di sana ada segelintir budaya yang berbeda satu sama lain. Dengan perbedaan itulah, kita bisa saling mengenal dan bertukar pikiran. Luar biasa…!
.Tidak hanya itu saja, melainkan Saya juga mendapati hal yang berbeda khususnya dialami oleh guru. Hampir semua guru, tidak berbaris seperti layaknya guru-guru di sekolah sewaktu Saya belajar di TK, SD, SMP, dan SMA. Di Adderasat, guru tidak diwajibkan untuk mengikuti upacara. Banyak guru duduk dan bercakap – cakap dengan rekan sejawat di tengah upacara sedang berlangsung. Apakah itu memang budaya di negara Thailand atau bagaimana Saya kurang tahu. Tapi yang pasti hal itu membuat Saya terkejut dan flashback dengan kondisi di Indonesia. Saya semakin bersyukur tinggal di Indonesia meskipun di sana juga masih banyak kekurangan, seperti korupsi, kekerasan, asusila, dan lain sebagainya. Namun, melihat konteks seperti itu di negara Saya, Saya menjadi termotivasi untuk melakukan perubahan menuju Indonesia lebih baik. Dengan segala kelebihan dan kekurangan Saya, Saya akan berusaha untuk mengharumkan negeri ini. Seperti perjuangan Bapak Proklamator kita Ir.Soekarno dan Moh.Hatta yang berjuang keras menjadikan Indonesia merdeka. Saya tanamkan pada jiwa ini untuk berjuang demi Indonesia lebih baik. Kalau bukan kita, siapa lagi?
09.18 a.m. at Adderasat Islamiah School Pattani Thailand
Tidak ada komentar:
Posting Komentar