Minggu, 20 Juli 2014

Thursday..oh..Thursday

July, 10th 2014
Bismillah.
            Alhamdulillah..masih bisa berjumpa dengan hari Kamis lagi. Hari Kamis adalah hari yang saya nanti – nantikan di sini. Mengapa seperti itu? Ketika tiba hari Kamis, Saya selalu berfikir bahwa Saya sudah melewati 1 minggu ini dengan segala aktivitas yang mengesankan. Selain itu, di hari selepas Kamis, Saya bisa menggunakan waktu untuk beristirahat dan mengerjakan berbagai tugas yang masih menumpuk saja. Minggu ini, deadline Saya adalah menyelesaikan artikel yang sudah kadaluwarsa ini. hmm… inilah yang membuat Saya sulit untuk bisa menajdi lebih baik. Menyadari bahwa ketika titik jenuh menyergap, semuanya kosong. Tidak ada hasil apa – apa selama berminggu – minggu. Namun, saat ini Saya akan belajar untuk menyelesaikannya sedikit demi sedikit. Apapun hasilnya, yang terpenting adalah prosesnya. Proses menjadi sebuah hal yang bisa Saya katakana sacral karena dengan proses yang tidak mudah itu, kita bisa belajar salah satunya yakni arti perjuangan.
            Hari ini kelas terakhir yang Saya ajar adalah kelas M – 3 / 2. Pertemuan kali ini, Saya sengaja untuk tidak menulis karena sepertinya murid – murid sudah letih. Sebagai gantinya, Saya menyediakan 4 buah kartu bergambar yang mana meminta 4 orang siswa untuk maju menyebutkan warna apa saja yang ada di setiap kartu yang mereka pegang. Ketika 1, 2, dan 3 siswa menyelesaikan tugas mereka untuk menyebutkan warna itu dalam bahasa inggris, tiba giliran siswa terakhir untuk maju, ternyata terjadi sebuah trouble yang tidak pernah Saya duga sebelumnya. Tak disangka, siswa yang seharusnya maju dan menyebutkan warna – warna itu mendadak saja dia meneteskan air mata. Matanya merah, lubang hidungnya membesar, dan badannya pun nampak gemetar. Awalnya Saya fikir hanya bercanda, namun ternyata itu fakta. Tidak Saya ketahui sebelumnya, bahwa dia mengalami fase demam panggung. Dia takut dan malu jika melakukan kesalahan. Dia tidak ingin untuk mencoba dan mengalahkan rasa takutnya. Perasaan malu dan takut pada dirinya masih terlalu besar. Hal itu pun mengundang perhatian siswa yang lain. Kawan – kawannya pun tidak berhenti untuk menertawai tingkahnya. Namun, guru segera menasehati bahwa tidak baik berbahagia di atas penderitaan kawannya. Lalu, secara bergantian kawan – kawannya pun memberi semangat kepada 1 siswa itu untuk segera maju di depan kelas dan melakukan instruksi guru. Dia pun meminta untuk maju berdua ditemani kawannya. Guru pun akhirnya mendiktekan dan siswa pun menirukan apa yang diucapkan oleh guru dan kelas pun ditutup dengan derai tawa semua siswa.
            Sebuah kejadian yang tidak asing bagi Saya. Saya menjadi teringat ketika Saya belajar dahulu. Setiap Saya tidak bisa mengerjakan soal dalam bentuk lisan ataupun tertulis, di akhir pembelajaran, seringkali Saya mengeluarkan air mata. Bukan karena Saya childish dan innocent. Bukan karena itu, melainkan Saya menyesal mengapa Saya tidak belajar dengan rajin sebelumnya. Apa yang dirasakan siswa itu sama dengan apa yang pernah Saya lakukan. Di bangku kuliah pun, di awal semester, Saya masih ingat ketika UTS Grammar, Saya tidak belajar pada malam harinya dan ketika test Saya benar – benar merasa semuanya sesak dan tidak ada ruang untuk bernafas. Buntu. Takut. Pada akhirnya, Saya pun melampiaskan rasa kesal itu dengan menangis. Saat itu, Saya tidak malu menangis di depan semua kawan – kawan. Yang ada di otak Saya hanya mengapa Saya tidak belajar? Mengapa Saya tidak belajar? Dan mengapa Saya tidak belajar? Sejak itu, Saya pun belajar sedikit demi sedikit dan Alhamdulillah..sekarang air mata selepas test pun tidak pernah menghampiri Saya. Seperti itulah perasaan kita ketika hati tidak sinkron dengan otak.
            Dari kejadian di sekolah tadi, Saya belajar hal baru lagi yakni “Untuk menjadi bisa itu, kuncinya hanya mencoba. Mencoba adalah proses dimana kita bisa merasakan dan menilai apakah itu sudah sesuai dengan hati nurani kita. Menangis pun menjadi alternative paling ampuh untuk mengekspresikan perasaan kita. Namun jangan jadikan air mata sebagai tameng untuk kita tidak mencoba”. Terimakasih.
16.08 Addirasat Islamiah School

Firdha Yunita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar