Keanekaragaman
Budaya yang Lahir dalam Kehidupan Sosial Bermasyarakat di Wilayah Pattani
Thailand
Firdha Yunita Nur Aisyiyah
Fakultas Tarbiyah
dan Ilmu Keguruan
Fakultas
Tarbiyah Bahasa Inggris
Institut Agama
Islam Negeri Tulungagung
Abstrak
Budaya adalah kamuflase
karakter pada diri setiap bangsa. Setiap negara sudah pasti memiliki budaya yang
khas yang menonjolkan negaranya masing – masing. Salah satu keanekaragaman
budaya yang akan digali keunikan – keunikannya adalah budaya yang ada di
wilayah Pattani-Thailand. Secara garis besar, Pattani adalah wilayah yang ada
di sebelah selatan Thailand. Wilayah ini didominasi oleh masyarakat yang notabene
beragama islam. Budaya muslim di Pattani pun tidak sama seperti budaya muslim
di negara lain, seperti di Indonesia. Namun, adanya perbedaan budaya ini bukan
berarti menjauhkan hubungan kerja sama dalam berbagai bidang, melainkan
memberikan wawasan baru kepada masyarakat di berbagai tempat. Artikel ini
dibuat bertujuan untuk memaparkan berbagai macam keanekaragaman budaya yang ada
dalam kehidupan bermasyarakat masyarakat Pattani Thailand. Budaya yang diangkat
dalam artikel ini meliputi acara pernikahan (kenduri) dan mahar pernikahan di
wilayah Pattani Thailand. Hal itu dijadikan bahasan yang menarik karena melalui
eksplorasi budaya ini, setiap orang mampu memperluas cakrawala dengan cara
menyaksikan dan menyimak berbagai bentuk perbedaan yang memberi warna di setiap
kehidupan.
Kata kunci: budaya, pernikahan acara pernikahan(kenduri),
mahar pernikahan.
Pattani adalah sebuah
wilayah yang terletak di sebelah selatan Thailand. Ia merupakan sebuah provinsi
dari ke-empat provinsi di selatan Thailand dan acapkali ditemukan keunikan dari
kehidupan kemasyarakatannya. Hal baru yang memberi kesan ketika menjumpai
keunikan tersebut yakni keunikan yang nampak dari segi budaya. Budaya memang
menjadi salah satu bahasan yang kerap sekali menarik perhatian setiap
pembacanya. Dikatakan seperti itu, karena pada dasarnya manusia memiliki sifat
alamiah yaitu rasa ingin tahu terhadap hal baru. Rasa ingin tahu itulah yang
mampu menggerakkan manusia untuk memperluas cakrawalanya. Salah satu caranya
yakni dengan menengok budaya yang menarik versi wilayah Pattani – Thailand.
Sebenarnya,
budaya memiliki definisi yang cukup luas. Salah satu definisi yang paling tua
dapat diketahui dari E.B Taylor yang dikemukakan
di dalam bukunya Primitive Culture (1871), menyebutkan bahwa kebudayaan
adalah keseluruhan aktivitas
manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat,
dan kebiasaan - kebiasaan lain (Nyoman Kutha Ratna, 2005: 5)[1]. Lalu ada juga definisi lain yang mengemukakan bahwa
kebudayaan merupakan seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang
diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah (Marvin Haris 1999
: 19). Koentjaraningrat pun memiliki definisi yakni wujud
kebudayaan dapat dibagi
menjadi 3 macam: 1) kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan
peraturan; 2) kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola
manusia dalam masyarakat; dan 3) kebudayaan dianggap sebagai benda karya
manusia (Koentjaraningrat, 1974: 83)[2]. Sesungguhnya masih banyak pendapat – pendapat dari
para ahli mengenai kebudayaan karena pada dasarnya kebudayaan itu memiliki
makna yang beragam dan sangat luas. Sehingga dapat ditarik kesimpulan yakni
kebudayaan merupakan sesuatu yang mampu memberikan pengaruh terhadap tingkat
pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya
pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Berbicara tentang budaya, mengingatkan kembali pada pembahasan kali ini
yaitu keanekaragaman budaya yang ada di Pattani – Thailand, salah satunya yaitu
berkaitan dengan pernikahan. Pernikahan sejatinya memiliki banyak makna,
proses, serta cara melangsungkannya. Selain itu pernikahan pun juga memiliki
definisi dari tulisan dan makna yang erat hubungannya. Seperti pendapat yang
dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili yang mengatakan bahwa pernikahan dianggap
sebagai ikatan yang ditentukan oleh pembuat hukum syara’ (Allah) yang
memungkinkan laki – laki untuk istimta (mendapatkan kesenangan seksual) dari
istri dan demikian juga, bagi perempuan untuk mendapatkan kesenangan seksual
dari suami (Wahbah Zuhaili , 1989 :61). Selain itu, dalam pernikahan juga
terdapat hukum menikah. Sesuai hadist Rasulullah SAW, yang diriwayatkan kepada Ibnu Majah:“Nikah adalah sunahku, barang siapa tidak menjalankan sunnahku, dia bukan umatku.” Memahami hadist tersebut,bisa diambil pemaknaan bahwa nikah adalah anjuran (bukan kewajiban) yang bisa dikategorikan sebagai sunah yang mendekati wajib atau sunah muakkad. Meskipun demikian,anjuran untuk menikah ini bobotnya bisa berubah-ubah menjadi wajib, makruh, mubah atau kembali ke hukum asalnya yaitu sunah, sesuai dengan kondisi dan situasi yang melingkupinya. Itulah sekilas gambaran tentang pernikahan. Jadi, dalam artikel ini yang
akan dibahas lebih rinci yakni berkaitan dengan mahar dan pesta pernikahan
khususnya di wilayah Pattani – Thailand.
Sesuai pemaparan dari masyarakat Pattani – Thailand, pesta pernikahan
yang diadakan di wilayah ini mengambil adat Melayu di Sempadan Selatan
Thailand. Masyarakat Pattani biasa menyebutnya dengan adat Melayu Pattani . Semua
acara mulai dari pra-nikah hingga akhir pesta menggunakan adat Melayu Pattani,
seperti halnya mahar nikah dan pesta pernikahan. Mahar adalah salah satu syarat
sah pernikahan. Sehingga sang calon suami wajib menyiapkan mahar nikah secara
ikhlas dan sesuai syariat kepada sang calon istri. Dalam kaitannya dengan
mahar, kita sering mengetahui bahwa mahar bisa diberikan dalam bentuk uang
tunai, perhiasan, seperangkat alat sholat, Al-Qur’an, ataupun barang – barang
lain yang sekiranya layak. Khusus di wilayah Pattani – Thailand ini, mahar yang
diberikan hanyalah berupa uang tunai saja. Uang tunai itu pun bukan sesuai
kemampuan suami, melainkan seperti jual – beli. Dalam artian, jika seorang
perempuan yang hendak dinikahi tersebut berasal dari keluarga berada,
berpendidikan tinggi, dan berprofesi yang bisa dikategorikan menengah ke atas,
mahar yang diberikan pun semakin mahal. Mahar yang diberikan itu pun
menggunakan mata uang Bath. Sebelum menentukan berapa Bath mahar nikah
tersebut,sang calon suami beserta keluarga bermusyawarah dengan keluarga sang
calon istri terlebih dahulu. Jika ditemukan bahwa sang calon suami berada di
golongan menengah ke bawah, namun sang calon istri mencintai sang calon suami
tersebut, mahar pun tidak menjadi masalah. Kedua belah keluarga mencari solusi
yang meringankan keduanya. Akan tetapi, sekurang mampunya laki – laki di
wilayah Pattani, jika mereka hendak menikah, mereka biasa menyiapkan uang
minimal 100.000 Bath atau setara dengan Rp. 37.000.000,-. Sehingga jika sewaktu
– waktu sudah siap untuk menikah dan ada calon yang tepat untuk dijadikan
pendamping hidup, laki – laki itu tidak merasa keberatan dengan mahar itu. Begitu
juga sebaliknya untuk perempuan yang berpendidikan katakanlah tamatan SMP /
SMA. Pendek kata, berapa nominal mahar nikah itu tergantung kesepakatan kedua
belah keluarga. Sekiranya itulah gambaran singkat mengenai mahar nikah di
wilayah Pattani – Thailand.
Selepas mahar nikah diberikan di acara ijab dan qobul, kedua mempelai
membuat sebuah pesta pernikahan sesuai adat mereka. Pesta pernikahan ini
hukumnya bukan wajib, sehingga jika ada pasangan pengantin baru tidak
melangsungkan pesta seperti yang lainnya, hal itu bukan berrati pernikahan
mereka tidak sah. Pesta pernikahan itu diadakan semata – mata hanya ingin
berbagi kebahagiaan bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.
Pesta pernikahan yang diadakan di wilayah Pattani – Thailand bisa
dibilang cukup sederhana namun menarik perhatian pula. Bagaimana tidak, dalam
pesta pernikahan di wilayah Pattani tidak disediakan singgasana pengantin
(tempat pelaminan) layaknya raja dan ratu semalam. Melainkan hanya membuat pelaminan yang
dihiasi bunga-bunga kertas sekeliling dan diletakkan di luar rumah. Tak ada tempat
duduk. Pelaminan tersebut
hanya dibuat untuk berdiri bersalaman dengan para tamu undangan dan mengambil foto. Tak lupa juga kedua
pengantin memberikan Kong Cam Ruai (souvenir
pernikahan) sebagai tanda kenang. Semua bersuka cita dalam pesta pernikahan dan
pengantin pun akan merasakan letih yang luar biasa selepas acara karena seharian
penuh harus berjalan ke setiap tempat duduk dimana undangan datang dan
memberikan ucapan. Ditambah tidak adanya tempat duduk di pelaminan, menjadikan
pengantin mau tidak mau harus berdiri, jalan kesana kemari sambil membawa Kong Cam Ruai yang sudah siap untuk
dibagikan.
Selain itu, ada yang lebih unik lagi
yakni dekorasi tempat duduk, lokasi pernikahan, dan menu yang disediakan.
Mengenai hal tersebut, biasanya sang punya hajat menata puluhan kursi plastik
yang melingkari sebuah meja bundar dan diletakkan di halaman rumah. Setiap meja
bundar dikelilingi oleh 6 kursi plastik. Di bagian atasnya diberi tenda tebal (terpal) untuk memberi keteduhan di
setiap meja bundar yang sudah dipersiapkan. Semua itu digunakan untuk menyambut
tamu. Kemudian di samping kanan rumah terdapat sebuah tenda lainnya, tempat
kaum hawa berkumpul. Ada yang mengupas
bawang, mengiris timun, mengelap piring, dan sebagainya. Segala
persiapan kenduri (pesta pernikahan) dilakukan se-tradisional mungkin. Pelakon kerjanya pun adalah orang-orang kampung, tua muda, laki dan perempuan.
Kerja tuan rumah hanya menerima laporan dari orang-orang kampung yang bekerja.
Laporan itu, antara lain, semisal kelapa masih kurang, pisau belum cukup, dan
lain-lain. Singkatnya, tuan rumah adalah penyedia segala kebutuhan. Yang
bekerja adalah orang kampung. Lalu sehari sebelum pesta pernikahan itu dilangsungkan, orang-orang
kampung sudah nampak bergotong - royong. Sekumpulan bapak-bapak berkumpul di
tempat yang telah disediakan. Di sana, mereka mencincang daging lembu (sapi) yang sudah disembelih. Sebagian orang bertindak memotong
tulang-tulang lembu tersebut, sebagian lainnya mencincang daging, dan sebagian
lain memanaskan air. Beberapa orang memang tampak duduk-duduk saja. Ia
perhatikan kerja orang-orang yang mencincang daging lembu tersebut hingga tiba
giliran menggantikan yang sudah lelah. Memasak jadi tugas kaum ibu. Esoknya,
sebagian masakan tinggal dipanaskan saja. Itulah yang dilakukan di belakang tempat kenduri.
Hal itu akan nampak lebih unik ketika melihat makanan
yang dihidangkan. Sering kita melihat pesta pernikahan menggunakan makanan ala buffet, yakni salah satunya tipe makan seperti
itu bisa dinikmati di pesta pernikahan khas Pattani – Thailand. Berbicara
tentang makanan, makanan pokok orang Thailand pun sama dengan makanan pokok
orang Indonesia. Jadi dalam acara apapun dan dimanapun pasti akan menjumpai
nasi sebagai makanan pokok. Dalam pesta pernikahan di wilayah Pattani –
Thailand, nasi yang sudah dimasak dibungkus dengan plastik gula 2 kg.
Nasi bungkus itu diletakkan di atas talam bersama enam buah piring. Umumnya,
satu talam ada tiga bungkus nasi. Nasi-nasi itulah yang dihidangkan untuk
tetamu dan undangan. Setiap tamu akan menuangkan nasi dari bungkus plastik ke
dalam piringnya. Satu plastik cukup untuk dua orang. Jika mereka butuh nasi
tambah atau ada sesuatu lainnya yang masih kurang, tamu diperbolehkan meminta lagi.
Hal
yang tidak pernah ketinggalan dalam talam lauk adalah timun dan sambal terasi. Mereka biasa menyebutnya dengan lace. Bagi orang Melayu Patani, timun dan sambal terasi adalah
lalap yang mesti ada. Tak hanya di rumah kenduri, di warung-warung nasi sepanjang
jalan pun selalu disiapkan timun dicicah bersama sambal terasi.
Selain
itu, yang menjadi khas dan pasti dijumpai di segala yaitu namplau dan namkeng. Namplau
merupakan air putih di dalam gelas. Pasangannya
adalah namkeng yakni es batu kosong,
yang kemudian antara namplau dan namkeng dicampur menjadi satu. Musim hujan maupun kemarau, setiap gelas tamu akan diberi namplau dan namkeng. Adapun air
putihnya (namplau) sudah disediakan dalam ceret di
atas meja. Tamu tinggal menuangkan air putih ke
dalam gelas mereka sesuka hati.
Makanan lainnya yang tidak tertinggal di rumah-rumah
kenduri adalah pulut. Pulut adalah makanan sejenis nasi
namun berbahan dasar ketan. Pulut tersebut disuguhkan dengan berbagai warna. Ada
warna putih, kuning, merah, cokelat. Pulut yang dibuat pun ada rasa manis dan
tawar. Jika rasa pulut tawar, cara memakannya yaitu dengan dicampur lauk pauk
yang disediakan, seperti som tam, tom
yam, kem sum, pak prik, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk pulut yang manis,
boleh dimakan sekaligus boleh juga dicicah dengan sambal. Kemudian, sebelum
tamu undangan pulang ke rumah, tuan rumah memberikan nasi pulut beserta lauk
yang sudah disiapkan dan dimasukkan di dalam plastik warna putih.
Seperti itulah gambaran keunikan pesta pernikahan atau
yang sering disebut dengan kenduri oleh masyarakat wilayah Pattani – Thailand
itu. Sangat tradisional dan masih mengikuti adat yang kental. Namun
tradisionalnya itu tidak menjadikan wilayah tersebut menjadi terbelakang.
Sebaliknya, hal itu menjadi ciri khas di wilayah Pattani – Thailand. Dengan
adanya budaya yang beragam, kita bisa jadikan referensi pengetahuan yang sangat
bermanfaat baik memberi manfaat saat ini ataupun di masa yang akan datang.
REFERENSI
Masyarakat di wilayah Pattani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar