Minggu, 20 Juli 2014

Artikel tentang Kebudayaan

Keanekaragaman Budaya yang Lahir dalam Kehidupan Sosial Bermasyarakat di Wilayah Pattani Thailand
Firdha Yunita Nur Aisyiyah
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Fakultas Tarbiyah Bahasa Inggris
Institut Agama Islam Negeri Tulungagung

Abstrak

Budaya adalah kamuflase karakter pada diri setiap bangsa. Setiap negara sudah pasti memiliki budaya yang khas yang menonjolkan negaranya masing – masing. Salah satu keanekaragaman budaya yang akan digali keunikan – keunikannya adalah budaya yang ada di wilayah Pattani-Thailand. Secara garis besar, Pattani adalah wilayah yang ada di sebelah selatan Thailand. Wilayah ini didominasi oleh masyarakat yang notabene beragama islam. Budaya muslim di Pattani pun tidak sama seperti budaya muslim di negara lain, seperti di Indonesia. Namun, adanya perbedaan budaya ini bukan berarti menjauhkan hubungan kerja sama dalam berbagai bidang, melainkan memberikan wawasan baru kepada masyarakat di berbagai tempat. Artikel ini dibuat bertujuan untuk memaparkan berbagai macam keanekaragaman budaya yang ada dalam kehidupan bermasyarakat masyarakat Pattani Thailand. Budaya yang diangkat dalam artikel ini meliputi acara pernikahan (kenduri) dan mahar pernikahan di wilayah Pattani Thailand. Hal itu dijadikan bahasan yang menarik karena melalui eksplorasi budaya ini, setiap orang mampu memperluas cakrawala dengan cara menyaksikan dan menyimak berbagai bentuk perbedaan yang memberi warna di setiap kehidupan.
Kata kunci: budaya, pernikahan acara pernikahan(kenduri), mahar pernikahan.  
Pattani adalah sebuah wilayah yang terletak di sebelah selatan Thailand. Ia merupakan sebuah provinsi dari ke-empat provinsi di selatan Thailand dan acapkali ditemukan keunikan dari kehidupan kemasyarakatannya. Hal baru yang memberi kesan ketika menjumpai keunikan tersebut yakni keunikan yang nampak dari segi budaya. Budaya memang menjadi salah satu bahasan yang kerap sekali menarik perhatian setiap pembacanya. Dikatakan seperti itu, karena pada dasarnya manusia memiliki sifat alamiah yaitu rasa ingin tahu terhadap hal baru. Rasa ingin tahu itulah yang mampu menggerakkan manusia untuk memperluas cakrawalanya. Salah satu caranya yakni dengan menengok budaya yang menarik versi wilayah Pattani – Thailand.
Sebenarnya, budaya memiliki definisi yang cukup luas. Salah satu definisi yang paling tua dapat diketahui dari E.B Taylor yang dikemukakan di dalam bukunya Primitive Culture (1871), menyebutkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, dan kebiasaan - kebiasaan lain (Nyoman Kutha Ratna, 2005: 5)[1]. Lalu ada juga definisi lain yang mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah (Marvin Haris 1999 : 19). Koentjaraningrat pun memiliki definisi yakni wujud kebudayaan dapat dibagi menjadi 3  macam: 1) kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan; 2) kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat; dan 3) kebudayaan dianggap sebagai benda karya manusia (Koentjaraningrat, 1974: 83)[2]. Sesungguhnya masih banyak pendapat – pendapat dari para ahli mengenai kebudayaan karena pada dasarnya kebudayaan itu memiliki makna yang beragam dan sangat luas. Sehingga dapat ditarik kesimpulan yakni kebudayaan merupakan sesuatu yang mampu memberikan pengaruh terhadap tingkat pengetahuan  dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Berbicara tentang budaya, mengingatkan kembali pada pembahasan kali ini yaitu keanekaragaman budaya yang ada di Pattani – Thailand, salah satunya yaitu berkaitan dengan pernikahan. Pernikahan sejatinya memiliki banyak makna, proses, serta cara melangsungkannya. Selain itu pernikahan pun juga memiliki definisi dari tulisan dan makna yang erat hubungannya. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili yang mengatakan bahwa pernikahan dianggap sebagai ikatan yang ditentukan oleh pembuat hukum syara’ (Allah) yang memungkinkan laki – laki untuk istimta (mendapatkan kesenangan seksual) dari istri dan demikian juga, bagi perempuan untuk mendapatkan kesenangan seksual dari suami (Wahbah Zuhaili , 1989 :61). Selain itu, dalam pernikahan juga terdapat hukum menikah. Sesuai hadist Rasulullah SAW, yang diriwayatkan kepada Ibnu Majah:“Nikah adalah sunahku, barang siapa tidak menjalankan sunnahku, dia bukan umatku.” Memahami hadist tersebut,bisa diambil pemaknaan bahwa nikah adalah anjuran (bukan kewajiban) yang bisa dikategorikan sebagai sunah yang mendekati wajib atau sunah muakkad. Meskipun demikian,anjuran untuk menikah ini bobotnya bisa berubah-ubah menjadi wajib, makruh, mubah atau kembali ke hukum asalnya yaitu sunah, sesuai dengan kondisi dan situasi yang melingkupinya. Itulah sekilas gambaran tentang pernikahan. Jadi, dalam artikel ini yang akan dibahas lebih rinci yakni berkaitan dengan mahar dan pesta pernikahan khususnya di wilayah Pattani – Thailand.
Sesuai pemaparan dari masyarakat Pattani – Thailand, pesta pernikahan yang diadakan di wilayah ini mengambil adat Melayu di Sempadan Selatan Thailand. Masyarakat Pattani biasa menyebutnya dengan adat Melayu Pattani . Semua acara mulai dari pra-nikah hingga akhir pesta menggunakan adat Melayu Pattani, seperti halnya mahar nikah dan pesta pernikahan. Mahar adalah salah satu syarat sah pernikahan. Sehingga sang calon suami wajib menyiapkan mahar nikah secara ikhlas dan sesuai syariat kepada sang calon istri. Dalam kaitannya dengan mahar, kita sering mengetahui bahwa mahar bisa diberikan dalam bentuk uang tunai, perhiasan, seperangkat alat sholat, Al-Qur’an, ataupun barang – barang lain yang sekiranya layak. Khusus di wilayah Pattani – Thailand ini, mahar yang diberikan hanyalah berupa uang tunai saja. Uang tunai itu pun bukan sesuai kemampuan suami, melainkan seperti jual – beli. Dalam artian, jika seorang perempuan yang hendak dinikahi tersebut berasal dari keluarga berada, berpendidikan tinggi, dan berprofesi yang bisa dikategorikan menengah ke atas, mahar yang diberikan pun semakin mahal. Mahar yang diberikan itu pun menggunakan mata uang Bath. Sebelum menentukan berapa Bath mahar nikah tersebut,sang calon suami beserta keluarga bermusyawarah dengan keluarga sang calon istri terlebih dahulu. Jika ditemukan bahwa sang calon suami berada di golongan menengah ke bawah, namun sang calon istri mencintai sang calon suami tersebut, mahar pun tidak menjadi masalah. Kedua belah keluarga mencari solusi yang meringankan keduanya. Akan tetapi, sekurang mampunya laki – laki di wilayah Pattani, jika mereka hendak menikah, mereka biasa menyiapkan uang minimal 100.000 Bath atau setara dengan Rp. 37.000.000,-. Sehingga jika sewaktu – waktu sudah siap untuk menikah dan ada calon yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup, laki – laki itu tidak merasa keberatan dengan mahar itu. Begitu juga sebaliknya untuk perempuan yang berpendidikan katakanlah tamatan SMP / SMA. Pendek kata, berapa nominal mahar nikah itu tergantung kesepakatan kedua belah keluarga. Sekiranya itulah gambaran singkat mengenai mahar nikah di wilayah Pattani – Thailand.
Selepas mahar nikah diberikan di acara ijab dan qobul, kedua mempelai membuat sebuah pesta pernikahan sesuai adat mereka. Pesta pernikahan ini hukumnya bukan wajib, sehingga jika ada pasangan pengantin baru tidak melangsungkan pesta seperti yang lainnya, hal itu bukan berrati pernikahan mereka tidak sah. Pesta pernikahan itu diadakan semata – mata hanya ingin berbagi kebahagiaan bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.
Pesta pernikahan yang diadakan di wilayah Pattani – Thailand bisa dibilang cukup sederhana namun menarik perhatian pula. Bagaimana tidak, dalam pesta pernikahan di wilayah Pattani tidak disediakan singgasana pengantin (tempat pelaminan) layaknya raja dan ratu semalam. Melainkan hanya membuat pelaminan yang dihiasi bunga-bunga kertas sekeliling dan diletakkan di luar rumah. Tak ada tempat duduk. Pelaminan tersebut hanya dibuat untuk berdiri bersalaman dengan para tamu undangan dan mengambil foto. Tak lupa juga kedua pengantin memberikan Kong Cam Ruai (souvenir pernikahan) sebagai tanda kenang. Semua bersuka cita dalam pesta pernikahan dan pengantin pun akan merasakan letih yang luar biasa selepas acara karena seharian penuh harus berjalan ke setiap tempat duduk dimana undangan datang dan memberikan ucapan. Ditambah tidak adanya tempat duduk di pelaminan, menjadikan pengantin mau tidak mau harus berdiri, jalan kesana kemari sambil membawa Kong Cam Ruai yang sudah siap untuk dibagikan.
Selain itu, ada yang lebih unik lagi yakni dekorasi tempat duduk, lokasi pernikahan, dan menu yang disediakan. Mengenai hal tersebut, biasanya sang punya hajat menata puluhan kursi plastik yang melingkari sebuah meja bundar dan diletakkan di halaman rumah. Setiap meja bundar dikelilingi oleh 6 kursi plastik. Di bagian atasnya diberi tenda tebal (terpal) untuk memberi keteduhan di setiap meja bundar yang sudah dipersiapkan. Semua itu digunakan untuk menyambut tamu. Kemudian di samping kanan rumah terdapat sebuah tenda lainnya, tempat kaum hawa berkumpul. Ada yang mengupas bawang, mengiris timun, mengelap piring, dan sebagainya. Segala persiapan kenduri (pesta pernikahan) dilakukan se-tradisional mungkin. Pelakon kerjanya pun adalah orang-orang kampung, tua muda, laki dan perempuan. Kerja tuan rumah hanya menerima laporan dari orang-orang kampung yang bekerja. Laporan itu, antara lain, semisal kelapa masih kurang, pisau belum cukup, dan lain-lain. Singkatnya, tuan rumah adalah penyedia segala kebutuhan. Yang bekerja adalah orang kampung. Lalu sehari sebelum pesta pernikahan itu dilangsungkan, orang-orang kampung sudah nampak bergotong - royong. Sekumpulan bapak-bapak berkumpul di tempat yang telah disediakan. Di sana, mereka mencincang daging lembu (sapi) yang sudah disembelih. Sebagian orang bertindak memotong tulang-tulang lembu tersebut, sebagian lainnya mencincang daging, dan sebagian lain memanaskan air. Beberapa orang memang tampak duduk-duduk saja. Ia perhatikan kerja orang-orang yang mencincang daging lembu tersebut hingga tiba giliran menggantikan yang sudah lelah. Memasak jadi tugas kaum ibu. Esoknya, sebagian masakan tinggal dipanaskan saja. Itulah yang dilakukan di belakang tempat kenduri.
Hal itu akan nampak lebih unik ketika melihat makanan yang dihidangkan. Sering kita melihat pesta pernikahan menggunakan makanan ala buffet, yakni salah satunya tipe makan seperti itu bisa dinikmati di pesta pernikahan khas Pattani – Thailand.  Berbicara tentang makanan, makanan pokok orang Thailand pun sama dengan makanan pokok orang Indonesia. Jadi dalam acara apapun dan dimanapun pasti akan menjumpai nasi sebagai makanan pokok. Dalam pesta pernikahan di wilayah Pattani – Thailand, nasi yang sudah dimasak dibungkus dengan plastik gula 2 kg. Nasi bungkus itu diletakkan di atas talam bersama enam buah piring. Umumnya, satu talam ada tiga bungkus nasi. Nasi-nasi itulah yang dihidangkan untuk tetamu dan undangan. Setiap tamu akan menuangkan nasi dari bungkus plastik ke dalam piringnya. Satu plastik cukup untuk dua orang. Jika mereka butuh nasi tambah atau ada sesuatu lainnya yang masih kurang, tamu diperbolehkan meminta lagi.
Hal yang tidak pernah ketinggalan dalam talam lauk adalah timun dan sambal terasi. Mereka biasa menyebutnya dengan lace. Bagi orang Melayu Patani, timun dan sambal terasi adalah lalap yang mesti ada. Tak hanya di rumah kenduri, di warung-warung nasi sepanjang jalan pun selalu disiapkan timun dicicah bersama sambal terasi.
Selain itu, yang menjadi khas dan pasti dijumpai di segala  yaitu namplau dan namkeng. Namplau merupakan air putih di dalam gelas. Pasangannya adalah namkeng yakni es batu kosong, yang kemudian antara namplau dan namkeng dicampur menjadi satu. Musim hujan maupun kemarau, setiap gelas tamu akan diberi namplau dan namkeng. Adapun air putihnya (namplau) sudah disediakan dalam ceret di atas meja. Tamu tinggal menuangkan air putih ke dalam gelas mereka sesuka hati.
Makanan lainnya yang tidak tertinggal di rumah-rumah kenduri adalah pulut. Pulut adalah makanan sejenis nasi namun berbahan dasar ketan. Pulut tersebut disuguhkan dengan berbagai warna. Ada warna putih, kuning, merah, cokelat. Pulut yang dibuat pun ada rasa manis dan tawar. Jika rasa pulut tawar, cara memakannya yaitu dengan dicampur lauk pauk yang disediakan, seperti som tam, tom yam, kem sum, pak prik, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk pulut yang manis, boleh dimakan sekaligus boleh juga dicicah dengan sambal. Kemudian, sebelum tamu undangan pulang ke rumah, tuan rumah memberikan nasi pulut beserta lauk yang sudah disiapkan dan dimasukkan di dalam plastik warna putih.
Seperti itulah gambaran keunikan pesta pernikahan atau yang sering disebut dengan kenduri oleh masyarakat wilayah Pattani – Thailand itu. Sangat tradisional dan masih mengikuti adat yang kental. Namun tradisionalnya itu tidak menjadikan wilayah tersebut menjadi terbelakang. Sebaliknya, hal itu menjadi ciri khas di wilayah Pattani – Thailand. Dengan adanya budaya yang beragam, kita bisa jadikan referensi pengetahuan yang sangat bermanfaat baik memberi manfaat saat ini ataupun di masa yang akan datang.




















REFERENSI
Masyarakat di wilayah Pattani





[1] Ratna, Nyoman Kutha, 2005, Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
[2] Koentjaraningrat, 1974, Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar