July, 17th 2014
Bismillah.
Alhamdulillah…rasa
syukur harus Saya haturkan kepada Engkau yang Maha Pemilik dan Pemberi syukur.
Karunia dan rezeki-Mu tak akan pernah habis meski setiap hari Kau sebarkan ke
seluruh umat – Mu. Ya…memang benar bahwa Engkau sangat menyayangi setiap
umat-Mu yang selalu ingin mendapat kasih sayang dari-Mu dan kemudian dengan
cara yang tak pernah kami duga sebelumnya, Engkau menunjukkannya dengan luar
biasa. Hanya rasa syukur yang terucap dari bibir tipis ini. Engkau yang selalu
ada cara untuk membahagiakan umat-Mu dan Engkau pula yang selalu melindungi
mereka. Terimakasih Allah Ya Rabbi…
Sebuah
catatan hidup hari ini yang tidak pernah Saya duga dan Saya ketahui sebelumnya.
Di hari detik – detik menjelang hari raya kali ini, sebuah momen yang Saya
alami membuat Saya ternganga dan tak lupa untuk bersyukur kepada Sang Illahi
Rabbi. Betapa tidak…hari ini datang rezeki yang Allah titipkan kepada salah
satu umat-Nya yang mana Beliau adalah Ustad di pondok tempat Saya mengajar.
Ustad Ma’ namanya. Beliau lah yang menyambut Saya pertama kali ketika Saya
masih berada di Gedung Pentadbiran Pattani sebelum kami berpisah dengan semua
kawan yang dari Indonesia untuk dihantarkan di tempat kami mengabdi selama
kurang lebih 4 bulan. Sering Saya bertemu dengan Beliau terlebih pada hari
Kamis. Mengapa? Karena Beliau tidak setipa hari mengajar, sehingga tidak setiap
hari pula berjumpa dengan Beliau.
Beliau
adalah salah satu lulusan dari universitas yang ada di Indonesia, tepatnya di
UIN Jogjakarta. Jadi, sedikit demi sedikit Beliau bisa berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa Jawa. Bahasa yang Saya gunakan bercakap – cakap dengan
keluarga yang ada di Indonesia, bahasa yang sudah amat Saya rindukan, dan
bahasa yang bisa dikatakan unik. Iya…bercakap – cakap dengan Beliau bisa
mengajak alam fikiran Saya mengingat segala hal yang berkaitan dengan tanah
airku Indonesia. Ungakapan – ungkapan Jawa yang sering Beliau dengungkan,
seperti halnya ”Firdha, pie kabare? Apik – apik wae to? Aku ora opo – opo”.
Itu yang terkadang mengundang tawa beberapa Ustad yang duduk dan tidak senagaj
mendengar. Saya pun dengan semangat membalas dengan bahasa Jawa Saya yang bisa
dikatakan medok jowone (kental aksen Jawanya), yang kemudian dilanjut
dengan obrolan santai dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah
terkontaminasi dengan bahasa Melayu Pattani. Tapi tak apa…semua memberikan
kesan yang unik dan menarik.
Kali
ini momen yang tidak pernah Saya duga sebelumnya yaitu ketika berbincang –
bincang dengan Ustad Ma’, tiba – tiba ditengah obrolan santai Kami, Beliau
membuka saku baju dan mengambil beberapa helai lembaran Bath. Kemudian lembaran
Bath itu diberikan kepada Saya. Saya pun terkejut, mengapa dan untuk apa?
Ternyata Beliau memberi zakat kepada Saya dan ingin sedekah juga di bulan
ramadhan ini. Alhamdulillah … rezeki Allah kali ini dititipkan kepada Ustad
Ma’. Alhamdulillah… semoga barokah. Lalu, tak lama kemudian Beliau pun keluar
dan mengambil satu buah kaos buatan pabrik yang saat ini Beliau pimpin.
Alhamdulillah… rezeki 3 lembar Bath dan 1 buah kaos di bulan ramadhan kali ini.
subhanallah…terimakasih ya Allah. Semua ini tidak akan bisa Saya dapatkan jika
Engkau tidak menitipkan rezeki-Mu kepada orang – orang pilihan-Mu. Semua
kebaikan yang Ustad Ma’ berikan kepada Saya, hanya Allah-lah yang bisa membalas
dan melipat gandakan kebaikan Ustad. Kelak..ketika Saya kembali ke Indonesia,
momen ini akan Saya ceritakan kepada sanak keluarga dan keluarga kecil Saya
suatu hari nanti. Amin.
Selepas mengajar di ruang guru Addirasat Islamiah
School
Firdha Yunita
20 Ramadhan 1435 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar