June, 10th 2014
Bismillah.
Tulisan
yang Saya buat hari ini berdasarkan apa yang Saya alami tadi malam.
Alhamdulillah….Aku harus bersyukur kepada Illahi Rabbi untuk yang kesekian
kaliannya. Firdha harus berusaha syukur nikmat karena baik kecil atau besar yang
kita dapatakan, baik Nampak atau tidak nampak yang kita peroleh, semua itu
adalah nikmat yang Allah berikan khusus untuk Firdha.
Luar biasa, ucap Saya. Awalnya Saya tidak pernah menduga
bahwa tepat tadi malam tanggal 09 Juni 2014, kawan seperjuanganku di bumi
Thailand ini bermalam di asramaku di Latdua Adderasat Islamiah. Subhanallah…
senang sekali ketika ada kawan yang berkunjung sekaligus bermalam berdua di
asrama. Ini adalah kesempatan emas bagi Saya untuk saling berbagi pengalaman
dan proker – proker satu sama lain. Namun, sebelum merujuk ke sharing, ingin sekali rasanya Saya
menuliskan kronologi kawan dari Pombeeng yaitu Riza sampai bermalam di asrama
Saya. Jadi, cerita bermula dari guru – guru di sekolah Riza bertanya mengapa
Riza matanya bengkak ? Apakah dia
menangis? Kemudian Riza berkata jujur bahwa semalam dia menangis karena
teringat dengan keluarga yang di Indonesia. Tidak disangka, untuk menghibur
hati Riza, sore harinya Ustad fauzi (pengasuh Riza yang di Pombeeng) mengajak
Riza untuk jalan – jalan. Di tengah jalan, Ustad Fauzi memberi tawaran ke Riza
jikalau bersedia pergi berkunjung di Latdua di tempat Saya mengabdi selama 4
bulan. Dengan segera, Riza mencoba mengubungi Saya via telepon untuk meminta
izin menginap di asrama Saya. Sudah pasti, Saya bersedia dan mengiyakan
keinginan Riza itu. Saya merasa sangat beruntung ada kawan yang bersedia
bermalam di asrama Saya yang apa adanya dan mewah (mepet sawah). Hehehe.
Tak
lama kemudian, selang beberapa menit setelah Saya menunaikan ibadah sholat
Ashar berjamaah di masjid, beberapa guru (Thai
: Acan) datang memanggil Saya dan memebri tahu bahwa ada kawan yang datang.
Alhamdulillah… fikirku dia Riza. Alhamdulillah. Kemudian dengan segera Saya
meluncur di tempat Riza menunggu Saya dan kami pun melepas rindu satu sama
lain. Sekitar 10 menit kemudian, Ustad fauzi bersama Bedi (pengasuh Saya di
Adderasat) datang menemui Riza dan Saya, sekaligus Ustad fauzi berpamitan
pulang ke Pombeeng. Jadilah, tadi malam Riza menginap di asrama Saya bersama
Saya. Sungguh….hati ini terasa amat senang dan lega. Jadi, begitulah kronologi
singkat Riza tidur di asrama Saya. Hanya gara – gara menangis saja, Riza bisa
diajak jalan – jalan dan tidur di bilik Saya. Saya berkata dalam hati,
“Menangis saja setiap hari agar setiap malam bisa tidur dengan kawan
seperjuangan. Hehehe. “. Ide yang sangat konyol menurut Saya, tapi mengesankan
juga.
Karena
kami beranggapan bahwa semalam adalah waktu yang amat berharga untuk berbagi
pengalaman, kami memanfaatkan waktu itu untuk berjaga hingga pukul 02.00 dini
hari. Rasa kantuk kadang muncul, kadang juga sirna. Namun, kami tetap berusaha
untuk saling bertukar pikiran tentang proker kami. Mengapa kami memilih untuk
bekerja hingga larut malam? Sebelumnya kami sempat berbincang – bincang dengan
Buya (Ustad yang menyelenggarakan program KKN dan PPL ini) tentang program
kerja kami di Ma’had masing – masing. Ternyata dari pihak Thailand meminta
banyak perubahan yang bisa diberikan oleh para peserta PPL dan KKN di Thailand
tahun ini. Seperti halnya pelatihan – pelatihan soft skill, seperti surat – menyurat, membuat makalah, membuat
artikel, cara membuka dan menutup rapat, dan lain sebagainya. Hal itu ternyata
sangat dibutuhkan oleh pihak Ma’had dan itu bisa direalisasikan dengan cara
membangun kerja sama antar dewan pelajar (OSIS). Untuk Saya, hal ini sedikit
berat karena banyak kendala – kendala yang akan Firdha hadapi manakala
melaksanakan agenda ini. Pertama, di Adderasat semua anggota dewan pelajar
tidak ada yang bermukim di asrama. Kedua, masalah waktu. Waktu mengajar Firdha
di Adderasat Islamiah selama satu minggu yaitu 19 kali pertemuan. Sehingga
sulit bagi Saya untuk menyisipkan agenda tersebut baik di kelas maupun di luar
kelas. Itu salah satu tugas yang menantang bagi Saya dalam program KKN dan PPL
kali ini.Tak apalah, Saya harus menjalani dan menemukan solusi untuk
problematika ini. Teringat hadist Nabi, bersama kesulitan pasti ada kemudahan.
Itu benar adanya jika umat bersedia untuk mencari jalan keluar dan berfikir
rasional untuk menyikapi problem satu demi satu. Bismillah..semoga hari ini
bisa membuat planning untuk agenda tersebut sebelum dikonsultasikan kepada Bedi
selaku guru besar di Adderasat Islamiah School Pattani – Thailand
11.05 a.m. Adderasat Islamiah School Pattani Thailand
Firdha Yunita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar