July, 10th 2014
Bismillah.
Alhamdulillah..masih
bisa berjumpa dengan hari Kamis lagi. Hari Kamis adalah hari yang saya nanti –
nantikan di sini. Mengapa seperti itu? Ketika tiba hari Kamis, Saya selalu
berfikir bahwa Saya sudah melewati 1 minggu ini dengan segala aktivitas yang
mengesankan. Selain itu, di hari selepas Kamis, Saya bisa menggunakan waktu
untuk beristirahat dan mengerjakan berbagai tugas yang masih menumpuk saja.
Minggu ini, deadline Saya adalah menyelesaikan artikel yang sudah kadaluwarsa
ini. hmm… inilah yang membuat Saya sulit untuk bisa menajdi lebih baik.
Menyadari bahwa ketika titik jenuh menyergap, semuanya kosong. Tidak ada hasil
apa – apa selama berminggu – minggu. Namun, saat ini Saya akan belajar untuk
menyelesaikannya sedikit demi sedikit. Apapun hasilnya, yang terpenting adalah
prosesnya. Proses menjadi sebuah hal yang bisa Saya katakana sacral karena
dengan proses yang tidak mudah itu, kita bisa belajar salah satunya yakni arti
perjuangan.
Hari
ini kelas terakhir yang Saya ajar adalah kelas M – 3 / 2. Pertemuan kali ini,
Saya sengaja untuk tidak menulis karena sepertinya murid – murid sudah letih.
Sebagai gantinya, Saya menyediakan 4 buah kartu bergambar yang mana meminta 4
orang siswa untuk maju menyebutkan warna apa saja yang ada di setiap kartu yang
mereka pegang. Ketika 1, 2, dan 3 siswa menyelesaikan tugas mereka untuk
menyebutkan warna itu dalam bahasa inggris, tiba giliran siswa terakhir untuk
maju, ternyata terjadi sebuah trouble yang
tidak pernah Saya duga sebelumnya. Tak disangka, siswa yang seharusnya maju dan
menyebutkan warna – warna itu mendadak saja dia meneteskan air mata. Matanya
merah, lubang hidungnya membesar, dan badannya pun nampak gemetar. Awalnya Saya
fikir hanya bercanda, namun ternyata itu fakta. Tidak Saya ketahui sebelumnya,
bahwa dia mengalami fase demam panggung. Dia takut dan malu jika melakukan
kesalahan. Dia tidak ingin untuk mencoba dan mengalahkan rasa takutnya.
Perasaan malu dan takut pada dirinya masih terlalu besar. Hal itu pun
mengundang perhatian siswa yang lain. Kawan – kawannya pun tidak berhenti untuk
menertawai tingkahnya. Namun, guru segera menasehati bahwa tidak baik
berbahagia di atas penderitaan kawannya. Lalu, secara bergantian kawan –
kawannya pun memberi semangat kepada 1 siswa itu untuk segera maju di depan
kelas dan melakukan instruksi guru. Dia pun meminta untuk maju berdua ditemani
kawannya. Guru pun akhirnya mendiktekan dan siswa pun menirukan apa yang
diucapkan oleh guru dan kelas pun ditutup dengan derai tawa semua siswa.
Sebuah
kejadian yang tidak asing bagi Saya. Saya menjadi teringat ketika Saya belajar
dahulu. Setiap Saya tidak bisa mengerjakan soal dalam bentuk lisan ataupun
tertulis, di akhir pembelajaran, seringkali Saya mengeluarkan air mata. Bukan
karena Saya childish dan innocent. Bukan karena itu, melainkan
Saya menyesal mengapa Saya tidak belajar dengan rajin sebelumnya. Apa yang
dirasakan siswa itu sama dengan apa yang pernah Saya lakukan. Di bangku kuliah
pun, di awal semester, Saya masih ingat ketika UTS Grammar, Saya tidak belajar
pada malam harinya dan ketika test Saya benar – benar merasa semuanya sesak dan
tidak ada ruang untuk bernafas. Buntu. Takut. Pada akhirnya, Saya pun
melampiaskan rasa kesal itu dengan menangis. Saat itu, Saya tidak malu menangis
di depan semua kawan – kawan. Yang ada di otak Saya hanya mengapa Saya tidak
belajar? Mengapa Saya tidak belajar? Dan mengapa Saya tidak belajar? Sejak itu,
Saya pun belajar sedikit demi sedikit dan Alhamdulillah..sekarang air mata
selepas test pun tidak pernah menghampiri Saya. Seperti itulah perasaan kita
ketika hati tidak sinkron dengan otak.
Dari
kejadian di sekolah tadi, Saya belajar hal baru lagi yakni “Untuk menjadi bisa itu, kuncinya hanya
mencoba. Mencoba adalah proses dimana kita bisa merasakan dan menilai apakah
itu sudah sesuai dengan hati nurani kita. Menangis pun menjadi alternative
paling ampuh untuk mengekspresikan perasaan kita. Namun jangan jadikan air mata
sebagai tameng untuk kita tidak mencoba”. Terimakasih.
16.08 Addirasat Islamiah School
Firdha Yunita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar