Minggu, 20 Juli 2014

Ustad Ma'

July, 17th 2014
Bismillah.
            Alhamdulillah…rasa syukur harus Saya haturkan kepada Engkau yang Maha Pemilik dan Pemberi syukur. Karunia dan rezeki-Mu tak akan pernah habis meski setiap hari Kau sebarkan ke seluruh umat – Mu. Ya…memang benar bahwa Engkau sangat menyayangi setiap umat-Mu yang selalu ingin mendapat kasih sayang dari-Mu dan kemudian dengan cara yang tak pernah kami duga sebelumnya, Engkau menunjukkannya dengan luar biasa. Hanya rasa syukur yang terucap dari bibir tipis ini. Engkau yang selalu ada cara untuk membahagiakan umat-Mu dan Engkau pula yang selalu melindungi mereka. Terimakasih Allah Ya Rabbi…
            Sebuah catatan hidup hari ini yang tidak pernah Saya duga dan Saya ketahui sebelumnya. Di hari detik – detik menjelang hari raya kali ini, sebuah momen yang Saya alami membuat Saya ternganga dan tak lupa untuk bersyukur kepada Sang Illahi Rabbi. Betapa tidak…hari ini datang rezeki yang Allah titipkan kepada salah satu umat-Nya yang mana Beliau adalah Ustad di pondok tempat Saya mengajar. Ustad Ma’ namanya. Beliau lah yang menyambut Saya pertama kali ketika Saya masih berada di Gedung Pentadbiran Pattani sebelum kami berpisah dengan semua kawan yang dari Indonesia untuk dihantarkan di tempat kami mengabdi selama kurang lebih 4 bulan. Sering Saya bertemu dengan Beliau terlebih pada hari Kamis. Mengapa? Karena Beliau tidak setipa hari mengajar, sehingga tidak setiap hari pula berjumpa dengan Beliau.
            Beliau adalah salah satu lulusan dari universitas yang ada di Indonesia, tepatnya di UIN Jogjakarta. Jadi, sedikit demi sedikit Beliau bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa. Bahasa yang Saya gunakan bercakap – cakap dengan keluarga yang ada di Indonesia, bahasa yang sudah amat Saya rindukan, dan bahasa yang bisa dikatakan unik. Iya…bercakap – cakap dengan Beliau bisa mengajak alam fikiran Saya mengingat segala hal yang berkaitan dengan tanah airku Indonesia. Ungakapan – ungkapan Jawa yang sering Beliau dengungkan, seperti halnya ”Firdha, pie kabare? Apik – apik wae to? Aku ora opo – opo”. Itu yang terkadang mengundang tawa beberapa Ustad yang duduk dan tidak senagaj mendengar. Saya pun dengan semangat membalas dengan bahasa Jawa Saya yang bisa dikatakan medok jowone (kental aksen Jawanya), yang kemudian dilanjut dengan obrolan santai dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah terkontaminasi dengan bahasa Melayu Pattani. Tapi tak apa…semua memberikan kesan yang unik dan menarik.
            Kali ini momen yang tidak pernah Saya duga sebelumnya yaitu ketika berbincang – bincang dengan Ustad Ma’, tiba – tiba ditengah obrolan santai Kami, Beliau membuka saku baju dan mengambil beberapa helai lembaran Bath. Kemudian lembaran Bath itu diberikan kepada Saya. Saya pun terkejut, mengapa dan untuk apa? Ternyata Beliau memberi zakat kepada Saya dan ingin sedekah juga di bulan ramadhan ini. Alhamdulillah … rezeki Allah kali ini dititipkan kepada Ustad Ma’. Alhamdulillah… semoga barokah. Lalu, tak lama kemudian Beliau pun keluar dan mengambil satu buah kaos buatan pabrik yang saat ini Beliau pimpin. Alhamdulillah… rezeki 3 lembar Bath dan 1 buah kaos di bulan ramadhan kali ini. subhanallah…terimakasih ya Allah. Semua ini tidak akan bisa Saya dapatkan jika Engkau tidak menitipkan rezeki-Mu kepada orang – orang pilihan-Mu. Semua kebaikan yang Ustad Ma’ berikan kepada Saya, hanya Allah-lah yang bisa membalas dan melipat gandakan kebaikan Ustad. Kelak..ketika Saya kembali ke Indonesia, momen ini akan Saya ceritakan kepada sanak keluarga dan keluarga kecil Saya suatu hari nanti. Amin.
Selepas mengajar di ruang guru Addirasat Islamiah School
Firdha Yunita

20 Ramadhan 1435 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar